Mohon tunggu...
Eyok Elabrorii
Eyok Elabrorii Mohon Tunggu... Penulis - author

Penulis yang mencintai air putih dan slow-rock

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Darte dan Cerita dari Gaza

27 Mei 2021   22:33 Diperbarui: 3 Juni 2021   07:11 118 7 2 Mohon Tunggu...

Kepada Danaanir Ghina

Demi Allah, saya harus sampai ke Jalur Gaza! Dengan lantang Darte mengucapkan hal itu di hadapan bapak seusai dinasihati. Sebelumnya Darte tidak pernah menanggapi berita-berita tentang negara dengan konflik berkepanjangan. Pekerjaannya sebagai konsultan sebuah perusahaan kontruksi membuatnya tidak sempat terlalu jauh memerhatikan hal-hal semacam itu. Dalam sepekan, bisa saja dia berada di berbagai kota untuk mengadakan pertemuan dengan klien perusahaannya itu. Selain itu, dia juga masih muda, dua enam tahun umurnya. Tentu persoalan perang bukanlah hal yang menarik bagi lelaki mapan di usia itu.

Namun, sesuatu telah mengubah pandangannya. Pada siang seusai salat jumat di sebuah basement pusat perbelanjaan, dia berjumpa dengan seseorang berpakaian ala timur tengah. Orang itu memberikan salam, lalu menyapa dengan ucapan yang sungguh tidak diduga olehnya, "Pertama kalinya?" Darte sangat terkejut. Bagaimana mungkin orang asing itu mengetahui bahwa ini adalah salat jumat pertama kali yang diikutinya selama satu bulan ini. Belum sempat dia menjawab, orang itu melanjutkan lagi, "Terlihat, sudaraku. Tidak ada cahaya Allah di wajahmu." Kali ini dia benar-benar tercenung. Apakah orang itu juga tahu bahwa hari ini salat jumatnya hanya karena seorang perempuan yang ditaksirnya ikut berbelanja dengannya di pusat perbelanjaan itu. Orang asing itu tersenyum, lalu pergi begitu saja.

Pada perjalanan mengantar perempuannya, Darte benar-benar tidak membicarakan apapun kepada perempuan yang duduk di sampingnya. "Kamu kenapa? Perempuannya bertanya, "Kenakan sabuk pengamanmu", hanya begitu jawab Darte.

Lalu keesokan harinya, setelah semalaman tidak dapat tidur dengan nyenyak, loper yang tiba di rumahnya memberitakan perang tengah memanas di Jalur Gaza pada halaman utama. Dibacanya berita itu benar-benar sampai melompat ke halaman tujuh untuk menuntaskannya. Bagi Darte, membaca berita itu seperti menemukan peristiwa perang antar negara pada era perang dunia dua, asing, purba, namun seolah seperti telah dikenalnya dengan baik. Tidak ada yang dapat dilakukan orang asing yang penduduk sipil dalam konflik semacam itu. Dia memutuskan untuk melakukan riset kecil-kecilan melalui gawainya. Pada saat membaca duduk permasalahan via internet itulah Darte menemukan sebuah iklan berisi ajakan melakukan pelatihan untuk dikirim ke Jalur Gaza. Dia bergetar dan menyimpan tautan itu.

Pada Jumat berikutnya, dia menuju pusat perbelanjaan itu lagi. Berharap bisa bertemu dengan lelaki bertampang malaikat seusai jumat yang lalu. Pada shaf satu, dilihatnya orang asing itu tengah menghitung tasbih dengan khusyuk. Darte menghampiri orang itu setelah beberapa saat menunggu. Orang itu menyebutkan namanya, Khosaini. Dia mengaku baru empat bulan menetap di sana. Dia adalah salah satu warga sipil yang berhasil dievakuasi dari Jalur Gaza oleh para relawan yang disebut sebagai saudara penyelamat di sana. Ketika Darte menunjukkan iklan yang disimpannya, Khosaini berbinar dan mengatakan bahwa itulah kelompok saudara penyelamat itu.

Darte tidak pulang, dia mengikuti lelaki itu menuju camp. Di perjalanan, Khosaini menceritakan banyak hal. Pertama, mengenai seorang gadis berusia 13 tahun yang bercita-cita menjadi astronot, "Bayan Kamal, gadis itu ingin terus hidup, karena itulah dia belajar sungguh-sungguh agar bisa memindahkan kita semua ke Mars." kenangnya. Ceritanya berlanjut pada Bashar Masri yang hendak membangun kota impian di utara Yerusalem, "Rawabi nama rancangan kota itu. Dibangun dengan keyakinan Masri bahwa suatu saat tanah kami itu akan aman dari segala perang. Bahwa orang-orang akan makan, beranak-pinak, dan membutuhkan kota untuk membangun peradaban." Khosaini berhenti bicara sebentar. Pandangannya beredar ke sepanjang perjalanan. Toko-toko. Pintu masuk perumahan. Tiang-tiang listrik. Juga beberapa anak kuliahan duduk-duduk di jajaran warteg dengan rimbun akasia di sela-selanya. "Nanti tanah kami akan seperti ini. Seperti tanahmu. Seperti impian Masri agar anak-anak seperti Bayan Kamal bisa terus belajar."

Darte tiba-tiba merasa bahwa apa yang dilakukannya sejauh ini tidak sebanding dengan orang-orang yang diceritakan Khosaini. Bahwa dia meraih magister tanpa kendala. Bahwa dia langsung disoroti sebuah perusahaan dan mapan tanpa halangan. Perjuangannya bukanlah perjuangan karena terlampau mudah dan hanya untuk diri sendiri. Setiba di camp, ada seratus dua yang tercatat namanya oleh kelompok saudara penyelamat. empat puluh tiga di antaranya masih anak-anak.

Saat itulah Darte menyatakan akan menjadi sukarelawan dan mendaftar untuk pelatihan di sana. Tidak ada keraguan lagi. Lagipula, hidup serba berkecukupan membuatnya seperti kehilangan tujuan. Kehidupannya yang ketat dengan bekerja, dan mencari hiburan di tempat-tempat gelap saat liburan menjadikannya semakin jauh dengan Allah, Tuhan yang dikenalkannya oleh keluarga sedari lahir. Terlebih pernyataan  pimpinan kelompok sudara penyelamat bahwa turun ke medan perang menyelamatkan hamba Allah adalah cara terbaik untuk mendekatkan diri kepada-Nya, membuat Darte bertambah yakin untuk pensiun dini dari pekerjaannya.

***

Darte tidak pulang ke rumahnya yang berada di perumahan elit pusat kota. Dia menyetir mobilnya ke arah selatan keluar dari pintu masuk kota. Dia memasuki jalan dengan pesawahan di kanan-kirinya. Matahari yang sudah tidak siang itu mengantar angin sejuk khas desa, angin kesukaannya sewaktu kecil dulu untuk mengudarakan layang-layang di tanah lapang dengan teman sebaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x