Mohon tunggu...
FAHMA MAMLU
FAHMA MAMLU Mohon Tunggu... -

Mahasiswa pgra

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Parenting dalam Keluarga, Pentingnya Orangtua Jadi Teman Anak

9 September 2018   15:52 Diperbarui: 9 September 2018   16:10 1895
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dalam dunia yang semakin modern ini, peran orangtua sepertinya mulai tergeser. Apalagi jika orangtua tidak ada tindakan untuk lebih menjalankan perannya terhadap anak.

Saat ini, tekonlogi canggih seolah menjadi dewa dimana anak-anak hanya bergantung pada hal-hal yang bersifat ajaib seperti gadget, televisi, komputer, dll.

Dengan kehadiran dewa-dewa tersebut, otomatis posisi orangtua bisa saja menjadi luntur dihadapan anak jika kita tidak pandai dalam memposisikan diri terutama dalam hal pengasuhan terhadap anak.

Banyak orangtua yang kerja banting tulang dengan alasan semua dilakukan untuk anak, untuk memenuhi kebutuhan anak.

Hal ini yang terkadang bisa memicu timbulnya tindakan-tindakan untuk anak. Orang tua akan jarang dirumah dan jarang sekali mengkontrol tindakan anak. Padahal sejatinya orangtua bertugas untuk memberi pengasuhan, pembinaan, perawatan, dan bimbingan yang baik kepada anak. Dengan kata lain orang tua memilki tugas Parenting kepada anak.

Lalu apakah pengertian PARENTNG?

Menurut Chabib Toha parenting merupakan suatu cara terbaik yang ditempuh oleh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak.

Pola asuh juga memiliki pengertian hampir mirip yang dikemukakan oleh Mustofa Al Ghulayani : menanamkan akhlak (budi pekerti) yang utama di dalam jiwa siswa (anak), menyiramnya dengan air petunjulk dan nasihat, sehingga tertanam kuat dalam jiwa dan membuahkan keutamaan, kebaikan dan suka beramal untuk kemanfaatan tanah airI.

Dalam hal ini, pola asuh yang diberikan oleh orangtua kepada anak harus sangat diperhatikan, karena nantinya pola asuh akan menjadi cerminan diri anak saat ia menjadi anggota masyarakat.

Orangtua modern kebanyakan kurang memperhatikan pola asuh anak dalam hal kejiwaan mereka, banyak yang menganggap bahwa materi bisa mendidik dan mengantarkan anak pada kebahagiaan, padahal jika dikaji dan diteliti lebih detail kebahagiaan anak bukan hanya bertumpu pada materi, namun juga perhatian dan kasih sayang yang diberikan orang tua.

Jadilah orangtua sekaligus teman untuk anak

Dalam kejadian akhir-akhir ini, banyak kasus negatif yang menyerang pada anak-anak. mulai dari pemakaian narkoba, pergaulan bebas, hingga perkelahian yang bisa mengakibatkan kematian pada anak.

Hal inilah yang harus menjad fokus utama orangtua dalam mengasuh anak. bertindak tegas dan menjelma menjadi sosok yang suka menceramahi anak bukanlah hal yang tepat untuk mengasuh anak generasi millenial.

Pikiran anak zaman sekarang sudah maju, tidak seperti orang orang dahulu yang sangat penurut kepada orangtua.

Oleh sebab itu sebagai orangtua harus bisa mencari strategi yang tepat supaya bisa mengarahkan hal yang baik kepada anak tanpa menyakiti atau membuat rasa jengkel pada diri mereka. Salah satunya adalah sebagai orang tua mecoba menjelma menjadi teman untuk mereka.

Saat orangtua mendekati anak seolah-olah seperti teman, maka anak akan merasa nyaman mengungkapkan ataupun menceritakan tentang dirinya. Karena selain sifat tergas, anak juga membutuhan sifat friendly layaknya teman saat berkomunikasi dengan orangtua.

Biasanya yang paling berperan aktif dalam keluarga adalah ibu. Maka dari itu interaksi antara anak dan ibu tidak boleh terjalin dengan buruk, karena akan berimbas pada perilaku sosial pada anak.

Ibu merupakan tombak utama dalam keluarga karena berhubungan dengan jiwa ibu yang yang penyayang dan sangat perhatian kepada keluarga. Seorang ibu harus mampu komunikator yang baik untuk suami dan anak dalam keluarga.

Lalu bagaimana tips-tips orang tua menjadi teman untuk anak?

Kali ini adalah tips bagaimana orangtua bisa menjelma menjadi sosok teman untuk anak, sehingga pola asuh yang tercipta dalam keluarga tersebut nyaman dan bisa diterima oleh anak:

Istri harus mampu menjadi teman untuk suami terlebih dahulu.

Sebelum menjadi teman untuk anak, maka istri harus mampu terlebih dahulu menjadi teman bagi suami. Karena apabila interaksi antara suami istri tidak berjalan dengan baik maka hal tersebut bisa menjadi penghambat komunikasi dengan anak pula, sehingga seorang ibu harus mampu menjadi penyeimbang inetraksi dalam keluarga.

Terimalah segala potensi anak

Dalam menjadi orangtua, apalagi seorang ibu kita harus selalu menerima potensi anak. jangan mudah memaksakan kehendak kepada anak karena hal tersebut akan membuat anak tidak nyaman dalam keluarga. Maka segala potensi yang ada dalam anak harus kita dukung dan memberinya suport selama potensi tersebut positif.

Jadi pendengar yang baik untuk anak

Anak pasti memiliki segala keluh kesah baik dalam berteman, masyarakat, ataupun lingkungan sekolah. Sebagai orangtua, kita harus mampu menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu kepada anak, kemudian baru memberi saran yang menenangkan untuk anak. jangan langsung menyalahkan anak saat anak melakukan kesalahan.

Libatkan diri dalam kegiatan anak

Saat anak melakukan kegiatan, jangan bertindak acuh terhadap anak. anak sangat senang seakali apabila sesekali orang tua mendukung kegiatan mereka bahkan include dalam kegiatan tersebut. Oleh sebab itu, saat orangtua memiliki waktu longgar maka lebih baik ikut menemani kegiatan anak sekaligus memberi pengawasan kepada mereka.

***

Sekian artikel saya tentang memberikan parenting kepada anak, semoga bermanfaat dan memberi hal posittif kepada orang lain.

Sumber Bacaan:
www.kompasiana.com/pakcah/smartparentingmenjadisahabatbagianak (diakses: minggu, 15.25 wib)
www.referensimakalah.com (diakses: minggu, 15.28 wib)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun