Mohon tunggu...
Muthiah Alhasany
Muthiah Alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Asmara di Tengah Bencana Efektif Membangun Kesadaran Penduduk Akan Bahaya Bencana

3 Juli 2017   16:57 Diperbarui: 3 Juli 2017   17:16 392
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Masih lekat dalam ingatan saya, ketika gempa melanda Yogyakarta pada tahun 2006 yang lalu.  Gempa yang berkekuatan 5,9 schala Richter itu menghancurkan ratusan ribu rumah dan menewaskan ribuan orang.  Kabupaten Bantul, sebagai daerah pusat gempa adalah yang paling parah.  Ada 4143 korban meninggal dunia dengan jumlah rumah yang rusak total 71, 763, itu belum ditambah rumah yang rusak sedang dan ringan. (sumber kompas.com)

Saya tidak berada di Yogyakarta waktu itu. Namun ada keluarga yang tinggal di sana dan menjadi korban gempa. Salah seorang sepupu saya tinggal di daerah Bantul beserta keluarganya. Betapa terkejutnya saya ketika mendengar kabar duka, bahwa putranya yang masih duduk di Sekolah Dasar, tewas dalam peristiwa tersebut. Anak itu tertimpa dinding rumah yang roboh ketika gempa terjadi. Nyawanya tak dapat diselamatkan, ia tewas seketika.

Akibat peristiwa tersebut, sepupu saya mengalami trauma. Ia tidak mau lagi tinggal di Bantul, bahkan ia meninggalkan Yogyakarta sepenuhnya. Kini sepupu saya tinggal di wilayah Jawa Barat. Syukurlah ia berhasil melewati masa-masa terberat dalam hidupnya  tersebut, dan telah dikaruniai anak lagi oleh Allah SWT.

Namun sepupu saya hanya satu di antara sekian banyak korban. Begitu pula dengan setiap bencana yang terjadi di negeri ini. Sebagai negara yang rawan bencana, patutlah kita mengupayakan agar korban bisa diminimalisir. Cara yang paling efektif adalah dengan media massa yang sangat digemari oleh masyarakat, yaitu Radio. Karena itu saya mengacungkan jempol untuk BNPB yang menggandeng jaringan Radio sebagai sarana memberi kesadaran masyarakat akan bahaya bencana alam.

Sandiwara Radio

'Asmara di tengah Bencana' adalah sebuah sandiwara radio yang diluncurkan pada tahun lalu. Sandiwara radio ini mengambil setting kerajaan di pulau Jawa pada masa dahulu, tentang dua anak manusia yang saling mencintai tetapi terbentur masalah perbedaan kasta. Kisah cinta antara seorang putra bangsawan/ningrat dengan gadis biasa. Kisah semacam ini selalu menarik bagi masyarakat di daerah. Kita tentu mengingat bagaimana Saur Sepuh menjadi sebuah fenomena.

Namun perbedaan antara 'Asmara di tengah bencana' dengan sandiwara radio lainnya, sandiwara ini mengandung pesan moral tentang pentingnya kesadaran masyarakat akan bencana alam yang datang sewaktu-waktu. Sandiwara radio Asmara di Tengah Bencana adalah kemasan yang paling unik dan menarik untuk memberi penjelasan dan keterangan mengenai bencana alam.

Diputar secara berkala di 80 stasiun radio (60 radio swasta dan 20 radio komunitas) yang tersebar di 20 provinsi, sandiwara ini  berhasil menyedot perhatian para pendengarnya. supaya pembelajaran tentang sadar bencana yang ditanamkan melalui Asmara di Tengah Bencana tidak menguap, maka BNPB kembali menggelar sandiwara tersebut. Asmara di Tengah Bencana bagian 2 diperdengarkan semenjak awal Juni hingga minggu pertama Juli 2017. Artis-artis yang mendukung sandiwara ini juga sebagian besar masih sama, yang juga telah menyukseskan sandiwara-sandiwara lainnya Ada Feri Fadli yang menjadi pemeran utama. 

Kelebihan radio

Media Radio masih memiliki keunggulan yang tidak ada pada media lainnya seperti televisi ataupun komputer. Terutama untuk negara yang  memiliki wilayah yang sangat luas seperti Indonesia.  Daerah-daerah di Indonesia sangat beragam posisi geografisnya. Ada gunung, hutan dan laut. dengan ribuan pulau besar dan kecil, maka tidak ada media yang sangat efektif selain radio.

Mengapa demikian? bagaimanapun televisi masih tergantung oleh menara pemmancar yang tinggi. Kalau tidak, sinyal tidak akan bisa diterima oleh mereka yang tinggal di pegunungan atau juga di pulau-pulau terpencil. Karena itulah penduduk perbatasan  seringkali lebih mudah menangkap siaran dari negeri tetangga. Menara pemancar negeri tetangga lebih dekat dan  lebih kuat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun