Mohon tunggu...
Fadly Bahari
Fadly Bahari Mohon Tunggu... Penulis - Pejalan Sepi

Penjelajah dan Pengumpul Esensi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ini Asal-Usul Nama "Jawa" Menurut Konsep Lokapala (Penjaga Mata Angin)

15 Juli 2020   08:00 Diperbarui: 15 Juli 2020   08:10 3773
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hasil identifikasi nama "Seth" menurut aksara Hanzi (dokpri)

Dengan asumsi bahwa gerak semu matahari pada siang hari dari timur ke barat membentuk sudut 180 derajat (setengah sisi bola bumi), dan dengan merujuk pada penentuan titik meridian 0  derajat berada di Greenwich (sebagaimana kesepakatan yang berlaku di dunia modern sekarang ini), maka pembagian zona waktu di masa kuno tersebut dapat kita lihat tersusun sebagai berikut: 

  • Zona jam 06.00 (terbit fajar paling awal) berada di garis bujur 180 derajat - posisinya di negara Tuvalu di Pasifik; 
  • Zona jam 09.00 (pagi) berada di garis bujur 135 derajat - posisi Waktu Indonesia Timur; 
  • Zona jam 12.00 (siang) berada di garis bujur 90 derajat - posisi Bangladesh/ wilayah teluk Benggala, dan sekitarnya; 
  • Zona jam 15.00 (sore) berada di garis bujur 45 derajat - posisi Mesir, Irak, dan sekitarnya; 
  • Zona jam 18.00 (terbenam matahari) berada di garis bujur  0 derajat, posisi Maroko ataupun Greenwich dan sekitarnya. 

Penjelasannya sebagai berikut...

Setelah matahari terbit di ujung timur, lalu bergerak ke arah barat, matahari butuh waktu 3 jam untuk tiba atau terbit di Wilayah Indonesia Timur (WIT), butuh waktu 4 jam untuk tiba dan terbit di Wilayah Indonesia Tengah (WITA), dan butuh waktu 5 jam untuk tiba dan terbit di Wilayah Indonesia Barat (WIB). 

Jadi, ketika matahari terbit di ketiga wilayah Indonesia ini, pada saat yang bersamaan di ujung timur bumi (Tuvalu) jam telah menunjukkan pukul: 9, pukul 10, dan pukul 11. Hal inilah yang mendasari orang-orang di masa kuno menyebut wilayah Nusantara sebagai "Negeri Sabah", yang berarti "Negeri Pagi". Kita ketahui, dalam bahasa Arab "sabah" berarti "pagi, yang mana identik dengan kata Subuh dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, Sabah atau Subuh pada dasarnya sama-sama berarti: Awal Hari, atau pagi.

Selanjutnya, Matahari butuh 6 jam bergerak ke arah barat untuk tiba dan terbit di wilayah bergaris bujur 90 derajat (wilayah Bangladesh dan sekitarnya), sehingga pada saat yang sama, di Tuvalu telah menunjukkan tepat pukul 12 siang. Wilayah Bangladesh ini kemudian disebut sebagai "Negeri Siang" atau "Negeri tengah hari" oleh orang-orang di masa kuno.

Hal ini dibuktikan dengan adanya toponim "Madyanagar bazar" yang terletak tepat di garis bujur 90 derajat di wilayah Bangladesh.

Toponim Madyanagar bazar di Bangladesh (dokpri)
Toponim Madyanagar bazar di Bangladesh (dokpri)

Madyanagar bazar tepat berada di garis bujur 90 derajat (dokpri)
Madyanagar bazar tepat berada di garis bujur 90 derajat (dokpri)

Dalam bahasa Sanskrit kata "madhyAhna" berarti siang atau tengah hari. Dengan demikian dapat diduga bahwa bentuk etiomologi Madhyanagar berasal dari kata "madhyAhna" yang berarti "siang" atau "tengah hari"; dan "nagar" yang berarti  "Negeri". Jadi, kemungkinan pada masa lalu daerah ini disebut: "Negeri madhyAhna" atau "Negeri Siang" atau "Negeri Tengah Hari". 

Adapun kata 'bazar' pada toponim "Madyanagar bazar" adalah bermakna "pasar". Jadi, secara keseluruhan, makna "Madyanagar bazar" kurang lebih adalah: "Pasar Negeri Tengah".

Dalam ulasan artikel yang lain "Temuan Jejak Orang Madyan, Aikah, dan Rass yang Disebut dalam Al-Quran", saya telah mengungkap pula jika kaum Nabi Syuaib yang bernama Madyan, yang dalam kitab suci diriwayatkan diazab oleh Allah akibat melakukan kecurangan dalam kegiatan perdagangan atau jual beli, sesungguhnya berasal dari wilayah ini. Strategisnya negeri mereka yang tepat berada di tengah antara timur dan barat, menjadikan wilayah mereka kemudian dijadikan pusat pasar yang melayani pedagang yang datang dari arah timur maupun barat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun