Mohon tunggu...
Elly Suryani
Elly Suryani Mohon Tunggu... Pekerja sekaligus blogger

Ngopi disela tiupan angin. Pekerja yang senang melihat dan menganalisa trend data.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

3 Hal Kenapa Harus Skeptis dan Kritis terhadap Berita Viral di Medsos

29 Juli 2020   15:22 Diperbarui: 30 Juli 2020   01:31 866 32 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
3 Hal Kenapa Harus Skeptis dan Kritis terhadap Berita Viral di Medsos
Ada hal yang viral di sosial media? Jangan langsung percaya (Sumber Foto: Freepik)

Seringkali, orang-orang di sekitar saya, keponakan, adik-adik, mengatakan saya gak gaul. Kuper, kata mereka. Apa sebab? karena saya gak tau berita heboh dan viral di sosmed? He, apa iya segitunya? Hahaha, gak mungkin, kata sesuatu di kepala saya. 

Yupz, gak mungkin saya gak perduli terhadap hal yang heboh di sosmed. Urat kepo saya belum putus. Rasa penasaran dan keinginantahuan saya akan apa saja yang jadi trending topic perbincangan di sosmed masih ada dan masih lumayan besar. Hal yang membedakan hanya, saya pilih-pilih berita. 

Acapkali ketika orang-orang berbincang hal viral itu, saya malah tertarik hal lain. Kawan-kawan di gank Kompasianer Palembang (Kompal) tahu kebiasaan saya. Artinya, saya sedang tidak tertarik.

Untuk hal-hal yang buat saya tidak penting itu, saya lumayan cuek dan gak malu kalau saya tidak tau. Pstt, jangan ketawain ya kalau saya gak tau. Tepatnya malas tau siapa itu Dinda Hauw dan lain-lain, hahahaha. 

Bedakan antara "tidak tau sama sekali" dengan "malas tau", "tidak tertarik" atau "tidak mau terlalu tau", gaes

Kenapa demikian? Ya, buat saya pribadi kadang kita harus hemat energi, jangan ambil pusing pada jualan berita kanal-kanal, portal berita yang sekarang juga punya akun di IG, Twitter, Facebook, dan lain-lain.  Tepatnya, kita harus skeptis dan pilih-pilih atau kritis terhadap apapun berita di sosial media kita. 

Misal berita pembobolan akun rekening beberapa bank daerah dari struk ATM yang tercecer. Lalu katanya struk ATM tersebut diambil para kriminal, dicocokkan dengan data di Web KPU. Dapatlah mereka data nama, nama ibu kandung, dan sebagainya.

Lalu melapor ke bank, menemui petugas, dan katanya karena kelalaian petugas mereka bisa membuat buku baru dan kartu ATM baru, hm, hm. 

Saya setuju bahwa banyak kejahatan berdasarkan penyalahgunaan data pribadi kita. Saya setuju bahwa data pribadi banyak disalahgunakan. Saya setuju bahwa kita harus berhati-hati menjaga data pribadi kita. Tetap saja, menghubungkan struk ATM dengan data di web KPU itu gak nyambung dan "bikin mual". 

He, kebetulan saya nasabah salah satu bank daerah yang disebut itu. Karena penasaran, saya cari struk ATM saya (kebetulan saya memang tidak pernah membuang struk ATM).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x