Mohon tunggu...
Fachrudin Alfian Liulinnuha
Fachrudin Alfian Liulinnuha Mohon Tunggu... Hanya freelaner

Hanya ingin sekedar berbagi, bukan menggurui....

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

JNE Kopiwriting Yogyakarta, Sinergi JNE dan Kompasiana untuk UMKM Melek Digital

4 Oktober 2019   20:03 Diperbarui: 5 Oktober 2019   07:29 0 0 0 Mohon Tunggu...
JNE Kopiwriting Yogyakarta, Sinergi JNE dan Kompasiana untuk UMKM Melek Digital
Para narasumber JNE Kopiwriting Yogyakarta (Dok. Pribadi)

Para pelaku UMKM lokal pada saat ini dihadapkan pada tantangan berat bagaimana mereka bisa bertahan dan tetap survive dengan menyesuaikan pola kerja mereka sesuai tuntutan zaman agar tidak  semakin tertinggal.

Langkah-langkah yang kreatif dan inovatif harus segera dibuat oleh para pelaku UMKM dengan memanfaatan kecanggihan teknologi digital yang keberadaannya pada zaman sekarang tidak bisa dinafikan lagi. Masifnya pergerakan teknologi di era digital pada saat ini seharusnya menjadi peluang bagi UMKM untuk mengembangkan usahanya agar bisa naik ke level yang lebih tinggi. 

Lalu bagaimana sebenarnya langkah-langkah yang harus ditempuh para pelaku industri kreatif untuk menangkap peluang emas di era digital seperti saat ini? JNE yang berkolaborasi dengan kompasiana mencoba memberi jawaban tersebut dengan mengadakan kegiatan  JNE Kopiwriting yang mengangat tema "Menangkap Peluang Industri Kreatif di Era Digital". 

Acara ini sudah sukses digelar di Kota Bandung, Padang, Banjarmasin dan Malang. Dan pada pada hari Rabu sore tanggal 02 Oktober 2019, JNE Kopiwriting akhirnya singgah di Kota Yogyakarta. Bertempat di Silol Kopi & Eatery, acara ini dihadiri oleh kawan-kawan dari kompasianer jogja dan media, dihadirkan juga narasumber pengisi acara diskusi yang tentunya sangat berkompeten dibidangnya. 

Para narasumber yang hadir diantaranya adalah Ibu Lucy Irawati, Kepala Dinas Koperasi & UMKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Yogyakarta, Bapak Adi Subagyo, Branch Manager JNE Yogyakarta dan Ibu Tunjung Pratiwi owner Abekani yang merupakan usaha tas kulit dari Yogyakarta.

Acara dibuka langsung oleh Bapak Marsudi selaku Head Office Regional JNE Jateng-DIY, dalam sambutannya beliau mengingatkan bahwa UMKM saat ini harus paham terkait dunia digital bahkan kemudahan dan pendampingan sudah ditawarkan melalui berbagai layanan berbasis digital. Jadi para pelaku UMKM harus benar-benar melek Teknologi, membekali diri dengan ilmu-ilmu di bidang E-commere, packaging, dll. 

Bapak Marsudi (Dok. Pribadi)
Bapak Marsudi (Dok. Pribadi)
Ibu Lucy Irawati sebagai pembicara pertama mengungkapkan bahwa pertumbuhan UMKM di Yogyakarta saat ini cukup menggembirakan. Berdasarkan data tahun 2017, jumlah UMKM mencapai 23.000.

Tapi sayang, dari jumlah sebanyak itu, hingga Juli 2019 baru 3.246 UMKM saja yang sudah memiliki legalitas izin usaha. Maka dari itu Dinkop & UMKM DIY mencoba terus memberikan pembinaan dan  pendampingan UMKM seperti pelatihan produksi, manajemen kewirausahaan, hingga legalitas usaha. 

Ibu Lucy menambahkan  salah satu problem yang sering menghinggapi para pelaku usaha  ialah masalah inovasi dan kreativitas produk. Yogyakarta memang dikenal sebagai kota kreatif. Tetapi, kesadaran dari pelaku UMKM masih kurang. Produk-produk yang dipasarkan belum masuk kategori produk inovatif. Dari 23 ribu UMKM itu, kata Lucy, tercatat 81 persen diantaranya adalah usaha mikro, 15 persen usaha skala kecil dan hanya 3,25 persen kelas menengah. 

Pihaknya saat ini masih terus melakukan pendampingan dan menjembatani para pelaku UMKM agar bisa go public dan meningkatkan daya saing usahanya agar bisa naik level di tingkat internasional. Langkah-langkah yang untuk bisa menggapai tujuan tersebut adalah dengan melakukan Beberapa pendampingan, diantaranya adalah pelatihan produk produk, manajemen, packaging hingga pendampingan cara membangun kemitraan dengan pemodal. Selain itu, juga pendampingan terkait legalitas produk, pemasaran baik langsung atau atau tidak langsung termasuk yang paling penting adalah tentang digital marketing. 

Acara ini semakin menarik dan inspiratif ketika Ibu Tunjung Pratiwi berbagi cerita dan pengalaman tentang usahanya yang bernama Abekani. Usaha kerajinan produk berbahan kulit yang dirintis sejak tahun 2009 dan hanya bermodal 2 juta saja kini sudah sukses dan membuahkan hasil, produk-produk yang dikeluarkannya selalu dinanti para konsumen loyalnya yang tersebar di kota-kota besar seluruh Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN