Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Mawar yang Terluka [1]

14 September 2017   16:16 Diperbarui: 14 September 2017   16:22 999 10 7
Cerpen | Mawar yang Terluka [1]
sumber gambar : *If my heart could speak...*-girl face, woman, sorrow, rose, alone, pink, sad, brunette, love / www.pinterest.com

Hana menatap rumah mewah di hadapannya dengan ragu. Gerimis yang jatuh sama sekali tak dihiraukan. Ada kebimbangan menyeruak, membuatnya enggan meneruskan langkah.

"Ayolah, hujan semakin deras," Sae meraih pundak Hana, mengajak perempuan itu gegas menapaki bebatuan menuju teras rumah.

Seorang perempuan, usia paruh baya muncul dari ruang dalam dengan wajah tanpa senyum.

"Mama, ini Hana," Sae berkata riang. Perempuan itu tidak menyahut. Ia berbalik kembali masuk ke dalam rumah.

"Tidak apa-apa. Mama belum mengenalmu," bisik Sae berusaha menenangkan hati Hana. Ia tahu mata Hana meredup menahan perasaan takut. Sae membimbing Hana, mengajaknya duduk di ruang tamu.

"Duduklah dengan tenang di sini. Aku akan bicara dulu dengan Mamaku," Sae menyentuh pundak Hana lembut. Hana mengangguk. 

Di ruang tengah, Sae disambut teguran tegas sang Ibunda. "Berapa kali Mama bilang padamu? Jangan berhubungan dengan perempuan itu."  

"Tapi, Ma, aku sangat mencintai Hana," Sae berusaha bicara sepelan mungkin. Khawatir Hana yang duduk di ruang tamu mendengar percakapan mereka.

"Terserah kamu, Sae, mau pilih siapa. Mama---atau perempuan itu."

"Jangan memberiku pilihan sulit begitu, Ma. Jelas aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian. Aku menyayangi kalian berdua," suara Sae tercekat. Ada nada bingung dan putus asa di dalamnya.

"Tidak! Kamu harus bisa menentukan pilihan. Jika kamu bersikukuh melanjutkan hubungan dengan perempuan itu, maka silakan pergi dari rumah ini. Sekarang juga!"

"Mama mesti jelaskan dulu, mengapa Mama tidak menyukai Hana?" Sae bertanya dengan suara bergetar.

"Karena status dia. Dia itu janda!" suara Mamanya meninggi tak bisa diredam lagi.

"Di mana letak kesalahan seorang janda, Ma?" Sae mulai terpancing emosi.

"Dengar, Sae. Usiamu baru dua puluh lima tahun. Kau lebih pantas berdampingan dengan seorang gadis. Bukan dengan perempuan yang gagal menikah. Apalagi ia---sudah mempunyai anak."

Seketika wajah Sae memerah padam. Dadanya seolah hendak meledak. Tapi Sae tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat tahu diri, tak elok baginya melawan Ibundanya sendiri.

Sementara Hana yang tengah duduk terpekur di ruang tamu, mendengar semuanya. Perempuan usia tigapuluhan itu berdiri dari duduknya. Pertengkaran mulut antara Sae dan Ibunya, membuatnya ingin segera pergi dari rumah mewah itu.

Di luar hujan masih terus meluruh. Butirannya memercik ke mana-mana. Hana tidak peduli. Ia sudah memutuskan untuk pergi. 

Sae tidak ingin bersitegang dengan Ibundanya. Pemuda itu berjalan menuju ruang tamu. Ia ingin menemui Hana. Dan ia nyaris kehilangan perempuan itu, kalau saja matanya tidak memergoki Hana yang tengah berlari-lari kecil menapaki jalanan menembus derasnya hujan. Sae bergegas mengejarnya, menarik lengan perempuan itu dan mengajaknya untuk kembali.

Tapi Hana menolak. Ia sudah tatag pada keputusannya. Tetap ingin pergi.

"Hana, dengarkan aku dulu," Sae membujuk seraya berusaha melindungi tubuh Hana dari guyuran hujan dengan kedua lengannya.

"Apalagi yang harus aku dengar, Sae? Semuanya sudah jelas," Hana memalingkan muka. Ia sembunyikan airmatanya yang sejak tadi mendesak keluar.

"Please, Hana. Dengar dulu, aku akan berusaha meluluhkan hati Mama. Percayalah," Sae  mencengkeram erat bahu Hana.

"Jangan menjadi anak durhaka, Sae. Turutilah kehendak Mama-mu, biarkan aku pergi," meski pahit Hana harus mengucapkan kata-kata itu. Ia tidak ingin menjadi jurang pemisah antara Ibu dan anak yang semula saling mengasihi.

Hana menepis tangan Sae. Ia meneruskan langkah, berlari menembus derasnya hujan. Hatinya sangat terluka. Terlebih lagi karena ia harus meninggalkan Sae, lelaki yang selama ini amat dikasihinya. 

Dan Sae, semenjak kepergian Hana masih juga berdiri termangu---membiarkan hujan melumat habis sekujur tubuhnya.


Bersambung....

***

Malang, 14 September 2017

Lilik Fatimah Azzahra