Mohon tunggu...
Rita Mf Jannah
Rita Mf Jannah Mohon Tunggu... Freelancer - Pelaku Pasar Modal, Pengamat Pendidikan, Jurnalis, Blogger, Writer, Owner International Magazine

Menulis sebagai sebuah Kebahagiaan dan Kepuasan, bukan Materi

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Konflik Israel-Palestina Tak Beda Jauh dengan Konflik Rusia-Ukraina, Kenapa Dunia Pilih Kasih?

6 Maret 2022   13:10 Diperbarui: 10 Maret 2022   20:03 1286
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak-anak korban perang (pic: unian.info)

Kekaisaran Rusia pada abad ke 19 menguasai Chechnya, akibatnya, bangsa Chechen dan Ingush yang merupakan penduduk asli dari wilayah tersebut memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan mengungsi ke Timur Tengah.

Saat pemerintahan Uni Soviet runtuh di tahun 1991,  Ingushetia memilih untuk berdiri menjadi negara republik di dalam Rusia. Sementara Chechnya mendeklarasikan kemerdekaannya. Akibatnya tahun 1994 hingga 1996 Chechnya yang ingin mempertahankan kemerdekaannya diperangi oleh Rusia, sama persis dengan yang terjadi pada Ukraina saat ini. Meskipun perang itu berakhir dengan perjanjian damai, namun di tahun 1999 Rusia kembali menginvasi negara tersebut, yang melahirkan kesepakatan sepihak dari Rusia pada tahun 2003 bahwa Chechnya harus tetap menjadi negara bagian Rusia dengan imbalan kekuasaan yang lebih besar.

Sebelum kesepakatan terjadi, pada 2002, gerilyawan-gerilyawan Chechnya melakukan penyanderaan di sebuah gedung teater Moskow, Rusia, demi meminta pembebasan kawan-kawannya yang dipenjara oleh pemerintah Rusia saat itu. 

Namun bukannnya perundingan yang dilakukan saat itu, namun justru pasukan elite Rusia menggunakan gas beracun dalam proses pembebasan sandera. Bahkan menurut Kepala Departemen Ilmu Racun Klinik Universitas Munich Jerman Thomas Zilker dan Andrei Naumov, mantan sandera yang selamat, gas yang digunakan pasukan elite Rusia lebih ganas dari khloroform, zat bius, sehingga banyak sandera yang tewas, termasuk seluruh gerilyawan Chechnya meninggal dalam senyap.

Memang Rusia sering melakukan kekejaman diluar rasa perikemanusiaan terhadap Chechnya, demikian terhadap Ukraina. Peristiwa Holodomor dan perebutan semenanjung Crimea merupakan beberapa contoh yang membuat Ukraina 'emoh' menjadi bagian adari negara beruang putih itu lagi.

Memakai tentara Chechnya sebagai bagian tentara Rusia untuk menginvasi Ukraina,  dapat diindikasikan agar seluruh dunia kian memberi cap muslim memang terbukti teroris, dengan ikut mendukung invasi Rusia, membantu persenjataan dan tenaga. Disatu sisi Putin ringan pekerjaan dengan menerjunkan secara gratis tentara Chechnya, disisi lain tangannya akan bersih, sebaliknya caci maki akan diarahkan pada tentara Chechnya yang mayoritas muslim.

Disisi lain dari santernya berita, tentara Chechnya pun kabarnya terpecah menjadi dua kubu, mereka yang tetap menginginkan kemerdekaan dan tidak ingin bergabung dengan Rusia, serta mereka yang saat ini dekat dengan pemerintahan Putin. Terbukti adanya sebagian gerilyawan Chechnya di tempat persembunyian yang siap membantu Ukraina, sementara tentara Chechnya Pro-Rusia lainnya siap membantu Putin. Hal ini menunjukan bahwa Chechnya pun telah terbelah, mereka yang anti, dan mereka yang pro sudah pasti akan memperoleh kedekatan hubungan dengan Sang Penguasa Kremlin namun dengan resiko siap bersedia disuruh-suruh melakukan sesuatu, termasuk membantu negara menginvasi Ukraina. 

Kabarnya pemimpin Chechnya mengerahkan 12.000 militer dalam invasi Rusia terhadap Ukraina. Meskipun kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah yang dilakukan tentara Chechnya yang pro pemerintah adalah benar-benar dari kesungguhan hati, ataukah karena tekanan Rusia?" Jika dipaksakan tentu saja tidak akan berbeda jauh dengan nasiba tentara Rusia lainnya yang berperang tanpa persiapan matang, bahkan tak tahu kalau mereka akan diperintahkan untuk berperang.

Sanksi tak pernah berlaku: Israel bukan Rusia

Dalam menyikapi invasi Rusia terhadap Ukraina, persekutuan negara barat memang sangat luar biasa dalam bersuara. Berbagai sanksi getol diberikan, bahkan sanksi keuangan, yang tentunya membuat Rusia keder dan klepek-klepek. Namun anehnya hal tersebut tidak pernah berlaku untuk Israel, yang notabene berperilaku tidak beda jauh dengan Rusia dalam memperlakukan Palestina.

Sudah pasti hal tersebut tidak akan diberlakukan pada Israel, karena negara zionis ini merupakan bagian dari persekutuan barat. Jadi meskipun Israel sudah jelas melakukan genosida pada Palestina, tetap saja tak ada satu negarapun yang mempan memberi sanksi, apa tah lagi negara-negara barat terkuat sebagai sekutunya justru pura-pura menutup mata dan mengamini bahwa yang diperbuat Israel adalah sebuah pembelaan diri dari terorisme.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun