Mohon tunggu...
Endro S Efendi
Endro S Efendi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Trainer Teknologi Pikiran

Praktisi hipnoterapis klinis berbasis teknologi pikiran. Membantu klien pada aspek mental, emosi, dan pikiran. Aktif sebagai penulis, konten kreator, juga pembicara publik hingga tour leader Umroh Bareng Yuk. Blog pribadi www.endrosefendi.com. Youtube: @endrosefendi Instagram: @endrosefendi

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

JusticeForAudrey, Ini Pemicu Pelaku Melakukan Bully pada Audrey

10 April 2019   23:24 Diperbarui: 11 April 2019   11:01 3792
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi. (Kompas/Jitet)

Lantas kenapa ketiga pelaku bisa melakukan perbuatan seperti itu? Anak berbuat, orang tua yang disalahkan. Umumnya orang akan berpendapat seperti itu. Sebagai hipnoterapis, saya pun akan berpendapat sama.

Anak yang berani melakukan kekerasan verbal maupun fisik, boleh jadi disebabkan pola asuh yang kurang tepat. Ingat, ini hanya sebatas dugaan. Namun berdasarkan temuan di ruang praktik, pola asuh memang sangat menentukan tumbuh kembang anak. Selain pola asuh, lingkungan juga ikut menentukan.

Coba perhatikan kasus Audrey. Betapa para pelaku itu sudah begitu tipis hati nuraninya. Tak hanya tega melakukan kekerasan, namun merasa tak bersalah ketika kasus itu muncul di permukaan. Ketiga terduga pelaku bahkan sempat berswafoto dan mengunggahnya di akun media sosialnya. Termasuk sempat mengunggah kalimat bernada menantang para warganet yang mengikuti perjalanan kasus ini.

Fakta lain dari warganet, apa yang mereka lakukan ternyata bukan kali ini saja. Kabarnya, para terduga pelaku yang merupakan satu kelompok genk itu sudah pernah melakukan pengeroyokan. Bedanya, kali ini mencuat ke permukaan.

Lantas, kenapa anak seusia itu bisa melakukan tindakan sadis? Kira-kira apa penyebabnya? Tentu saya pun tidak bisa melakukan penghakiman terlalu cepat. Harus ditelusuri dengan cermat bagaimana pola asuh dan kondisi lingkungan dari para pelaku.

ilustrasi #JusticeForAudrey - istimewa
ilustrasi #JusticeForAudrey - istimewa

Apalagi konon katanya para pelaku anak orang kaya atau punya jabatan. Maka boleh jadi pola asuh yang didapatkan selama ini selalu dimudahkan dan dimanjakan. Apa pun yang diinginkan selalu terpenuhi. Akibatnya, ketika ada sesuatu yang tidak sesuai keinginan, kekerasan dipilih menjadi jalan keluarnya.

Boleh jadi mereka sudah biasa melakukan pengeroyokan. Bisa dilihat dari bukti yang beredar di media sosial dan mengenali para pelaku. Ada rasa bangga dan puas memiliki identitas diri dari aksi yang dilakukan. Belum lagi ada yang menyampaikan bahwa mereka berani melakukan itu karena merasa selalu mendapat backing alias perlindungan kedua orang tuanya. Tentu tidak semua anak orang kaya dan punya jabatan seperti itu. Banyak pula yang baik dan mampu mendidik anaknya dengan baik.

Audrey memang korban. Tapi sejatinya, para pelaku juga korban dari ketidakmampuan orang tuanya memberikan pola asuh yang tepat. Yang menjadi pertanyaan mendasar, kenapa anak di bawah umur itu sampai berani melakukan tindakan begitu kejam? Apakah kekerasan dan kekejaman sejatinya sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari mereka? Bukankah sebuah kekerasan terus menerus, jelas akan memberikan dampak fatal secara psikologis.

Lagi-lagi saya ingin mengambil contoh nyata dari ruang praktik yang pernah saya lakukan. Beberapa kali saya mendapat klien dari keluarga yang seolah-olah baik, tapi nyatanya ada 'sesuatu' di baliknya. Umumnya masalah yang dikeluhkan adalah stress, emosi yang tidak terkendali, dendam, sakit hati, hingga trauma.

Ternyata, yang menjadi akar masalah dari persoalan di atas adalah pola asuh dari orang tua yang kurang maksimal memberikan kasih sayang. Fakta penting inilah yang perlu saya ungkapkan agar menjadi pelajaran penting bagi semuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun