Mohon tunggu...
Eko Windarto
Eko Windarto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Esainya pernah termuat di kawaca.com, idestra.com, mbludus.com, javasatu.com, pendidikannasional.id, educasion.co., kliktimes.com dll. Buku antologi Nyiur Melambai, Perjalanan. Pernah juara 1 Cipta Puisi di Singapura 2017, juara esai Kota Batu 2023

esai

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Subuh yang Indah

8 Mei 2024   07:11 Diperbarui: 8 Mei 2024   07:45 111
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac


Oleh: Eko Windarto

Pagi buta di kawasan pedesaan di Pulau Bali selalu istimewa. Suasana yang damai dihiasi dengan pemandangan alam yang menakjubkan, begitu pun pada pagi ini. Suara kicauan burung dan suara gemercik air sungai menjadi backsound bagi suasana pagi yang sepi.

Di tengah-tengah desa kecil tersebut, terdapat rumah kecil bertingkat kayu bertingkat rendah yang dihuni oleh keluarga Suparta. Istri tercintanya, Kadek, sedang memasak sarapan di dapur, sementara Suparta sedang menyiram tanaman di kebun belakang.

Suparta (S): "Paginya sangat indah. Wahai Sang Pencipta, terima kasih atas keindahan alam Mu yang tiada tara." Kadek (K): "Benar saja, sayang. Cerah dan segar sekali. Kamu sudah menyiram tanaman?" S: "Sudah, sayang. Semua tumbuhan terlihat begitu sehat." K: "Bagus. Sekarang sarapan akan segera siap, ada yang ingin kamu makan pagi ini?" S: "Tidak perlu banyak, sayang. Satu mangkok bubur sudah cukup. Terima kasih."

Mereka lalu makan bersama dan menikmati cemilan yang dibuat oleh Kadek setelah sarapan pagi. Kemudian, Suparta merapikan dirinya untuk pergi bekerja di sawah. Kadek lalu beranjak dan pergi ke kuil di samping rumah untuk memberikan sesajen.

Beberapa saat kemudian, Suparta kembali dari sawah dan melihat Kadek masih berada di kuil. Ketika dia mendekat, dia mendengar suara Kadek menikmati suasana pagi yang indah dengan menuliskan puisi.

Baca juga: Tanah yang Berkata

K: "Jendela hatiku ku buka lebar Merelakan angin pagi menyapa Suara gemercik air sungai Membuat saratnya hati ini terangkat tinggi. Sembari ku renungkan hembusan nafas yang tulus. Menjaga agar raga dan pikiranku selalu jernih. O pagi yang penuh kedamaian. Lindungi hatiku agar selalu bercahaya dalam kegelapan."

Suparta sangat terkesan dengan kata-kata Kadek. Dia menatap Kadek dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan dan cinta.

S: "Kamu benar-benar indah, sayang. Tulisanmu penuh dengan emosi yang begitu dalam." K: "Terima kasih, sayang. Pagi buta ini begitu inspiratif, saya merasa terbebani untuk menangkap moment ini dalam kata-kata." S: "Aku tahu kamu selalu merasa tersentuh oleh pagi buta. Dan aku senang kamu berbagi hal itu dengan saya."

Mereka melanjutkan hari itu dengan bekerja di kebun dan sawah menyiapkan panen, tetapi tetap dalam kenangan pagi buta yang indah itu. Mereka menyadari bahwa indahnya alam dan keindahan cinta mereka, memeluk masing-masing dalam bahasa senyuman.

Itulah kisah tentang pagi buta yang indah di pedesaan Bali, diwarnai dengan keindahan puisi yang memicu perasaan yang begitu dalam di antara pasangan yang saling mencintai. Satu pengalaman sederhana yang mengingatkan kita akan keindahan yang muncul setiap saat dalam kehidupan kita, yang dapat dinikmati oleh siapa saja yang memperhatikan.

Bali, 152024

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun