Mohon tunggu...
M. Aminulloh RZ
M. Aminulloh RZ Mohon Tunggu... Guru - Hidup Berpetualang
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Politik hanya momentum, berbuat baik selamanya

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Waspada Kelompok Ekstremis Bergentayangan

3 Desember 2020   09:00 Diperbarui: 3 Desember 2020   09:04 431
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemlesetan azan---khayya ala shalat, menjadi khayya alal jihad---yang menyebar di banyak media, merupakan fakta nyata yang terang bahwa agama Islam telah dibelokkan oleh kelompok-kelompok ekstrem yang marak akhir-akhir ini. Belum lagi aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT), terhadap satu keluarga Non-Muslim di Sulawesi Tengah.  

Kita semua umat Islam harus jujur dan mengakui bahwa ada yang salah dalam diri kita. Terorisme bukan bagian dari agama, tidak ada agama yang mengajarkan terorisme. Betul demikian. Tapi kita juga perlu introspeksi bahwa yang melakukan aksi terorisme pun ber-KTP agama sebagaimana kita. 

Dan mereka menyerukan jihad, mengumandangkan kalimat suci "takbir" misalnya, dan seterusnya. Oleh karenanya, ajaran dari para pemuka agama yang menyerukan hal-hal negatif dan cenderung ekstrem, masih menjadi idola sebagian kaum Muslim itu, sehingga banyak terjadi teror mengatasnamakan agama.

Ironisnya, sebagian Muslim masih memuja dan mengelu-elukan pelaku terorisme dan kekerasan sebagai bagian dari jihad di jalan Tuhan. Padahal yang mereka tindas, persekusi, dan bunuh juga bagian dari penciptaan makhluk Tuhan. Tidak ada dosa yang lebih besar selain melakukan kekerasan atas nama Tuhan dan Islam.

Itu penting kita catat, sebab jika tidak maka bencana yang sedang melanda di sejumlah tempat---beberapa gunung meletus, banjir, kebakaran hutan dan sebagainya---akan terus ada sebagai dampak dari ulah manusia sendiri yang saling fitnah, saling tuduh, saling menindas dan seterusnya.

Sebelum semua bencana itu menimpa kita semua, maka akhirilah semua perdebatan, persekongkolan yang destruktif, serta penyebaran kebencian. Kita semua perlu menjadi lokomotif Islam yang progresif, bersifat inklusif, demokratis, pluralis, dan toleran terhadap keberagaman. Kita semua umat Islam, bahkan Non-Muslim, patut menolak gagasan-gagasan formalisme dan fundamentalisme Islam yang hendak membentuk negara Islam. Sebab kita semua adalah pewaris bangsa ini yang lahir dari rahim Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, dan UUD 1945, dengan tatapan dan optimisme tinggi menuju perubahan global.


Untuk itulah perlu ada konsistensi dalam membangun interaksi dinamis dengan semua elemen anak bangsa ini yang mencerminkan sikap penerimaan terhadap Kebhinekaan dan fakta pluralitas keberagamaan negeri ini.  Kita harus terus mempromosikan sikap toleransi, persatuan, kedamaian dan mengutamakan musyawarah. Kampanye perdamaian terus kita galakkan demi berlangsungnya ketenangan dan harmonitas yang telah mengakar di negeri toleran ini.

Keterbukaan iman yang bersifat inklusif, akan membuat pemeluk agamanya merasa lebih percaya diri, lebih mengayomi, dan damai. Sebaliknya, iman tertutup yang bersifat eksklusif, akan semakin menjerumuskan penganut keyakinannya ke dalam jurang kebencian dan permusuhan. Kemudian dengan kebencian itu akan berakhir dengan aksi kekerasan dan radikalisme.

Menyadari keragaman sebagai sebuah keniscayaan, merupakan bentuk autentik agama yang menganjurkan persaudaraan dan melarang permusuhan. Tidak hanya antaragama, melainkan antarmazhab dalam sebuah agama. Berangkat dari spirit persaudaraan, tentunya akan saling melindungi satu sama lain dengan terus mewaspadai sikap-sikap ekstrem yang sedang bergentayangan di abad modern sekarang ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun