Mohon tunggu...
Erusnadi
Erusnadi Mohon Tunggu... Freelancer - Time Wait For No One

"Sepanjang sungai/kali masih coklat atau hitam warnanya maka selama itu pula eksistensi pungli, korupsi dan manipulasi tetap bergairah "

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pencuri Sial

18 September 2022   22:53 Diperbarui: 19 September 2022   00:20 261
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

                                                                                   Dokpri

Orang-orang mengular takputus di alun-alun taman kota. Lampu sorot menerpa tubuh mereka membentuk bayangan yang rapat. Saling silang. Yang mana kepala, dan di mana kaki sudah sulit untuk diakui oleh masing-masing orang itu. Saking padatnya.

Di suatu bazar kuliner itu berhimpun demikian banyaknya aneka makanan, dan minuman  yang dijajakan.Sponsor yang menjadi penyelenggara acara ini dari merk terkenal. Takheran bila yang menjual maupun membeli dari beragam kalangan.

Sementara tampak tiap lapak itu tandas dibeli oleh yang pengunjung. Kedatangan orang tua, muda, dan anak-anak makin menambah semarak acara ini.

Namun beberapa jam kemudian mulai surut yang datang. Sebab sudah tidak ada lagi pilihan makanan maupun minuman yang dijual. Area pun kemudian menjadi sepi kembali.

Beberapa lapak terlihat sudah membenahi perabot yang digunakan untuk keperluan dagangnya ini. Tidak kurang tersisa empat lapak yang masih melayani pembeli sekadarnya. Tapi itu pun masih bisa bagi penjual secara santai membenahi perlengkapannya untuk tutup juga.

Termasuk di lapak yang menjual kue-kue kering ini. Seorang mamah muda sibuk menata tuperware kosong untuk ditempatkan pada kardus kosong satu persatu. Di meja lapak ia golekan begitu saja handphonenya di sudut meja dekat dengan dirinya.

Sementara terlihat seorang lelaki muda, tinggi besar memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Barangkali dua meter dari mamah muda ini. Ia sedang duduk di kursi sembari mengetukan jemarinya pada sisi kursi itu berulang-ulang. Pandangannya lurus ke arahnya.

Di tengah semua penjual yang sibuk membenahi barang-barangnya untuk kembali pulang, datang secara mendadak seorang yang tidak dikenal. Orang ini perlahan berjalan sembari matanya jelalatan ke arah tiap meja lapak itu.

Hingga akhirnya, ia sampai di meja lapak mamah muda ini. Mamah muda ini sendiri sedang membereskan perlengkapan dagangnya. Sementara suami, dan anaknya sedang membawa sebagian perlengkapan yang sudah dirapikan di kardus untuk diletakkan di bagasi mobilnya di lahan parkir.

Tapi karena sibuk itu, ia taklagi memperhatikan handphonenya yang dari merk terkenal, serta berharga lumayan mahal itu. Orang yang tidak dikenal inipun secara tiba-tiba mengambilnya begitu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun