Mohon tunggu...
enur kh
enur kh Mohon Tunggu...

satu kata kadang beribu makna, seribu kata merengkuh dunia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen: Jangan Terlalu Berharap

20 Juli 2014   03:21 Diperbarui: 18 Juni 2015   05:51 286 0 0 Mohon Tunggu...

JANGAN TERLALU BERHARAP

Part 1

Berharap adalah hal yang sangat menyakitkan. Ketika kamu melewatiku, aku berharap, ya! Berharap kamu dapat menyapaku. Tapi, kamu terus berjalan, berjalan menelusuri jalan. Entah, akan sampai pada titik dimana kamu dapat berhenti sejenak untuk beristirahat. Aku tak pernah lelah untuk terus melihatmu berjalan. Entah, angin apa yang membuatku terus ingin melihatmu dengan mata terpejam.

Hatiku selalu berkata”Berhentilah melihat dia dengan mata terpejam! Lihatlah dia dengan mata terbuka!, karena dari sinilah kamu akan tahu apa yang ingin dia tuju dengan terus berjalan”. Berbagai macam pelangi yang telah mewarnai hariku. Sampai pada saatnya, aku menemukan setitik warna abu. Aku tak pernah menganggap warna itu buruk. Karena, setiap warna mempunyai keistimewaan masing-masing. Di persimpangan warna abu, sedari dulu memang terlihat warna putih. Entah mengapa aku terus tertuju pada warna abu. Aku hanya bisa melihat satu warna, tanpa melihat di persimpangan warna itu, banyak warna lain yang lebih terang nan indah untuk melukis kisah seseorang yang selalu menepuk dadanya. Karena, kebahagiaan tak kunjung datang.

Part2

Berawal dari rasa kagum, ya! Rasa itu memang wajar ada pada setiap manusia normal. Tapi, karena kedekatan itu, aku perlahan lahan mulai menyukai seseorang yang mustahil menyukaiku. “Secara gitu! Dia itu kan pinter dalam semua bidang, mau akademik maupun non akademikjangan ditanya! Jago banget bro!”

Karena, keseringan bareng sampe-sampe hampir tiap hari aku ngomongin dia. Uh, gara gara sifatku yang paling nggak bisa kalo nggak curhat. Tiba-tiba suatu hari aku digosipin suka sama dia. Ya tuhan… aku bingung dengan perasaanku ini. Disisi lain, aku senang sekali, disisi lain aku juga sebel banget. Karena, tiap hari pasti aja kena gosip anak-anak kelas. Akhirnya aku curhat tuh sama temanku Ingka. Saat itu, aku pulang bareng sama dia. Kebetulan di angkot sepi. Jadi, itu kesempatan aku untuk mengeluarkan semua uneg-eneg aku selama ini. Dari situlah temanku Ingka tahu kalo aku suka sama seseorang. Ya orang yang aku suka itu bernama Dio. Dia adalah murid terpandai di kelas.

Part 3

Hari-hari aku lewati dengan senyuman. Tapi, senyuman itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Suatu ketika, aku sedang dudukdi depan beranda kelas. Saat itu, aku melihat wanita cantik keluar dari kelasku, ya, itu Dida. Sepertinya dia menuju perpustakaan. Beberapa detik Dida melangkah. Dio tiba-tiba keluar dari kelas dan berjalan mengikuti Dida. Ya tuhan! Sungguh sakit, sakit sekali melihat orang yang begitu aku sukai berjalan dengan orang lain.

Saat itupun aku tak bisa menahan air mataku untuk keluar membasahi pipiku. Setelah itu, aku langsung masuk kelas dan menangis, menangisi orang yang tak pernah menyukaiku. Saat itu, temanku Ingka dan Rana begitu aneh melihatku tiba-tiba menangis. Hari itu, aku memasang muka cemberut. Entah mengapa aku marah. Padahal kan aku bukan siapa-siapa dia. “Mungkinkah aku cemburu?”.

Part 4

Aku mencoba bersikap biasa padanya. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku selalu satu kelompok dengannya. Sungguh, ini anugerah Tuhan. Tapi, mengapa setiap aku bersatu dengan dia, kerjaannya bertengkar, bertengkar, dan bertengkar. Sampai pada suatu hari aku menyuruh dia mengambil berkas di salah satu senior eskul kami.

Sungguh, aku benar-benar tidak percaya, dia membentakku.” Udah deh sana! Sama kamu aja sendiri! Aku tunggu disini! “. Dengan emosi, aku berkata” Dioooo!!!!! Kamu itu gimana sih? Kita kansama-sama satu eskul, kamu tuh yaaa!!!ihhhhh….. nyebelin!”. Saat itu, aku berlari dengan emosi keluar dari kelas. Akhirnya, aku mengalah. Aku pergi mencari kakak seniorku di kelasnya. Eh, ternyata pas aku ketemu sama kakak seniorku itu bilang kalo berkasnya ketinggalan di rumah. Akhirnya, aku kembali ke kelas mencari Dio. Dan lebih parahnya lagi, dia ternyata sudah pulang dengan temannya. “Ya Tuhan apa salahku?”. Sambil berjalan aku menangis tersedu-sedu keluar kelas. Saat itu, aku sungguh membenci Dio. Dia benar-benar membuat emosiku semakin bertambah naik.

Part 5

Hari itu adalah hari dimana aku masuk sekolah. Aku sungguh sangat kedinginginan sekali, hari ini begitu cerah. Namun, badanku ini begitu dingin seperti yang baru dikeluarkan dari freezer. Entah, mungkin, karena keringat dingin yang keluar dari tubuhku ini membuat suhu tubuhku sangat dingin. Aku mencoba menahan rasa dinginku ini dengan berbincang bincang dengan temanku menanyakan soal ulangan.

Setelah itu, bel sekolahpun berbunyi. Akupun bergegas mengeluarkan buku pelajaran pertama yaitu bahasa sunda, dan saat itu adalah saatnya ulangan aksara sunda. Akupun melaksanakan ulangan dengan tenang. Sungguh aku tidak percaya, dia duduk di sebelahku. Tapi, aku mencoba bersikap seperti biasa. Karena aku tahu dia tidak ingin aku menunjukkan bahwa aku menyukainya. Ulangan telah aku kerjakan dengan lancar. Akupun keluar dengan hati riang. Aku duduk menyendiri didepan X-6.

Aku tidak berkata apa-apa, sedangkan teman-temanku sibuk membicarakan soal ulangan aksara sunda yang salah, aku tidak berkutik. Sungguh, ketika aku melihat dia keluar dan duduk berbincang-bincang dengan Dida aku begitu sangat cemburu. Tapi, aku juga tahu dia bukan siapa-siapa aku ini. “Ngapain aku cemburu?”. Lagian dia juga nggak mungkin suka sama seorang aku yang lemah dan bodoh ini. “Huhhhh…. Aku harus legowo !!!”.“Mungkin jika aku berada diposisimu aku sudah nangis darah kali melihat orang yang aku suka terus bersama dengan orang yang kita pikir juga menyukai dia”!, itu kata Ingka padaku.

Part 6

Hari-hari aku lalui seperti biasanya. Entah mengapa, perasaanku padanya semakin hari semakin berbeda. Ternyata, aku mulai menyayanginya, memperhatikannya. “Oh Tuhan… maafkan aku!”. Aku pikir dia juga bisa menyukaiku dengan tulus. Tapi, entah mengapa semuanya itu tidak seperti yang aku harapkan.

Suatu hari, aku dimarahinya abis-abisan. Karena, tugas kelompok kami belum terkumpul juga. Akhirnya, aku mencoba sabar dengan tidak meluapkan emosiku padanya. Akhirnya, keesokan harinya, aku bersikap cuek sama dia dan segera mengumpulkan tugas yang harus dikumpulkan saat itu juga. Dengan tenang, aku kembali duduk di bangku. Entah saat itu aku sebenarnya ingin sekali berkata, aku sangat menyayanginya. Tapi, sungguh aku tak berani.

