muthiah alhasany
muthiah alhasany writer/blogger, traveller, politician. Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jejak Berdarah Amerika Serikat di Timur Tengah

16 April 2018   22:02 Diperbarui: 17 April 2018   04:18 513 2 3
Jejak Berdarah Amerika Serikat di Timur Tengah
Presiden AS, Donald Trump dan staf (dok.MiddleEast)

Siapakah yang paling banyak merusak Timur Tengah?  Tidak lain adalah Amerika Serikat dengan dibantu sekutu-sekutunya.  Sedangkan kubu Rusia hanya berperan dalam sebagian kecil wilayah saja. Cadangan minyak dunia terbesar ada di kawasan Timur Tengah.

Kebutuhan akan minyak semakin meningkat dari masa ke masa. Padahal boleh dikatakan, negara-negara Barat tidak memiliki sumber minyak.

Demi memenuhi kebutuhan minyak dan meningkatkan perekonomian, maka Amerika serikat beserta pengikutnya harus mendapatkannya di Timur Tengah, dengan jalan merebut secara paksa. Dengan menguasai sumber-sumber minyak, maka negara=negara Barat bisa tetap eksis mengendalikan perekonomian internasional.

Hal ini sudah lama dilakukan oleh negara-negara zionis tersebut. Di setiap usaha merebut ladang-ladang minyak itu, mereka meninggalkan jejak berdarah dengan pembantaian terhadap penduduk pribumi. Cara mereka adalah dengan mengadu domba antar suku, kelompok dan agama di setiap negara yang dimaksud. Setelah konflik timbul, mereka mencari alasan untuk melakukan serangan dengan dalih mewujudkan perdamaian.

Kilas balik ke belakang, jejak berdarah yang ditimbulkan oleh kubu Amerika Serikat lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Negara yang paling berdarah adalah Irak ketika masih dipimpin Saddam Hussein. Media Barat menggambarkannnya sebagai diktator yang menindas rakyatnya. Karena itu Amerika Serikat menjatuhkan Saddam Hussein dengan janji kemerdekaan.

Namun selanjutnya setelah mereka berhasil membunuh Saddam Hussein,  rakyat Irak diadu domba sehingga terjadi perang saudara. Kriminalitas meningkat sehingga Irak menjadi salah satu negara yang dianggap tidak aman. Sementara di sisi lain, ladang-ladang minyak Irak diambil alih Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, dibagi di antara mereka sampai sekarang.

Amerika Serikat dan pengikutnya tidak puas dengan satu negara saja, mereka merangsek ke Libya dengan menjatuhkan Muammar Khadafi. Selanjutnya juga ke Tunisia dengan menyulut pemberontakan terhadap Ben Ali. Lalu ke Mesir  dan memaksa Presiden Mubarak mundur. Yordania juga sempat diguncang melalui demontrasi kepada Perdana Mentri Samir Rivai.

Sebagai bukti keterlibatan Amerika Serikat di balik gejolak politik negara-negara Timur Tengah, adalah apa yang terjadi di Mesir. Sebelum terjadinya revolusi yang menuntut Mubarak mundur, Amerika Serikat mendanai dan melatih organisasi Freedom House dan National Endowment for Democracy , Mereka diajarkan untuk membuat video, menyebarkan pesan dan memengaruhi opini masyarakat.

Persoalan aliran antara sunni dan Syiah menjadi alat yang jitu untuk mengadu domba umat muslim di wilayah Timur Tengah. Tidak hanya di Irak, tetapi juga Yaman yang kemudian diinvasi Arab Saudi dengan dukungan liga Arab. Sudah lebih dari 6000 orang tewas di Yaman, tetapi dunia internasional diam saja.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Suriah disebabkan negara-negara Barat ingin mempercepat terwujudnya penguasaan Timur Tengah yang agak tersendat-sendat karena beberapa negara sulit dijatuhkan. Padahal mereka sudah semakin terdesak dalam persaingan ekonomi. Mereka tidak menyangka bahwa perekonomian global semakin didominasi Cina dan Jepang.

Jika kemampuan ekonomi negara-negara Barat menurun, maka hal itu bisa memengaruhi kredibilitas mereka di percaturan politik internasional. Mereka tidak lagi dianggap sebagai penguasa dunia. Karena itu, Amerika serikat dan sekutu harus secepat mungkin mencari 'sapi perah' yang dapat mengalirkan devisa-devisa bagi mereka.

Di sisi lain,  negara-negara zionis itu masih mengalirkan darah di Palestina, Mereka mendukung penindasan Israel atas bangsa Palestina. Setiap hari korban berjatuhan, tetapi media-media Barat tidak memberitakannya. Media-media Barat yang sebagian besar dikendalikan Yahudi tersebut menyembunyikan fakta yang terjadi di jalur Gaza yang semakin memerah karena darah.