Mohon tunggu...
Endik Koeswoyo
Endik Koeswoyo Mohon Tunggu... Penulis - Endik Koeswoyo

Endik Koeswoyo memulai karier menulis sejak tahun 2006. Hingga saat ini sudah 8 skenario lm layar lebar, lebih dari 25 judul buku dan novel, dan telah menulis lebih dari 100 judul lm televisi, series dan program televisi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Why Should I Get Married?

24 Mei 2012   16:49 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:51 246
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Judul tulisan ini emang aku bikin pake bahasa Barat, biar agak-agak keren dan kesannya aku ndak ndeso banget. Yes, benar 'why do i want to get married' kenapa saya ingin menikah? Pertanyaan paling galau yang sebenarnya susah untuk di jawab. Atau malah pertanyaannya gini, Why should I get married?

Suatu hari saya sedang jalan-jalan dengan 3 orang, 4 termasuk saya. Nah, anggap saja paling muda, 29 year old. Anyway ternyata teman-teman saya ini rupanya belum menikah, atau memang sengaja atau karena karier mereka atau terserah mereka deh alasannya apa. Yang jelas aku nggak ingin membahas soal mereka, karena takutnya nanti ada yang tersinggung atau apalah, hanya nyinggung dikit aja sebagai prolog buat tulisan ga papakan ya mas dan mbak? Ehemmm

Why should I get married?

Mungkin alasan yang paling sering diucapkan adalah because I love her, because I love him. So? I am married now. Okelah kalau begitu. Tetapi dari sebuah obrolan yang sentah berawal dari mana dan ujungnya di mana, ada satu rangkaian dari kisah nikah dan menikahi ini. Seorang sahabat saya tiba-tiba menunjukkan sebuah BBM pada saya, "Nih mas lihat! Modal nikah: 1. Rumah 200 juta. 2. Mobil 200 juta. 3. Resepsi 200 juta. Kalau gaji kita 3.000.000/bulan maka butuh 200 bulan atau 16,6 tahun untuk menikah. Wahhhh.... JEDERRR JEDERRRR!!! Rasanya pingin banget benturin kepala ini ke meja kaca di depanku. Padahal itu uang 600 juta dikumpul 16 tahun, terus kita nggak makan? Nggak minum? Argh...Argh....

Beryukurlah anda yang sudah punya warisan lebih dari itu, atau punya tabungan lebih dari itu atau punya uang sisa lebih dari itu. Dan segeralah menikah. Mungkin bagi saya, uang adalah kendala utama, walau sebenarnya dan pastinya akan banyak yang menolak argumentasi saya itu. Tetapi eh tetapi, menurut teman saya yang wanita karier, yang sudah sukses secara ekonomi dan nggak ada masalah dengan ekonomi, dia belum nikah juga loh? Why? Entahlah...

Ngapain sih nikah? Biasanya ada banyak dorongan dari orang sekitar kita ketika kita yang sudah matang ini dianggap belum juga mau menikah. Terpaan dorongan ini biasanya muncul dari orang tua, lebih khususnya ibu, "udah cepet nikah zanah! Mamah zudah pingin gendong cucuh!" biasanya kalimat ini yang muncul dari seorang Ibu.

Kalo anak-anak sekarang bisa dengan enetengnya jawab, "Oh... pingin gendong cucu ya Ma? Besok deh aku buatin, mau rekues nggak ma papanya siapa? Cristiano Ronaldo? Lionel Messi? Atau mama ngefans sama Roma Irama?"

Duh... bukan itu kali maksudnya mama. Cucu yang sah, bukan yang asal bikin! Jeng! Jeng! Intinya nikahlah dan nikahlah! Jangan ditunda. Gitu sih.... Tapi emang cinta itu mistik, kita nggak bisa segampang membalik tangan atau nunjuk-nunjuk gitu, "eh gue mau dong nikah sama elo! elo maukan nikah sama gue?" trus ceweknya bilang "OkeShip! besok kita nikah ya, eh bulan depan deh, pas ulang tahun gue! gimana?" "OkeShip!"

Semudah itu? Enggak kali. Jauh lebih rumit dari itu. Kita harus lihat dulu, denger dulu, rasakan dulu. Kayak lagunya Sheila On 7 itu. Lihat, Dengar, Rasakan! Dilihat fisiknya, hartanya, keturunannya, keluarganya, kesehatannya, dan bla-bla lainnya. Dilihat sendiri sudah OK, lalu dengarkan dari orang sekitarnya, kalau dilihat sendiri udah, didengar dari orang sekitar udah, satukan hati, cocokkan diri lalu RASAKAN. Bukan diicipi, tetapi mendekatkan diri dengan bahasa lain 'jadian' 'pacaran' atau 'ttm-an' atau apalah namanya. yang jelas merasakan itu butuh kedekatan. Tuh begitu caranya! begitu itu teorinya! Kalau pas dirasakan trus nggak cocok? ganti lagi? cari lagi?

Huhf.... aku hanya bisa menarik nafas panjang. Kalau dibahas terus nih tulisan nggak bakalan selesai. Okelah kalau begitu, sekian saja dari saya! Toh ini hanya sekedar catatan! Jangan terlalu dipikirkan soal tulisan ini, tetapi buat anda yang belum menikah pikirkan itu saja! #eh...

@endikkoeswoyo

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun