Mohon tunggu...
Ekriyani
Ekriyani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Pembelajar di universitas kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Aku Masih di Sini

8 Oktober 2021   09:02 Diperbarui: 8 Oktober 2021   10:28 135 29 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar: pixabay

Aku menatap bayangmu dari wajah wajah berlalu lalang mengitari taman kota. Hujan menjarum pelan menitik di setiap pipi yang coba mencari perlindungan ke dahan rimbun. Aku terdiam. Gemuruh napas menyesakkan rongga dada. Ingin berteriak, tapi bisa apa?

Kepingan kenangan masih berserakan memenuhi taman kota. Lampu taman dan sebuah kursi panjang saksi bisu. Mataku menyibak di sela puluhan wajah tersentuh tetesan hujan. Hatiku bertanya sebentar. "Engkau masih di sana?" Sedangkan aku masih di sini.

Aku setia di sini. Duduk bersimpuh di bawah rintik hujan. Aku sadari, bagian terburuk menggenggam serpihan kenangan bukan pada perihnya, melainkan kesepian yang menyerang saat mengenangnya.

Aku masih di sini. Mencoba mengurai sisa-sisa kalimat yang dulu kau ucapkan. Kita memang terlalu dini menyimpulkan, hingga tercipta jurang dalam bongkahan kebisuan di malam malam sunyi.

Hujan kian menderas. Garis-garis tetesannya kian menebal dan melenyapkan puluhan pasang mata penghuni taman kota. Tak terasa menenggelamkan tiap  kristal asa pada larutan kesadaranku. "Ah, engkau di mana? Setidaknya temuilah aku meski dalam mimpi." Desah lirih hatiku.

Biarkan aku tetap di sini, setia menunggu mentari dan bunga-bunga bermekaran. Hingga aroma kesabaranku ini kelak akan melelehkan salju kesunyian di hatimu. Kutunggu kau di sini sahabatku.

(Sungai Limas, 8 Oktober 2021)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan