Cerpen Pilihan

Dinda Tak Pernah Begitu

9 Maret 2018   08:08 Diperbarui: 9 Maret 2018   08:27 295 1 0

Aku menarik nafas panjang sebagai tanda kelegaan setelah hari amat yang melelahkan. Ini bukan tahun pertama aku mengajar tetapi masih saja mengalami hari yang berat di sekolah. Bagiku, menyiapkan materi pelajaran jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengurus dua puluh satu anak di kelas. Aku mengelus dada karena ulah seorang anak yang belum genap dua belas tahun umurnya.

"Dinda, tinggal sepuluh menit lagi. Kenapa baru sampai pertanyaan nomor tiga?" tanyaku menjelang akhir jam pelajaran pertama.

Dinda yang sedari tadi memandang ke langit-langit kelas terkejut mendengarkan pertanyaanku lalu buru-buru meraih pensilnya. Dalam sekejap dia sudah kembali menatap kertas yang ada di hadapannya.

"Apakah ada yang kamu belum mengerti?"

"Iya. Saya ngerti,Bu!" jawabnya dengan ketus tanpa melihatku.

Aku terhenyak melihatnya bersikap judeskepadaku.

"Dinda, bukan begitu caranya berbicara kepada guru," kataku tegas. Namun, tak kudengar sepatah katapun terucap dari gadis yang mulai beranjak remaja ini.

Aku terdiam. Dinda tak pernah begitu sebelumnya.

***

Saat jam istirahat tiba, sekelompok siswa mengadu padaku kalau Dinda berkata kasar  bahkan memukul salah satu dari mereka.

"Dinda, apakah itu benar?" tanyaku sambil memegang bahu Dinda yang tertunduk lesu di depanku.

Dia menggangguk perlahan.

"Menurutmu, apakah yang kamu lakukan..."

Belum sempat selesai perkataanku, kulihat Dinda mulai terisak. Kuraih dia dalam dekapanku lalu dia pun tambah tersedu-sedu.

"Pasti dia menyesal," batinku.

Setelah pertengkaran itu, Dinda lebih suka melewatkan waktu istirahat siangnya dengan menghabiskan makanannya hingga bel kembali berbunyi. Sesekali aku lihat dia bermain dan bercanda bersama anak-anak yang lain jika ada yang mengajaknya. Mungkin Dinda yang menarik diri atau teman-temannya yang menjauhinya. Entahlah.

"Mungkin saja dia sedang mengalami perubahan hormon," kata Manda, salah seorang rekan guru saat kuceritakan tentang sikap Dinda yang akhir-akhir ini berubah.

"Hmm.. Begitu, ya. Bisa jadi, sih.Tetapi cuma Dinda yang jadi sangat sensitif. Anak-anak yang lain nggak tuh," jawabku.

"Tiap anak, kan,beda-beda. Repot, ya, jadi guru. Yang masa puber murid, tapi kita juga yang kena imbasnya," kata Manda lagi sambil terkekeh-kekeh.

Aku tersenyum mendengarnya tapi pikiranku tetap pada Dinda karena dia tidak pernah begitu sebelumnya.

***

Sambil merapikan meja kerjaku, aku teringat beberapa waktu lalu saat Dinda tidak masuk sekolah. Ibunya memberitahuku lewat email kalau beliau ingin Dinda meluangkan waktu bersama ayahnya lalu ikut mengantarkan ayahnya pergi ke bandara. Aku heran, hanya mengantar ke bandara saja harus absen sekolah. Padahal Dinda bisa tetap masuk lalu pulang lebih cepat. Setidaknya tidak melewatkan seluruh kegiatan hari itu.

Ketidakhadirannya di kelas membuat beban mengajarku terasa lebih ringan dan kelas terasa lebih tenang. Hal ini pun disadari oleh murid-muridku yang lain.

"Ibu, kelas kita enak, ya, kalau nggakada Dinda," celetuk salah seorang murid yang biasanya  terlibat keributan dengan Dinda.

"Iya. Dinda nggakada, jadi nggakada yang rese," seorang murid yang lain menimpali.

Karena semakin banyak yang ikut berkomentar, aku pun terpaksa menghentikan pelajaran lalu menasehati mereka karena Dinda tidak pernah seperti itu sebelumnya.

***

Aku pernah mencoba menanyakan kepada Dinda apa yang membuatnya menjadi sering murung, mudah marah, dan sulit konsentrasi di kelas. Dia cuma menjawab kalau dia lelah. Memang pada saat itu, dia sedang menyiapkan tarian untuk lomba tingkat provinsi. Hampir setiap pulang sekolah dia harus berlatih hingga menjelang petang. Meski latihannya keras, namun dia terlihat menikmatinya. Gadis berambut panjang dan ikal itu memang berbakat menari dan dia selalu ingin jadi yang terbaik. Itulah Dinda yang aku kenal. Dinda yang selalu antusias, ceria, dan menyenangkan.

Aku juga telah melayangkan sebuah emailkepada ibunya untuk memberi tahu perubahan sikap dan penurunan nilainya. Beliaupun membalas pesanku itu dan mengatakan bahwa akan membantu Dinda belajar dan memastikan anaknya cukup istirahat agar bisa belajar dengan baik di kelas.

Aku pun lega karena aku ingin Dinda kembali menjadi Dinda yang cerdas dan menjadi teman yang baik untuk semua anak di kelas.

***

Hari-hari pun berlalu. Sepertinya aku mulai terbiasa menghadapi dinamika di kelas. Meski terkadang harus menghela nafas panjang lalu memohon pada Yang Maha Kuasa untuk diberikan kesabaran ekstra. Kalau ada hal-hal yang membuat pekerjaanku sebagai guru menjadi lebih berat, pasti Dinda terlibat di dalamnya.

Sampai pada suatu sore, aku menerima email dari ibu Dinda yang seketika membuat bumi serasa berhenti berputar.

"Saya mohon bimbingan Ibu untuk Dinda yang masih sedih melihat saya dan suami berpisah. Kami berpisah beberapa bulan lalu demi kebaikan bersama. Dinda tetap bersama saya, sedangkan ayahnya tinggal di luar Jakarta. Mohon maaf kalau Dinda menyusahkan Ibu di kelas, mungkin karena dia sedih atau rindu ayahnya."

Aku tak kuasa untuk menahan air mata sambil membalas pesan yang menjawab semua keresahanku terhadap Dinda.

"Apakah tidak terlalu berat bagi seorang anak mengalami ini?" tanya hatiku kepada Sang Pencipta untuk mempertanyakan keadilan-Nya, sedangkan jemariku tetap menari-nari membalas email paling menyedihkan yang pernah kuterima.

***

Hari ini sekolah terlihat lebih berwarna dari biasanya karena para siswa dan guru mengenakan baju bernuansa merah, merah muda atau putih untuk merayakan Hari Kasih Sayang. Beberapa sudut sekolah juga dipercantik dengan hiasan warna-warni khas perayaan tanggal 14 Februari.

Seperti biasa, aku mulai pelajaran dengan doa bersama.

"Anak-anak, adakah yang ingin didoakan?" tanyaku kepada anak-anak.

"Ibu, adikku sakit," kata Dio, seorang anak yang duduk di barisan paling belakang.

"Baik, Dio. Ibu akan doakan supaya adikmu cepat sembuh. Ada lagi?" jawabku sambil melayangkan pandang ke seisi kelas.

Lalu, kulihat seseorang mengangkat tangannya.

"Dinda," kataku.

"Hari ini anniversarymama dan papaku," jawab Dinda sambil menatap lurus ke arahku.

Terasa sesuatu menyesakkan dada dan seketika pandanganku kabur karena air mulai menggenangi bola mata. Aku hanya mampu mengangguk perlahan. Tak sanggup lagi kutatap wajah seorang gadis yang merindukan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya.

Kupejamkan mataku sambil menarik nafas panjang, lalu kukumpulkan tenaga untuk berkata, "Anak-anak, marilah kita berdoa...