Mohon tunggu...
Empi Muslion
Empi Muslion Mohon Tunggu... pengembara berhenti dimana tiba

Alang Babega... sahaya yang selalu belajar dan mencoba merangkai kata... bisa dihubungi : empimuslion_jb@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cangkul Abak

24 Agustus 2019   09:38 Diperbarui: 24 Agustus 2019   09:56 0 2 1 Mohon Tunggu...
Cangkul Abak
Foto : dokpri

Ketika saya tamat SMP dan mau melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA, dimana saya tidak tinggal bersama orang tua lagi, tetapi harus kos dan mandiri diluar kecamatan kami. 

Oleh kedua orang tua, saya tidaklah diberikan hadiah apalagi barang mewah, pun saya juga tidak diwanti wanti ini dan itu.

Oleh Abak (Ayah) saya, saya dibuatkan sebuah tangkai cangkul yang amat kuat terbuat dari kayu kopi, yang mana kayu kopi merupakan kayu yang paling baik dan tahan lama bisa berpuluh tahun digunakan, menjadi kayu cangkul terbaik bagi petani di kampung kami.

Kemudian Abak saya membeli sebuah cangkul besi yang paling bagus, diasah sedemikian rupa, sangat tajamnya. Kayu dan cangkul besi tersebut beliau buat sedemikian pas sehingga bisa dibuka pasang.

Saat saya dinyatakan diterima di sebuah SMA yang cukup terbaik saat itu di Kabupaten kami, yakni SMA 1 Painan, Bapak saya mengajak saya berbincang, dengan wajah datar, Beliau berujar..

"Empi..."

"Abak tidak bisa mengajari kamu dengan pena dan buku, Abak hanya mampu membesarkan dan mengajari kamu dengan tulang delapan karek, biarlah Abak membanting tulang asalkan kamu Nak tetap sekolah."

Kemudian Abak saya mengambil sebuah tangkai kayu dan cangkul dari bawah kursinya..

"Jika Abak telah tiada atau jika Abak tidak mampu lagi bekerja, Abak tidak mampu lagi membiayai kamu sekolah, maka mungkin dengan cangkul inilah kamu bisa membantu ibumu mencari nafkah, melanjutkan sekolah dan kehidupanmu.."

Saya terdiam..

Belum mengerti maksud Abak saya itu, saya pandangi kedua tangan saya yang terjuntai, saya lihat tangkai cangkul kayu kopi yang dibuat Abak, kiranya tangkai cangkul itu lebih besar dari tungkai dan pergelangan tangan saya...


Abak melanjutkan pembicaraannya..

"Nak,walau Abak akan sangat menderita di dalam kubur jika kamu hidup tetap seperti Abak, mengetam kayu, mengayak pasir, mengecor semen, apalagi nak melihat kamu bekerja di pinggir jalan menggali lubang-lubang galian untuk listrik atau selokan jalan menggunakan cangkul ini."

Beliau terdiam beberapa saat, dengan mata pana dan wajah bergetar, berkata..

"Nak... kalau bisa, jangan sampai cangkul ini kamu pergunakan, kecuali amat terpaksa atau hanya untuk mencangkul menyalurkan hobimu bercocok tanam, dan simpanlah cangkul ini baik-baik."

Walau saat itu saya merasa Abak saya meledek dan bergurau semata, dan saya jawab pula dengan bercanda.

"Iya... Abak, cangkul ini akan saya jadikan teman hidup..."

Namun sekarang saya baru tahu betapa dalam dan kuatnya maksud yang tersirat dari pesan dan titipan cangkul Abak saya itu. 

Jika di maknai secara filosofis, cangkul bukan sebatas alat untuk bekerja, cangkul bisa diartikan sebagai sebuah pena, cangkul bisa diartikan sebuah buku, cangkul bisa diartikan sebuah alat produksi, cangkul bisa dikatakan alat kemandirian, cangkul bisa di maknai bekerja keras, cangkul bisa di maknai asal usul dan jati diri.


Sebaliknya, cangkul juga bisa menjadi alat ketakutan bagi saya, jika tidak sukses dalam pergaulan, pendidikan dan pekerjaan. Saya bisa jadi, juga akan kembali menjalani pekerjaan kuli bangunan seperti Abak saya. 

Sehingga cangkul disamping momok kekhawatiran menatap masa depan, sekaligus menjadi alat motivasi bagi saya untuk harus baik dan sukses dalam pendidikan. Dengan pendidikan semoga saya bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak.


Terima kasih Abak....
Cangkulmu ku simpan dan ku rawat abadi dalam kalbu ku....