Mohon tunggu...
Elmi Safridati
Elmi Safridati Mohon Tunggu... Guru - Guru
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis dan menorehkan sesuatu di medsos menjadi salah satu kesibukan saat ini, walaupun masih dalam tahap belajar. Semoga semuanya bermanfaat. Terima kasih untuk Omjay dan semua guru yang telah mengajarkan ku, semoga ilmu yang sudah diajarkan, berbalas pahala. aamiin...

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Gubuk Tua di Tengah Sawah

28 September 2022   15:28 Diperbarui: 28 September 2022   15:32 157 11 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Gubuk tua di tengah sawah 

Sebagai seorang anak petani, gubuk tua adalah kenangan abadi. Kenangan itu sampai hari ini masih melekat dihati. Disitulah kami selalu berkumpul kala hari panas atau hujan mendera.

Walau bersempit-sempitan namun terasa lapang karena bersama dengan orang-orang yang dicintai. Bersama ayah dan ibu serta penduduk desa yang menanti bekerja. Makan dan minum bersama. Tak jarang juga kami membakar belut atau ikan yang dapat di sawah.

Saat padi telah panen kami juga rame-rame menangkap belalang. Belalang itu kami bungkus dengan plastik keresek. Saat musim panen kami juga makan bubur putih campur kacang hijau. Minum teh atau kopi, dibawah tenda biru.

Wah...asyik sekali. Tapi ini bagi anak petani seperti saya. Ya, hanya anak petanilah yang bisa merasakan hal ini. Yang bukan anak petani tentu tidak akan bisa merasakan sensasinya ya.

Ketika teringat masa indah ini, rasanya aku kembali kemasa anak-anak dulu. Sangat kental sekali terasa, betapa alam yang luas telah mendidikku untuk menuju kepada masa remaja bahkan dewasa.

Ketika ada yang terluka kena parang atau cangkul yang tajam. Maka obatnya adalah rumput hijau yang ada di pematang sawah. Rumput itu dikunyah kemudian ditempel pada tempat yang luka. Dengan segera kulit yang terluka akan berhenti mengeluarkan darah.

Inilah enaknya berteman dengan alam. Kita jadi tahu obat-obatan alami yang bermanfaat buat diri kita. Di sawah tidak ada Betadine. Makanya rumputlah yang jadi obat alaminya. 

Beginilah kisahku yang tak akan pernah terlupa walau usia sudah tak muda lagi. Namun ketika mengenang masa ini seakan usia itu kembali pada saat badan masih memakai baju merah putih, putih biru, atau putih abu-abu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan