Mohon tunggu...
Elnado Legowo
Elnado Legowo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis

Kata-kata memiliki kekuatan untuk mengesankan pikiran tanpa menyempurnakan ketakutan dari kenyataan mereka. - Edgar Allan Poe

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Misteri di Rumah Eyang Jiwatrisna - Part 2

5 Agustus 2021   19:54 Diperbarui: 30 Desember 2021   21:08 712
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Ilustrasi: Creepypasta - Podcast Horreur & Paranormal

(Klik ini untuk lihat part sebelumnya.)

Aku terbangun dari tidurku dalam keadaan linglung dan gamang, setelah mendapati semua foto potret yang berisi orang-orang menyeramkan telah berubah menjadi jendela kamar yang menghadap hutan. Lantas, aku bergegas mencari Eyang Jiwatrisna dan menemuinya di pekarangan belakang rumah. Di sana dia sedang menatap sedu kuburan putrinya yang dihiasi oleh tumbuhan bunga mawar dan beberapa tumbuhan karnivora, sehingga memberi pesan duka yang puitis.
 
Lantas aku menceritakan perihal tersebut kepadanya. Tetapi Eyang Jiwatrisna hanya menatapku sambil tertawa geli dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki foto potret semacam itu di rumahnya. Kemudian, dia juga menambahkan, bahwa - mungkin - aku sedang kelelahan sehingga berhalusinasi buruk; ditambah lagi dengan letak rumah Eyang Jiwatrisna yang berada di dalam hutan dan terkesan menakutkan pada malam hari. Setelah mendengar penjelasan itu, pikiranku sedikit puas; tapi tidak dengan hati kecilku yang masih bimbang, sehingga menciptakan pergulatan batin yang melelahkan.
 
Hingga malam kembali tiba; sewaktu aku hendak tertidur; aku mendapati perihal ganjil dari jendela kamarku. Seperti ada yang bergerak; mengawasi; mengintimidasiku dari luar jendela dan bersembunyi di balik kegelapan. Akan tetapi, aku menganggapnya sebagai reaksi biologis pada tubuhku, karena aku sedang sendirian di dalam kamar yang remang dan dikelilingi oleh jendela yang menghadap hutan yang gelap. Dari reaksi biologis itulah yang menciptakan rasa takut dan cemas, setiap kali aku menatap jendela kamar. Alhasil, aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dan berencana untuk menutup semua jendela kamar terkutuk itu agar tidak terus mengganggu tidurku. Namun nahas, Eyang Jiwatrisna tidak memiliki kain gorden atau penutup jendela, sehingga membiarkannya terbuka lebar. Tampaknya aku harus mencari cara untuk menutupi semua jendela itu dengan benda lain!
 
Di tengah pertikaian akal dan upaya untuk tertidur; seketika aku mendapati - secara samar - bayangan yang sedang berdiri di luar jendela kamar dan mengawasiku dari dalam kegelapan. Aku tidak yakin dengan apa yang kulihat; bayangan itu tidak sendirian, tapi berjumlah banyak dan memenuhi setiap jendela kamar. Awalnya aku berpikir bahwa aku sedang berhalusinasi. Tetapi setelah kuperhatikan dengan saksama, aku merasa itu sangat nyata. Selain itu, aku juga merasa tidak asing dengan bayangan tersebut. Hingga pada akhirnya aku menyadari perihal yang membuatku bergidik.
 
Mereka adalah orang-orang yang ada di dalam foto potret yang kulihat semalam. Tetapi, kali ini mereka berdiri lebih dekat dengan jendela kamar, sehingga aku dapat melihat rupa mereka lebih jelas daripada sebelumnya. Mereka tampak seperti mayat yang rusak dan masih terbungkus oleh kain kafan - seperti pocong - dalam kondisi berantakan, serta berlumuran tanah dan darah kering. Matanya yang pucat melempar tatapan horor, sembari menyeringai terkutuk yang mengganggu.
 
Aku hanya bisa membalas tatapan mereka dengan kengerian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seketika tubuhku membeku dan retinaku terbakar. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku telah menatap mereka, sehingga pandanganku mulai terhisap ke dalam palung kegelapan dan menghilang di dalam kesunyian yang dingin.
 
****
 
Keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan lengar. Lantas aku memaksa tubuhku yang masih lemas untuk memeriksa jendela kamar, karena aku merasa ada yang tidak benar. Aku merasa yakin bahwa mereka terlalu nyata untuk disebut sebagai halusinasi. Akan tetapi, aku masih ragu dengan mataku sendiri.
 
Setelah aku melihat keluar jendela kamar, aku mendapati sebuah balkon dengan lebar kurang lebih dua meter. Kemudian aku langsung membuka paksa jendela kamar tersebut, dan menemukan banyak sekali jejak kaki berwarna merah - campuran dari tanah dan darah - yang mengotori seluruh lantai balkon depan jendela kamarku. Dari situlah aku menyadari perihal mengerikan yang tersembunyi di rumah Eyang Jiwatrisna; bahwa selama ini yang kulihat adalah nyata!
 
Lantas aku mencari tahu arah datang dan perginya jejak tersebut. Namun, jejak itu sangat banyak dan memiliki bentuk yang beragam; ada yang berjalan biasa; ada yang berjalan dengan menyeret kaki; ada juga yang melompat; lalu membaur menjadi satu, sehingga membentuk sebuah teka-teki yang membingungkan. Akan tetapi, itu sudah cukup membuatku merinding.
 
Selepas kucermati semua jejak kaki itu, aku berhasil menemukan sebuah petunjuk yang menyeretku ke lantai bawah dan keluar dari rumah untuk melihat balkon kamarku dari depan. Di sanalah aku mulai mendapati kegilaan; dimana semua jejak itu datang dan pergi dari balkon kamarku dengan cara memanjat dinding rumah, menggunakan bantuan dari tumbuhan merambat. Meskipun jejak tersebut berhasil tersamarkan oleh warna dinding yang suram dan tumbuhan merambat yang lebat, tapi masih dapat kutemukan dengan ketelitian yang ekstra.
 
Namun, semua jejak itu menghilang saat menyentuh tanah. Entah itu karena warna jejak yang serupa dengan tanah - sehingga membaur menjadi satu - atau mungkin ada seseorang yang sengaja menghilangkannya. Tetapi, entah bagaimana, aku merasa yakin bila ada seseorang yang sengaja menghapus jejak-jejak tersebut. Seseorang yang mengetahui kejadian ini, tapi dia memilih untuk bungkam! Siapa lagi jika bukan Eyang Jiwatrisna? Kini aku mulai menaruh rasa curiga dengannya!
 
****
 
Ketika malam kembali tiba; aku memutuskan untuk kembali ke kamar lebih awal dan memberi alasan kepada Eyang Jiwatrisna bahwa aku sedang tidak enak badan. Setibanya di dalam kamar, aku membunuh waktu dengan bersembunyi di balik selimut, sembari menaruh kedua mataku di jendela kamar. Aku ingin memastikan arah datang dan perginya mereka, sekaligus berharap - bila aku memiliki keberanian lebih - untuk mengikuti dan menemukan tempat persembunyian mereka. Sebuah ide kuno dan klise, tapi itu satu-satunya ide yang terlintas di pikiranku.
 
Jam ke jam telah berlalu; tanpa kusadari bahwa waktu mulai mendekati tengah malam, sedangkan aku masih belum menemukan tanda-tanda kehadiran mereka. Kini kedua mataku mulai bengkak dan rasa kantuk mulai menggodaku. Hingga akhirnya aku tertidur untuk beberapa waktu; kemudian kembali terbangun setelah mendengar suara bising mobil yang sedang melaju ke arah rumah. Lantas aku bergegas keluar dari kasur dan mendekati jendela kamar. Dari situlah aku mendapati sepasang cahaya lampu mobil yang keluar dari dalam hutan yang gelap; melaju secara pelan mendekati rumah. Secara samar aku mendapati bahwa itu adalah mobil Suzuki Carry Pick-Up tahun 1992, berwarna hitam yang penuh dengan noda lumpur di badannya.
 
Mobil itu terus melaju hingga ke pekarangan belakang rumah dan berhenti disana. Meskipun jarak pandangku terbatas dan samar, tapi aku masih dapat melihatnya dari bahu kanan jendela. Aku mendapati Eyang Jiwatrisna keluar dari dalam mobil itu; lalu dia mengeluarkan sebuah mayat yang masih terbalut kain kafan dan berlumuran tanah dari dalam bak mobil.
 
Aku tidak dapat mempercayai apa yang kulihat! Apakah aku sedang bermimpi atau sudah gila? Lantas, aku langsung mengambil ponselku dan mengabadikan adegan tersebut, untuk membuktikan bahwa itu bukan mimpi. Aku mengambil sebanyak mungkin gambar; dari adegan Eyang Jiwatrisna yang sedang membopong mayat, hingga menuju ke sebuah tempat yang terletak di pekarangan belakang rumah. Aku tidak tahu pasti; karena itu berada di luar jangkauan pandangku dan terhalang oleh dinding rumah. Walakin, kejadian itu sudah cukup membuatku menaruh syak wasangka dan rasa takut kepadanya.
 
Sewaktu aku sedang sibuk mengambil gambar; seketika aku mendengar suara langkah kaki dari arah luar bahu kiri jendela kamar. Saat itu jugalah aku merasa ada yang sedang mengawasi pergerakanku. Lantas, aku langsung menoleh ke arah bahu kiri jendela kamar; tapi yang kulihat hanyalah kegelapan malam yang mengaburkan mata. Walakin, aku masih dapat merasakan kehadiran sesuatu yang tidak kuketahui; bersembunyi di balik kegelapan; di luar jangkauan cahaya remang kamarku.
 
Lantas aku langsung mengarahkan ponselku ke arah depanku dan mengaktifkan cahaya flash. Kalakian aku langsung menekan tombol foto, sehingga - secara bersamaan - cahaya flash keluar menyinari objek yang ada di depanku dan menangkap sesosok pria dengan wajah yang sangat rusak, sehingga menciptakan cacat menakutkan. Tubuhnya masih terbalut kain kafan, dengan kondisi berantakan dan penuh kerusakan yang buruk. Dia menatapku dengan tatapan dursila terkutuk; lalu melaju ke arahku dan menerobos jendela kamar. Alhasil, jendela itu pecah dan hancur berantakan. Tubuhku terhempas ke lantai dan menatap sosok itu yang sedang melangkah ke arahku dengan dingin dan cepat; lalu mencekik leherku dengan tangan kanannya; mengangkat tubuhku ke udara; menyiksa diriku yang hanya bisa meronta-ronta sambil melempar perlawanan tidak berarti. Arkian, dengan kekuatannya yang tidak manusiawi, dia melemparku ke arah dinding dan melenyapkan kesadaranku.
 
****
 
Keesokan paginya, setelah aku berhasil kembali ke alam sadarku, aku mendapati Eyang Jiwatrisna yang sedang mengobati luka di sekujur tubuhku. Lantas aku langsung melompat panik ke arahnya dan melempar pertanyaan gemetar kepadanya.
 
"Eyang... kemarin... pria yang kemarin... kemana dia pergi?" tanyaku meracau.
 
"Pria? Siapa?" tanya Eyang Jiwatrisna.
 
"Itu... dia... dia yang menyeramkan..." balasku.
 
"Eyang tidak melihat siapa-siapa di rumah ini."
 
"Tapi Eyang... dia kemarin menyerangku..."
 
"Kemarin malam kamu tidur berjalan dan terjatuh di tangga." ujar Eyang Jiwatrisna dengan dingin, "Jadi tubuhmu banyak luka memar. Untung Eyang tahu kejadian itu, jadi Eyang segera membawamu kembali ke dalam kamar."
 
Aku tidak percaya dengan jawabannya. Aku merasa Eyang Jiwatrisna sedang mengarang cerita konyol untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya.
 
"Tidak mungkin! Aku... aku lihat sendiri... dengan mata kepalaku!" ujarku sedikit emosi dan panik, "Bahkan dia sempat merusak jendela kamar!"
 
"Merusak jendela? Yang mana?" tanya Eyang Jiwatrisna.
 
"Jendela itu..." balasku terputus saat mendapati semua jendela kamar dalam keadaan baik-baik saja, "Tidak... tidak mungkin! Ini pasti ada yang salah! Bahkan aku sempat mengabadikannya!"
 
Lantas aku langsung mencari ponselku, dan menemukannya di atas meja hias dalam keadaan rusak - seperti habis dibanting dan diinjak secara kasar - sehingga tidak berfungsi.
 
"Apa yang telah terjadi dengan ponselku?" tanyaku.
 
"Ponselmu terjatuh dari atas kasur. Lalu terinjak oleh kakimu, sampai rusak." balas Eyang Jiwatrisna.
 
"Tidak! Tidak mungkin separah ini!" teriakku kepadanya.
 
Walakin, Eyang Jiwatrisna hanya tersenyum kecil dan sedikit menahan tawa liciknya. Melihat reaksi tersebut, aku menjadi geram dan mulai melempar pertanyaan frontal seputar apa yang kulihat semalam kepadanya. Awalnya dia masih bisa menjawab dengan dingin dan santai. Tetapi, setelah aku mengungkit pandanganku yang menangkapnya sedang membawa sebuah mayat dari mobil pick-up tuanya, dia menjadi murka. Lantas dia menampar wajahku sembari menggertak;
 
"Bocah sialan!" ujarnya sambil menatapku dengan tajam, "Berani-beraninya kamu menuduhku! Kamu pikir kamu itu siapa? Kalau kamu menaruh syak padaku... silakan pergi dari rumah ini!"
 
Arkian, Eyang Jiwatrisna langsung keluar dari kamar dan membanting pintu. Dari gelagat itulah yang membuatku semakin yakin, bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.

Bersambung ke Part 3

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun