Mohon tunggu...
Fahrurozi Umi
Fahrurozi Umi Mohon Tunggu... Mahasiswa Tingkat 2, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.

Penulis pernah menempuh pendidikan Sekolah Dasar di MI al-Khairiyyah, Panecekan. Dan melanjutkan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama di Mts al-Khairiyyah, Panecekan. Kemudian meneruskan jenjang studi di Pondok Pesantren Modern Assa'adah, Cikeusal. Dan sekarang penulis berperan sebagai mahasiswa aktif di Universitas al-Azhar, Kairo.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ngopi Bersama Tuhan (Mengenal Ragam Tipe Orang Beribadah)

16 Agustus 2019   16:06 Diperbarui: 16 Agustus 2019   17:18 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ngopi Bersama Tuhan (Mengenal Ragam Tipe Orang Beribadah)
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQmooGsRy501MlC58sJapYt9akHVYsKplaEgpo0qUkOXKjaEn0C

Ngopi adalah semiotik/lambang untuk sensasi yang didapat darinya sebuah rileksasi dan kenikmatan, dimulai ketika  pertama kali mencium aromanya yang khas dan rasanya yang begitu sensasional. Saya memilih kata ini (ngopi) sebagai sebuah tanda yang melambangkan sebuah kenikmatan yang didapat dari suatu pekerjaan yang sedang atau telah dikerjakan. Berpagi-pagi saya akan mendudukkan permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini yaitu mengenalkan tipe seorang hamba ketika dia menghadap dan berdialog dengan Tuhannya pada momen ibadah, apakah yang dia rasakan ketika dia menunaikannya, seperti orang yang sedang menikmati secangkir kopi hangat kah atau justru sebaliknya yaitu seperti orang yang sedang memikul satu ton padi di atas punggungnya. Saya akan mengulasnya satu-persatu.

Filosof, ilmuwan dan dokter Ibnu Sina (980-1037) mengenalkan tiga tipe seorang hamba ketika dia sedang beribadah:

1. Tipe pertama ini merupakan tipe terbaik, adalah sebagai seorang arif/bijaksana, yaitu yang menyadari betapa besar anugerah dan jasa yang telah diperolehnya dan betapa bijaksana Tuhan dalam segala ketetapan dan perbuatan-Nya. Kesadaran ini mendorong sang arif untuk beribadah dan melakukan segala aktivitasnya sebagai "balas jasa"; bukan karena mengharap imbalan surgawi dan juga bukan karena takut neraka. Dari kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan, ia yakin di mana pun ia ditempatkan pasti penempatan tersebut baik. Apalagi sang arif menyadari pula bahwa dialah yang akan memperoleh manfaat ibadah yang dilakukannya dan Tuhan tidak sedikit pun memperolehnya.

Ini seperti yang dikatakan oleh seorang sufi kenamaan Baghdad imam Junaid (w. 298 H) dalam buku ar-Risalah al-Qusyairiyyah: "Hendaknya kamu bersama Allah swt (baca: beribadah/bertawakkal) tanpa mengharap apapun (berharap surga atau takut akan neraka)." Jadi, dia (seorang arif) ketika beribadah kepada Allah, itu karena dorongan cinta yang tumbuh dari keimanannya kepada Allah swt, dan juga karena nikmat dan rahmatnya-Nya yang telah Dia limpahkan kepadanya sehingga dia dapat hidup di muka bumi ini. Dia tak mengharapkan surga yang dijanjikan dan juga tak gentar akan neraka yang banyak ditakuti oleh manusia, akan tetapi dia memantapkan di dalam hatinya yaitu niat ibadah yang ditujukan hanya dan untuk Allah semata.

2. Tipe kedua adalah tipe pedagang yakni melakukan sesuatu demi memperoleh imbalan yang menyenangkan. seperti kisah Umar ra. Ketika itu udara sangat panas dan kerongkongan pun serasa terbakar. Dalam suasana seperti itu, Khalifah Umar r.a. meminta segelas air. Sebelum air dihidangkan, tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca ayat 20 dari surah al-Ahqaf Allah swt berfirman: "Dan ingatlah pada hari ketika orang orang kafir dihadapkan ke neraka. (Kepada mereka) dikatakan: "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik (kenikmatan) dalam kehidupan duniamu dan kamu telah bersenang senang dengannya, maka kini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah berbuat kefasikan." Kemudian ketika air yang diminta oleh Khalifah Umar dihidangkan, beliau menolak sambil berkata: "Terima kasih. Aku tidak jadi minum, agar kenikmatan yang disediakan untukku di akhirat nanti tidak berkurang karenanya."

3. Menurut sebagian pakar, selain tipe itu ada tipe lain, yakni sikap budak  atau buruh yang takut terhadap majikannya. Seseorang yang beribadah karena dorongan takut siksa neraka pada hakikatnya memperagakan sikap budak atau buruh terhadap Tuhan.

4. Tipe keempat ini dicetuskan oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati yakni seseorang yang melakukan ibadah secara otomatis tanpa pemikiran dan penghayatan. 

Beribadah tipe keempat ini adalah -bukan sebagaimana sang arif yang bersyukur, pedagang yang mengharap, dan budak yang takut- bagaikan robot yang tidak mengerti esensi dan tujuan yang dilakukannya. Ia bekerja sesuai dengan apa yang diprogramkan, sedangkan yang memprogramnya adalah seorang yang telah tenggelam dalam kesibukan duniawi. Tidak heran jika ketika melakukan shalat maka yang teringat adalah bisnis, kenikmatan duniawi, atau bahkan benda-benda kecil yang tidak bernilai. -Allah A'lam-