Mohon tunggu...
Fajar Junaedi
Fajar Junaedi Mohon Tunggu... -

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, meminati kajian di bidang cultural studies, broadcasting dan supporter studies

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Mempertanyakan Genealogi Konflik Suporter Sepakbola di Indonesia

3 November 2011   09:40 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:06 1419
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Olahraga. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Oleh Fajar Junaedi

Perang batu antar supporter sepak bola kembali menghiasi pemberitaan, padahal musim kompetisi Indonesian Super League (ISL) 2010/2011 baru bergulir satu minggu. Perang batu antara Viking, bobotoh atau suporter layal Persib Bandung dengan warga Solo, yang tentu saja bias diidentifikasi sebagai Pasoepati, suporter Persis Solo terjadi di sepanjang jalur rel kereta api yang membelah Kota Solo (3/10).   Viking yang baru saja pulang dari tour away untuk medukung Persib yang bertandang ke kandang Deltras Sidoarjo, mendapat serangan di sepanjang jalur kereta yang berada di Kota Solo dan sekitarnya. Padahal di kota-kota lain yang dilalui rombongan Viking, nyaris tidak terjadi perang batu atau tawuran.

PT. Kereta Api Indonesia (KAI) yang beberapa hari sebelumnya mengalami kerugian material dan juga moral akibat kecelakaan kereta api yang terjadi di Pemalang dan Purwosari, kembali harus menelan kerugian material yang diakibatkan oleh kerusakan gerbong kereta api yang mengalami kerusakan parah akibat lemparan warga terhadap kereta api yang melintas. Pelemparan yang dilakukan warga ini dilakukan tidak hanya pada rangkaian kereta yang membawa rombongan Viking, namun juga rangkaian kereta api lainnya yang melewati Kota Solo, terutama kereta api yang dating dari arah timur.

Kerugian moral juga menimpa perusahaan negara yang menjadi satu-satunya operator kereta api di Indonesia ini. Rasa takut dan trauma yang menghinggapi para penumpang kereta api yang dilempari merupakan kerugian moral yang juga tidak bisa dikesampingkan. Padahal beberapa hari sebelumnya kecelakaan kereta yang menelan puluhan nyawa juga telah menjadi berita negatif bagi pelayanan kereta api di Indonesia.

Suporter sepak bola dan kereta api sepertinya adalah dua fenomena yang tidak bisa dilepaskan. Para supporter sepak bola saat mengadakan tour tandang mendukung tim kesayangannya sering kali memilih moda transportasi kereta api, sebagaimana yang dilakukan supporter Persib Bandung yang melakukan perjalanan ratusan kilometer dengan menggunakan kereta api demi sebuah loyalitas dan kebanggaan terhadap klub yang mereka dukung.

Jika ditelusuri, fenomena aksi mendukung tim sepak bola dengan menumpang kereta dalam jumlah massif tidak bisa dilepaskan dari andil Bonek, supporter Persebaya Surabaya. Para pendukung tim bajul ijo yang terkenal fanatik ini mengawali aksi mendukung tim kebanggaannya dalam berbagai pertandingan tandang yang mereka lakoni dengan jumlah massif. Puncaknya pada dekade 1980-an, ribuan Bonek membanjiri Senayan saat Persebaya berlaga di final Divisi Utama Perserikatan. Awalnya aksi mendukung seperti ini tidak menimbulkan gejolak sosial, namun belakangan ini aksi mendukung tim yang bertandang ke kandang lawan dengan menggunakan kereta api sering kali harus diwarnai dengan bentrokan fisik.

Pada musim kompetisi ISL 2009/2010, ribuan bonek yang menumpang kereta api Pasundan juga terlibat perang batu dengan warga Solo. Suporter Arema, Aremania, saat pulang mendukung Arema yang bertanding di final Piala Indonesia 2010 juga terlibat perang batu dengan warga Kota Kediri. Mereka terlibat aksi lempar dengan warga Kota Kediri dari atas kereta api yang mereka tumpangi.

Dalam istilah Bonek, jalur-jalur yang rawan keributan terutama daerah perbatasan dengan suporter lain disebut sebagai Ambalat. Istilah ini tentu merujuk pada perbatasan Indonesia dan Malaysia yang selama ini disengketakan. Sedangkan para Aremania menyebutnya sebagai Jalur Gaza, yang meujuk pada wilayah di Timur Tengah yang selalu panas.

Ada beberapa hal yang menyebabkan genealogi (asal-usul) konflik suporter sepak bola masih saja menjadi noda hitam dalam kompetisi sepak bola di Indonesia. Pertama, manajemen Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan Badan Liga Indonesia (BLI) yang masih juga belum profesional dan sarat kepentingan para pengurusnya. Terdegradasinya Persebaya Surabaya di musim ISL tahun 2009/2010 setelah tiga kali pertandingan yang seharusnya mereka lakoni melawan Persik Kediri urung diselenggarakan adalah contoh nyata konflik kepentingan yang mewarnai PSSI dan BLI. Pengurus klub ini, teruama manajer mereka Saleh Mukadar adalah figur yang dikenal kritis dan vokal terhadap kepemimpinan Nurdin Halid.

Kasus suap yang konon masih terjadi juga menjadi indikasi buruknya kompetisi di Indonesia. Terdegradasinya Persis Solo setelah kalah dari Persiku Kudus dalam play off Divisi Utama 2009/2010 juga diwarnai rumor adanya suap.

Tidak aneh jika kekecewaan terhadap penyelenggaraan kompetisi sepak bola profesional di Indonesia kemudian melahirkan akumulasi berupa rencana pembentukan Liga Primer Indonesia (LPI). Liga yang digagas oleh Arifin Panigoro ini konon akan menjadi alternatif baru bagi klub-klub sepak bola yang selama ini merasa selalu dirugikan oleh kebijakan manajemen dan regulasi PSSI.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun