Eryani Kusuma Ningrum
Eryani Kusuma Ningrum Pengajar

Pengajar Sekolah Dasar... Suka jalan-jalan (travelling)... Suka berkhayal lalu ditulis... Suka menjepret apalagi dijepret... kejorabenderang.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Kenikmatan yang Hakiki Saat Berbuka

17 Mei 2018   22:24 Diperbarui: 17 Mei 2018   22:44 218 0 0
Kenikmatan yang Hakiki Saat Berbuka
Takjil Untuk Berbuka, dokpri

Konsisten! Kata itulah yang harus saya pegang untuk 30 hari ke depan.

Konsisten untuk apa?

Konsisten untuk tidak makan yang berlebihan dan tepat memilih makanan berbuka sesuai dengan gizi seimbang.

Namun apakah kata itu akan terpatahkan dengan manisnya biji salak atau legitnya kolak pisang di depan mata? Atau semaraknya mie bihun bumbu kacang dengan berbagai gorengan seperti bakwan atau tahu isi?

~~~

Pukul 16.00 WIB tepat di kota metropolitan sebelah utara bergeser ke timur, ya daerah Tanjung Priok, sudah ramai dengan masyarakatnya yang siap untuk ngabuburit. Ngabuburit akan selalu menjadi kegiatan yang asyik di bulan ramadhan untuk berkeliling sambil jalan-jalan sore plus mencari hidangan berbuka. Selepas sholat ashar, saya dan ibu pun tak ketinggalan meramaikan kegiatan asyik ramadhan ini. Ngabuburit berasal dari bahasa sunda yang asal katanya dari burit. 

Dalam bahasa Sunda burit artinya 'sore'. Ngabuburit dapat diartikan sebagai menunggu sore. Dalam bahasa sunda awalan nge dan suku kata bu berarti melakukannya berulang kali. Mungkin ini yang tak lepas dilakukan oleh masyarakat pada umumnya untuk menunggu waktu berbuka di bulan ramadhan.  Tak lepas pandangan saya mengamati sekeliling jalan dengan ramainya warga sekitar yang menjadi pedagang dadakan selama ramadhan ini. 

Namun ibu tak tergoda dan tetap menuju untuk singgah ke pedagang mie bihun favoritnya di pinggir komplek. Ia adalah ibu Yaya yang telah berjualan hampir 10 tahun di depan teras rumahnya. Dagangan yang ia jajakan khusus di bulan ramadhan ini antara lain biji salak/candil, kolak pisang/singkong, berbagai varian mie dan gorengan yang tak lepas dari bumbu kacangnya. Harganya pun bervariasi dimulai dari Rp. 1000 untuk tiap gorengan yang renyah dan enak. Ibu menjadi langganannya karena ibu Yaya menjaga kebersihan lapak dagangannya dan selalu menutupi makanannya agar terhindar dari debu.

Alhamdulilah akhirnya waktu berbuka tiba. Entah mengapa segelas teh manis hangat atau es teh menjadi keharusan yang hakiki untuk diteguk ditambah kunyahan gorengan yang renyah, kriuk-kriuk gitu bunyinya. Eiitss... namun kali ini saya harus sadar untuk tidak ikutan mengunyah kerenyahan tiap gigitan si tahu isi dan bakwan tersebut. Apalagi teh hangat yang saya buat tidak memakai gula alias tawar. Saya pun segera meneguk teh tawar lalu menyegerakan ibadah sholat maghrib dan selepas itu menyantap hidangan berbuka yang amboi rasaya.

Hidangan berbuka untuk hari pertama ramadhan ini adalah semangkuk sayur asem pipilan jagung dengan ekstra labu tanpa nasi dengan empal daging goreng buatan ibu yang spesial diasisteni oleh saya sendiri. Saya menyantapnya dengan penuh kenikmatan yang hakiki sambil melihat betapa asyiknya jika ditambah dengan kerenyahan bakwan yang telah dikunyah adik saya. Cocolan bakwan dan tahu isi ke kuah kacang lalu dikunyah kres-kres bunyinya, subhahanallah nikmatnya.

Aaiissh... ingat er konsisten!!!

Alhamdulillah semangkuk sayur asem itu akhirnya ludes dan bahagianya saya merasakan kenyang yang cukup dan tidak berlebihan. Sayur asem ini memang saya pinta dibuat istimewa dengan kuah kaldu daging dengan irisan labu yang banyak plus pipilan jagung. Dalam racikannya, saya melihat ibu menambahkan asem lebih banyak dari biasanya, "biar tambah seger" begitu katanya. Setelah setengah jadi, kuah bening sayur asem tersebut ditambahkan garam untuk penguat rasaya dan tentu tanpa vetsin karena dari dulu ibu tak terlalu suka menambahkan monosodium glutamate ke dalam masakannya. Mungkin menghindarkan anak-anaknya dari generasi micin, eh....

Sayur Asem buatan Ibu, dokpri
Sayur Asem buatan Ibu, dokpri
Jam dinding hampir menunjukkan ke angka 7 yang berarti sebentar lagi adzan isya akan berkumandang. Tiba - tiba ibu berkata, "kamu gak mau candilnya Er? Tinggal sedikit nih... ya lumayan untuk perasa daripada nanti gak bisa tidur karena nyesel gak makan candil".  Seketika saya ambil mangkok yang berisi 7 biji candil dan saya lahap seketika. Alhamdulillah memang inilah rasa yang sangat saya rindukan di ramadhan ini. Candil atau biji salak buatan bu Yaya yang hanya dibuat pada bulan ramadhan ini sungguh maknyoooss sekali. "Tenang mbak, kalau kurang besok kita beli lagi" sahut adik membuyarkan kenikmatan saya sesaat dan akhirnya sadar jika saya harus diet kembali.