Mohon tunggu...
Faiz Romzi Ahmad
Faiz Romzi Ahmad Mohon Tunggu... Wiraswasta - Mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam di Banten

Menulis adalah tanda bahwa kau pernah hidup

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Beragam Aktivitas Anak-anak di Bulan Ramadan

25 Mei 2019   06:54 Diperbarui: 25 Mei 2019   06:58 24
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak-anak Membangunkan Sahur - anakui.com

Sebagai seorang anak-anak yang harus dan masih dalam pengawasan orang tua keluar rumah pada saat dini hari adalah tergolong sebuah tindakan kenakalan. Tapi, para orang tua terkhusus di kampung memberikan rukhsah (keringanan) kepada anak-anaknya dan rukhsah tersebut diberikan saat bulan Ramadan tiba.

Aksi membangunkan sahur ini dilakukan oleh anak-anak dengan berskala alias berjilid-jilid, tidak hanya 1 periode sahur saja tapi secara berkelanjutan. 

Pada malam hari anak-anak sekreatif mungkin mempersiapkan alat musik (kentongan, galon, drum bekas) yang digunakan untuk membangunkan sahur pada dini hari nanti, alat musik seadanya ini terlebih dahulu dikumpulkan dan di simpan di basecamp, biasanya sih samping pos ronda atau musala kampung.

Setelah saatnya tiba, sesuai dengan kesepakatan kolektif, mereka berkumpul di titik kumpul dan siap untuk melakukan aksinya. Berjalan beriringan, konvoi dari barat ke timur, menulusuri jalan-jalan kampung sambil memukul alat musik yang menghasilkan irama merdu nan syahdu sembari meneriakkan, "sahur, sahur, sahur, sahur".

2. Ngabuburit

Sebenarnya ngabuburit ini berlaku untuk umum dan merupakan kebiasaan masyarakat adat Sunda dan Betawi ketika menunggu waktu berbuka tiba.

Tapi, anak-anak kampung juga memiliki corak ngabuburit tersendiri.  Setelah seharian menyepi di kamar tidur, menahan lapar dan haus juga hawa nafsu, mereka mengisi waktu menjelang berbuka dengan berjalan kaki atau menaiki sepeda, bergerombol pergi ke pusat perbelanjaan tradisonal.

Sekedar membeli makanan dan minuman yang mereka sukai untuk disajikan sebagai hidangan berbuka, atau bahkan membeli petasan cabe untuk dijadikan amunisi perang sesama anak-anak antar kampung.

Mereka berangkat dengan tangan kosong, pulang dengan membawa buah tangan.

3. Perang Sarung

Perang sarung ini kadang terjadi tanpa pemicu atau sumber konflik yang jelas. Perang sarung terjadi dengan seketika tanpa perencanaan dan tidak menggunakan skema perang atau taktik perang layaknya tentara.

Prosedural perang sarung ini sangatlah hemat caranya, perseteruan yang sifatnya periodik ini hanya bermodalkan alutsista sederhana, cukup dengan sarung yang di gulung lalu dilipat pada ujung sarungnya sehingga menyerupai pedang asasin yang dapat menikam musuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun