Fadli Dani
Fadli Dani Swasta

Pegawe Minyak yang belajar menulis :)) danifadli@gmail.com 082240404710

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Sikap Suami Ala Rosululloh

21 April 2017   22:06 Diperbarui: 21 April 2017   23:32 69 0 1
Sikap Suami Ala Rosululloh
khilafah.com

Malam yang insyaalloh diberkahi, dirahmati Alloh ini.

Penulis sedang dalam melaksanakan ibadah untuk mencari bekal ibadah.

Tidak sengaja saya menemukan artikel yang insyaalloh sangat bermanfaat ini, khususon bagi saya pribadi yang insyaalloh beberapa bulan lagi akan menempuh kehidupan baru, menggenapkan agama bersama wanita pilihan yang insyaalloh datangnya dari Alloh SWT dan umumnya bagi para calon suami, suami, calon ayah dan ayah.  Artikel ini menjelaskan bagaimanakah kita sebagi leki-laki harus bersikap agar bahtera rumah tangga kita penuh barokah, ketentaraman, nyaman sakinnah, mawaddah warohmah. Ya, mempunyai sikap menjadi suami Ala RosulullohJ

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lemah lembut terhadap keluarganya.”(HR. Bukhari Muslim).

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik kepada istrinya”. (HR Timidzi).

Para suami sepatutnya benar-benar menyadari, bahwa dalam pandangan Islam sebaik-baik laki-laki adalah laki-laki yang paling lemah lembut dan paling baik sikapnya kepada istri, keluarga, serta anak-anaknya. Jadi, jika seorang suami bersikap berangasan, galak, atau kasar, walaupn mempunyai pangkat dan jabatan yang tinggi, memiliki ilmu yang banyak, menyandang gelar mentereng, sebetulnya belum menjadi laki-laki yang baik. Memang, boleh jadi karena satu dan lain hal, istri terkadang membuat jengkel atau sulit mentaati suami.

Namun, sebenarnya yang paling penting untuk dipikirkan adalah kepribadian sang suami itu sendiri. Mengapa? Karena seorang suami akan sulit untuk mengubah istri atau anak-anaknya ke arah yang lebih baik, jika si suami sendiri belum megubah perilakunya menjadi baik. Ironisnya kadang-kadang suami lebih banyak menuntut dan menyalahkan istri apabila ada hal-hal yang dianggapnya tidak baik. Misalnya, ketika sang anak malas belajar atau beribadah, suami sibuk menyalahkan istri. Istri dianggap tidak bisa memperhatikan anak, tidak mampu mendidik, dsb. Padahal, persoalan mendidik anak bukan semata-mata tanggung-jawab istri.

Sesungguhnya kewajiban suami itu bukan mencari uang atau mencari nafkah lahir, tetapi seorang suami juga mempunyai kewajiban untuk menanamkan visi dalam rumah tangga. Hendak dibawa kemana rumah tangganya? Di samping itu, selayaknya seorang suami dapat menjadi suri tauladan istri dan anak-anak, serta mampu mengontrol moral keluarganya agar tetap terkendali. Suami pun memiliki kewajiban untuk menata kesempurnaan ibadah, serta kebaikan akhlak dan moral keluarganya. Oleh karena itu, mengurus rumah tangga idealnya menempati porsi atau alokasi pemikiran khusus dari seorang suami. Bukan cuma mengandalkan perhatian sepintas atau perhatian kedua setelah urusan pekerjaan.

Dalam hadis di atas, yang baik serta perilaku lemah lembut dari seorang suami memang sangat ditekankan. Tentu saja, Rasulullah Muhammad Saw teramat patut dijadikan sebagai sosok panutan suami ideal. Nabi Muhammad Saw begitu halus dan lemah lembut sikapnya kepada istri-istri beliau. Beliau tidak pernah marah dengan kata-kata kasar. Kalaupun beliau marah, beliau hanya akan mendiamkan saja. dan itu pun adalah bagian dari pendidikan yang beliau berikan kepada istrinya. Bahkan suatu ketika diriwayatkan bahwa saat Rasul pulang larut malam, ternyata Siti Aisyah sudah tertidur. Rasulullah tidak menggedor pintu lalu marah-marah. 

Begitu lembutnya beliau kepada istri, Rasulullah yang mulia pun tidur di teras rumah tanpa membangunkan Siti Aisyah. Di sini, berkali-kali disebutkan tentang kelembutan. Sebab walau bagaimanapun, seorang suami adalah pemimpin dalam keluarga. Dan kalau tidak hati-hati, seseorang yang merasa dirinya sebagai pemimpin, dalam skala apa pun, cenderung menggunakan kekasaran. Hal inilah yang nampaknya patut digaris-bawahi. Cobalah kita lihat masyarakat kita sekarang! Ada pencuri ayam, ditangkap ramai-ramai lalu dibakar sampai menggelinjang-gelinjang. Bayangkan! Bagaimana mungkin kita mempunyai peradaban senang melihat manusia dibakar? Naudzubillahimindzalik. Lalu apa hubungannya? Bisa jadi, semua ini merupakan salah satu indikasi bahwa rumah tangga kita masih banyak ditegakkan dengan kekasaran.

Seharusnya disadari bahwa kantor dengan rumah itu berbeda. Apalagi - maaf, ini hanya sekadar contoh - kalau di kantornya si Bapak adalah pelatih pasukan tempur, maka standar perilaku di kantor dengan di rumah itu harus berbeda. Di kantor, yang dilatih itu memang pasukan yang ketika mendaftar juga sudah siap dengan segala resikonya, tapi istri bukan pasukan tempur, istri pasukan dapur. Begitu juga jika Bapak adalah pelatih beladiri, maka jangan menjadikan anak-anak sebagai alat latihan, ditampar, disuruh jungkir-balik, merayap. dsb. Apa pun bentuknya, peraturan di tempat kerja dengan di rumah ini berlainan, sehingga untuk hal-hal tertentu jangan dijadikan standar perilaku di rumah.

Maka dari itu, sekarang usahakan satu saja, cobalah berlaku lemah lembut. Kekerasan di dalam Islam itu sangat menjadi altermatif terakhir, bahkan bersabar itu lebih baik apalagi kepada istri yang kita pilih sendiri. Dalam Al Qur'an surat An Nisaa ayat 19 Allah Swt berfirman:

"Dan bergaullah dengan mereka (istri) dengan cara yang ma'ruf. Kemudian bila kamu tidak meyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak."  (An Nisa. 19)

Apabila istri tidak taat kepada suami, bisa jadi suaminya belum layak ditaati. Suami harus berani mengevaluasi diri. Ibarat ada bisul terus dibelai, tentu orang menjadi marah bukan karena belaiannya, tapi karena bisulannya. Kekerasan itu bukan alternatif yang sangat penting, tapi lemah lembutnya yang bisa mendobrak kekerasan.

Aspek-aspek lain yang juga harus diperhatikan oleh seorang suami ketika mendidik keluarga adalah perkataan yang harus terjamin kebenarannya. Jangan sampai seorang suami berbohong sedikit pun kepada anak dan istrinya, kecuali untuk hal-hal positif yang hanya ditujukan untuk menyenangkan hati mereka, seperti memuji masakan atau dandanannya. Selanjutnya, bila memperingatkan sesuatu harus tepat situasi dan kondisi.

Jangan sampai ketika bicara tidak tepat sikapnya, karena orang yang sedih dengan orang yang gembira itu berbeda situasi hatinya. Lalu, jika berbicara jangan sampai menyusahkan. Suami yang baik, kata-katanya itu harus yang enak. Jangan bicara yang membuat istri tertekan. Misalkan, istri punya kekurangan pada tubuhnya, jangan disebut-sebut. Istri punya masa lalu jangan diungkit-ungkit. Istri punya keadaan orangtua yang punya suatu kekurangan, jangan sekali-kali dibeberkan. Jangan membuat orang susah persaannya. Dan terakhir, seorang suami yang baik itu, kalau berbicara dapat memberi manfaat.

Nabi Muhammad Saw sangat memuliakan sekali istri-istrinya. Di rumah membantu pekerjaan istri-istrinya. Bahkan Rasulullah Saw memanggil istrinya itu dengan panggilan kesayangan "Humariah" atau "yang kemerah-merahan". Artinya carilah apa yang membuat istri senang. Beliau benar-benar senang bercengkrama dengan keluarganya. Anak istri beliau dibahagiakan dan dimuliakan dengan bimbingan ukhrawi.

Seorang suami memang sudah seharusnya mampu membimbing istri agar berakhlak mulia. Kalau mempunyai uang, dibimbing supaya jadi ahli shadaqah. Kalau ada waktu, dibimbing supaya waktunya bermanfaat. Jadi apabila suami memberi uang ke ibu, itu belum tentu identik dengan kasih sayang, tapi jika diiringi dengan membimbing ibu menjadi ahli shadaqah, itulah kasih sayang.

Yang paling penting dari semua ini adalah selain suami harus berlemah lembut, jadi contoh, dan mendidik ini adalah bagaimana suami mendidik anak-anak agar dapat mengenal Allah dan bisa tahu arti hidup ini agar bisa mengarungi hidup di jalan Allah. Tidak cukup hanya bawa uang, tapi anak harus tahu bagaimana mensyukuri uang, bagaimana menafkahkan uang di jalan Allah. Kehormatan seorang suami bukan karena gelar, pangkat, kedudukan, harta, jabatan, atau popularitas.

Yang namanya kemuliaan itu kalau kita punya kemampuan untuk jujur pada diri sendiri dan senantiasa memperbaiki diri agar tidak menyimpang dari jalan Allah. Sehingga walaupun dia tidak dikenal, walaupun dia pekerja yang memungut sampah, walaupun dia pembantu di rumah, tapi jadi lebih bagus daripada majikannya yang status jabatannya yang lebih tinggi. Lebih dari itu, ia mampu membimbing keluarganya menuju ridha Ilahi. Wallahua'lam