Mohon tunggu...
Eyok Elabrorii
Eyok Elabrorii Mohon Tunggu... Penulis - penulis fiksi

Penulis yang mencintai blues dan air mineral.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

November Ini Tak Turun Hujan

14 November 2023   21:18 Diperbarui: 14 November 2023   21:31 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi oleh Elgen

"November ini tak turun hujan." Ojan tengadah setelah mengucapkan itu. Ia masih bingung -atau barangkali syok- sebab seusai mengajar di madrasah tadi, Aziza mengatakan bahwa ia telah hamil. Padahal baru kemarin lamarannya kepada Tuan Guru dipertimbangkan untuk diterima. Bagaimana mungkin sekarang ia harus berhadapan dengan keadaan semacam ini. Bayangkan saja, seorang ustadz terbaik pada sebuah madrasah kaliber dikabarkan menghamili seorang putri seorang kepala pesantren. Ini bukan hanya akan menjadi masalah pribadinya, melainkan juga akan merembet kepada hal yang lebih besar, perpecahan ummat barangkali. Mengingat seorang ustadz, tuan guru, beserta putrinya merupakan tokoh yang harusnya suci.

Ojan duduk di aula madrasah dengan ingatan tentang perkelahiannya yang sengit dengan Aziza. "Tak mungkin semudah itu, Za!" Aziza yang kalap itu tak hanya menangis, "Jadi begitu, mudah sekali kau katakan hal demikian. Ini anakmu, Jan. Umi sudah mulai curiga, sebab aku sering mual-mual." Ucapan Aziza itu yang membuat Ojan tak bisa tenang sampai saat ini. Putri yang lugu itu tak akan bisa menerima keadaan murahan seperti ini. Lebih-lebih, abahnya yang tuan guru itu membuatnya semakin merasa ingin hilang saja.

"Bagaimana jika Tuan guru mengetahui hal ini. Bagaimana dengan lamaranku."

Sementara hari semakin panas walaupun belum siang. Cuaca memang seperti itu sejak Juni. Katanya tahun ini kemarau akan lebih terik, terbukti dengan November yang tak pernah kedatangan mendung, apalagi hujan. Ojan mengingat-ingat kejadian itu. Malam itu tengah diadakan tabligh akbar di madrasah. Anak-anak pondok serta seluruh warga madrasah berkumpul di aula. Ojan yang ustadz itu bebas memasuki seluruh area asrama untuk memastikan bahwa tak ada yang tak ikut tabligh. Hingga ia bertemu Aziza di koridor asrama santriwati. Mereka saling memberi senyum serta saling menanyakan surat-surat terakhir yang mereka kirim, kemudian menyelinap ke dalam kamar salah satu santri lalu berlanjut pada kejadian memalukan itu. Tradisi pesantren yang sangat melarang pertemuan lelaki dan perempuan membuat satu kesempatan saja menjadi penuh birahi. Kungkungan semacam itu pada akhirnya menjadi semacam bumerang.


Siapa yang tak menyukai Aziza, putri tuan guru itu. Selain cantik, ia juga sangat lugu dan menguasai ilmu agama, membuatnya menjadi incaran seluruh ustadz. Ojan salah satunya. Ojan mengirimkan surat pertamanya kepada Aziza melalui seorang santriwati. Katanya kepada sanriwati itu, surat itu adalah catatan inventaris madrasah sebab mengirimkan surat cinta sangat terlarang di sana. Hingga, mereka terbiasa saling berkirim surat-surat. Mereka hanya akan bertemu di koridor madrasah ketika hendak masuk kelas untuk mengajar. Itupun sebentar, sebab bertemu terlalu lama lagi-lagi terlarang.


"Mengapa cinta harus seketat ini, Lale. Apakah aku salah jika tiba-tiba tidak menyukai aturan madrasah padahal aku tahu ianya bersumber dari agama kita. Cinta kita murni, kekasih. Lalu dengan apa mengatakannya jika bukan melalui jalan ini. Sementara aku tidaklah berani menghadapi Tuan Guru untuk mengkhitbahmu, serta tidak pula mempunyai keluarga untuk menyampaikan niat taaruf-ku. Lale, jika memang jalan ini salah, maka aku tetap suka. Aku berjanji, akan mengkhitbahmu jika aku sudah siap."

 Demikian tulis Ojan dalam salah satu suratnya yang berhasil membuat Aziza tak lagi terlalu berbangga sebagai keluarga seorang tuan guru. Beban itu terlalu berat, bukan karena tuan guru menghendaki calon mertua yang setara, namun secara tak langsung pastilah abah akan memilih yang paling terbaik di antara orang-orang baik itu.


Ojan menyapa Aziza dengan Lale, sesuai dengan nama depannya. Namun juga nama depan itu sebenarnya membuat Ojan gentar setiap memikirkan bagaimana caranya mengkhitbah Aziza sebab ia hanyalah ustadz di kelas, bukan keturunan Raden yang tentu sekelas dengan Aziza. Tentu hal itu akan menjadi salah satu pertimbangan Tuan Guru, mengingat bukan hanya ia yang berniat mengkhitbah, tapi juga ustadz-ustadz dari kalangan sesama bangsawan dan bahkan sesama tuan guru. Di tanah tempat pesantren itu berada, memahami ilmu agama adalah satu tingkat lebih tinggi dari darah bangsawan. Dan pastilah Ojan mengerti, jika semua pelamar memiliki pemahaman agama yang setara dengannya, maka yang menjadi pertimbangan tuan guru selanjutnya sudah dapat ditebak, sesuatu yang Ojan tak miliki.


"Ojan. Percayalah. Abah tidak akan meminta hal yang tak bisa kau perbaiki. Kau paham agama, dan aku mencintaimu. Barangkali itu cukup untuk menghadapi abah. Aku tidak akan peduli jika kau bukan keturunan Raden, sebab kau dapat mengimamiku tanpa itu. Aku pasti menunggu lamaranmu, ustadzku." Demikian tulis Aziza dalam salah satu suratnya.


***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun