Mohon tunggu...
Eva Syilva
Eva Syilva Mohon Tunggu... Freelancer - Orang Kaili yang bercita-cita ke Arab Saudi

Saya sedang belajar membuat tulisan. Silakan dikoreksi jika keliru. :)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno

Berkenalan dengan Kupu-Kupu Endemik (Euthalia amanda) dalam Kelas Literasi Sains

26 September 2021   09:09 Diperbarui: 26 September 2021   10:47 757
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Euthalia amanda, kupu-kupu endemik di Parigi Moutong. (Foto: Nur Herjayanti)

Pagi itu, dua puluh siswa SD Inpres Pelawa bertandang ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sou Mpelava. Bersama tiga guru pendamping, siswa kelas 3 dan 6 itu datang untuk belajar menjadi 'peneliti cilik' dalam kelas literasi sains 'Berkenalan dengan Kupu-Kupu' yang merupakan rangkaian kegiatan Kampung Literasi Pelawa.

Bersama Kak Nur Herjayanti, citizen science yang concern pada kupu-kupu, kelas dibuka dengan memperlihatkan gambar seekor Papilio demoleus yang juga disebut kupu-kupu jeruk. Nama itu disematkan pada serangga bersayap cantik ini karena jeruk merupakan pakan utamanya. Papilio demoleus berwarna dominan kuning dengan bintik hitam. Rentang sayapnya mencapai 10-11 sentimeter, dengan kecepatan terbang sedang.

Selanjutnya, salindia memperlihatkan bagian tubuh kupu-kupu yang terdiri dari kepala, dada, kaki, sayap, mata, dan antena. Nur Herjayanti yang akrab disapa Kak Kol bertanya berapa jumlah kaki kupu-kupu. Para peserta antusias menjawab. Ada yang bilang empat, ada pula yang menjawab enam.

"Nanti kita cari kupu-kupu. Sama-sama kita hitung berapa jumlah kakinya." Ajakan itu disambut antusias.

Di sela-sela kegiatan, tiba-tiba seekor kupu-kupu melintas di pekarangan TBM Sou Mpelava. Bermodalkan jaring penangkap kupu-kupu yang dirangkai oleh Kak Moha, relawan Kampung Literasi Pelawa, kupu-kupu itu berhasil ditangkap lalu dimasukkan ke dalam stoples. Peserta semakin bersemangat mengikuti kelas.

Tuntas membahas bagian tubuh kupu-kupu, Kak Kol melanjutkan ke materi daur hidup yang terdiri dari telur, ulat, kepompong, lalu kupu-kupu.

"Karena ini pesertanya anak-anak, saya hanya jelaskan daur hidup sederhana yang lebih mudah mereka pahami. Kalau untuk orang dewasa, mungkin kita bisa membahas daur hidup kupu-kupu yang lebih rinci," jelas Kak Kol.

Berikutnya, kelas diisi dengan pemaparan seputar tumbuhan nektar dan tumbuhan pakan kupu-kupu. Warna-warni bunga pagoda, kembang merak, kembang asoka, tembelekan, bunga kenikir, biduri, buah keranjang, jeruk, serta maman pasir tampak di layar. Lebih seru lagi ketika peserta bisa melihat langsung bunga kembang merak yang tengah mekar di pekarangan TBM Sou Mpelava.

Suasana kelas literasi sains bersama Kak Nur Herjayanti
Suasana kelas literasi sains bersama Kak Nur Herjayanti

Hampir satu jam Kak Kol mentransfer ilmunya ke peserta kelas literasi sains yang merupakan anak-anak yang tinggal di Desa Pelawa, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Wilayah yang dilewati garis khatulistiwa sehingga kaya akan flora dan fauna. Tak terkecuali satwa endemik kupu-kupu seperti Euthalia amanda yang memiliki sayap cantik berwarna abu-abu gelap dihiasi bintik putih dan jingga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun