Mohon tunggu...
Jamalludin Rahmat
Jamalludin Rahmat Mohon Tunggu... HA HU HUM

JuNu_Just Nulis_

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Terima Kasih, Komik!

12 Juli 2019   23:39 Diperbarui: 15 Juli 2019   00:00 0 22 10 Mohon Tunggu...
Terima Kasih, Komik!
Ilustrasi membaca komik Jepang. (YOSHIKAZU TSUNO / AFP)

Huru-hara Komik
Kala itu mengajak sang anak --- Adib Farabi Eljami berusia 6,5 tahun --- bermain-main biasanya permintaannya bermain ke tempat ramai yang tersedia bom-bom car, keretapi putar, jumping box dan sebagainya yang terletak di Ruang Taman Hijau Imam Bonjol dan Tarandam di Kota Padang.

Tapi Adib justru minta bermain-main ke Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Barat di Jalan Diponegoro Nomor 4, Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang dan tiga kali saya pernah "memaksa" Adib untuk mengunjungi perpustakaan itu. Ada beda kali ini, Adib justru berkeinginan sendiri ke perpustakaan yang disebutnya dengan "bermain-main."

Di Perpustakaan ini tersedia ruang layanan anak-anak yang ada tempat mainnya, buku-buku anak-anak seperti komik, alat peraga. Ketika mengambil sebuah komik berjudul "Kungfu Boy"dan membacanya, Adib bertanya "Abi (Ayah) kan sudah besar mengapa baca komik?" Saya terdiam.

Membaca komik (Foto: Dokpri)
Membaca komik (Foto: Dokpri)
\Lalu saya pernah baca berita di Tirto.id tentang pernyataan seorang Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berinisal "FH" berkicau di akun Twitter-nya "Assalamualaikum, selamat pagi, Indonesia. 

Rajinlah baca buku. Jangan baca komik." Pernyataan "FH" ini mengundang kontroversial dan respon netizen terhadap kicauan tersebut yang telah di-retweet hingga sebanyak 1181 kali, 4805 likes, dan 489 replies itu.

Beberapa pertanyaan membebani kepala saya seperti sebegitu burukkah baca komik? Apa yang salah dengan baca komik? Tidak adakah sisi baik dari baca komik? Apakah komik tidak termasuk kepada spesies buku?

Menemukan komik (Foto: Dokpri)
Menemukan komik (Foto: Dokpri)
Pertemuan dengan Komik
Seingat saya pertemuan dengan komik terjadi di tahun 1999 ketika bersekolah setingkat Madrasah Aliyah gegara memiliki teman yang sangat suka membaca. 

Teman ini ketika sore sepulang sekolah dan hari libur diisi dengan membaca dan yang sering dibacanya adalah buku tentang pengembangan diri, majalah Sabili dan komik. Teman ini juga punya trik khusus ketika membaca yaitu menuliskan hasil bacaannya dan kamus yang setia mendampingi

Komik ini punya cerita menarik karena di Pasar Kota Padang Panjang lantai 2 kala itu ada beberapa taman bacaan -- kami menyebutnya TB-- yang menyediakan bacaan mulai dari koran lokal seperti Haluan dan Singgalang, koran nasional ada Kompas dan Republika, koran olahraga seperti GO dan Bola. Untuk baca komik per buku 500 rupiah sedangkan koran 1000 rupiah. Bermula dari baca komik inilah kemudian saya baru "berani" baca buku-buku "berat"yaitu buku ilmiah.

Pengertian Komik
Versi kbbi.web.id komik diartikan dengan cerita bergambar (dalam majalah, surat kabar, atau berbentuk buku) yang umumnya mudah dicerna dan lucu. Sedangkan menurut beberapa para ahli  seperti Franz dan Meier, komik adalah suatu cerita yang bertekanan pada gerak dan tindakan yang ditampilkan lewat urutan gambar yang dibuat secara khusus dengan paduan kata-kata.

Menurut Hurlock, komik adalah sebuah media yang dapat memberikan model serta dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan kepribadian anak. Komik juga dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi, sarana untuk menyampaikan cerita, pesan, dan bahkan sampai pada hal-hal yang berbau ilmiah sekalipun seperti halnya genre sastra anak yang lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2