Ulangan kenaikan kelas semakin dekat. Karena itu, aku semakin giat untuk tetap belajar. Sejujurnya, akutak mau dipandang bodoh oleh semua orang, terutama Dio. Saat itupun aku mendadak rajin, ya… meskipun tidak serajin kutu buku. Tapi, tak pernah terbesit sedikitpun kata lelah. Ulangan kenaikan kelas pun dimulai dangan hari pertama yang begitu aneh. Ya, orang yang begitu dekat denganku aku perhatikan dia selalu memperhatikan Dio. Ya, dia bernama Ana.

Aku juga tidak mengerti sama sekali, mengapa Ana selalu memperhatikan Dio sambil senyum-senyum sendiri, dan aku pikir itu hanya sekedar kelucuan yang dia buat saja. Tapi, aku semakin aneh, saat ulangan-ulangan berikutnya, Dio yang biasanya jarang memegang handphone. Sekarang begitu sering memegang handphone. Terlebih melihat Ana sang Ratu Facebook dan Tweeter. Sampai suatu hari aku diajak oleh mereka bermain-main di dalam wahana dalam pasar malam yang di adakan oleh lembaga pemerintaha kota. Tapi, saat itu, entah mengapa aku begitu merasa tak enak perasaan.

Part 7

Beberapa hari sebelum pembagian rapot, senior eskulku menyuruh aku dan anggotaku untuk membuat data program eskul yang baru. Akhirnya, akuSMS tuh si Dio.“ Untuk semua anggota besok diharapkan sekolah karena kita dititipkan amanat untuk membuat data program eskul angkatan kita, Terima kasih!”.

Keesokan harinya, aku membuat data program eskul bersama dengan anggota lainnya. Sebenarnya, aku ingin Dio yang membantuku, eh dia malah SMS “ aku datangagak siangan”. Huh.. disitu aku tak memperdulikannya. Saat aku selesai membuat data program eskulku yang kemudian aku setorkan pada pembina eskulku.

Beberapa hari kemudian, tepatnya hari minggu. Aku mendapat SMS dari Ingka dan Ana, mereka berkata akan bermain ke rumahku. Oleh sebab itu, aku segera bergegas mandi dan beres beres. Setelah itu, aku menunggu mereka sambil menonton film kesukaanku. Beberapa menit kemudian mereka datang dan aku langsung mempersilahkan mereka masuk dan duduk.

Kami mengobrol ala kadarnya saja. Akan tetapi, tiba-tiba aku melihat sesuatu di handphone Ana. Disitu, juga aku merasakan kejanggalan saat melihat wallpaper handphonenya terdapat tulisannama panjang Dio. Oh Tuhan… sesak sekali dada ini. Tapi, aku tak berani menunjukannya. Dan saat itupun aku bertanya pada Ana. “Na, kamu ke Dio ya?”. Aku bertanya sambil tertawa terbahak-bahak. Saat itu, aku pikir Ana akan menjawab tidak.

Tapi, ternyata diamalah bilang kalo ternyata aku telah telat. Ya… aku hanya bisa tersenyum mendengar penuturan dari temanku Ana, dia telah lama memendam rahasia ini pada semua orang termasuk aku. Disitu aku benar-benar tidak menyangka, Ana bisa jadian sama Dio. Karena aku tidak ingin melihat Ana teman dekatku sedih. Akhirnya, saat itu, aku tertawa dan bertanya-tanya bagaimana Dio bisa menyukainya. Walau sebenarnya dadaku begitu sesak.

Setelah Ana dan Ingka pulang, akupun mengambil air wudlu dan segera berdo’a. Dalam do’a aku menangis memohonkan pada-Nya agar aku turut berbahagia karena kebahagiaan temanku Ana. Aku begitu lega dapat menangis sekeras-kerasnya. Karena dengan ini, sesak dalam dadaku ini sedikit demi sedikit terhapuskan. Akhirnya aku mengerti bahwa kebencian itu dapat berubah menjadi rasa sayang yang amat dalam.###





VIDEO PILIHAN