Mohon tunggu...
Eko N Thomas Marbun
Eko N Thomas Marbun Mohon Tunggu... Penulis suka-suka

Penulis suka-suka suka buka-buka. Lahir di Tanah Toba, merantau ke Jogja lalu stuck di Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kasih Sayang adalah Panggilan Setiap Manusia

14 Februari 2020   13:36 Diperbarui: 14 Februari 2020   13:51 78 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kasih Sayang adalah Panggilan Setiap Manusia
Sumber: dreamstime.com

Pagi ini, hati saya benar-benar marah. Saya memang tidak pecinta binatang. Tapi saya marah melihat anjing diketok kepalanya dengan balok. Belum benar-benar mati sudah dikuliti. Parahnya lagi, pembantaian itu dilakukan dengan dalih "rasa". Katanya lebih enak kalau darahnya tidak keluar   .

Rasa yang ada dalam diri manusia, seringkali menjadi kutuk bagi lingkungan, bagi mahluk hidup di sekitar. Pemenuhan rasa seharusnya yang wajar dan manusiawi saja. Sebab tepat pada waktu rasa itu dipaksakan untuk dipenuhi, saat itu pula bencana di mulai.

Kita Satu Tubuh Yang Saling Melukai

Hari ini, tepat 14 Februari 2020, katanya hari kasing sayang. Lidah inggris menyebutnya Valentine's day. Kembali soal rasa, saya yakin hanya manusia yang tidak normal saja yang tidak mau disayangi! Tetapi tidak semua manusia memiliki kemampuan untuk memberi rasa sayang.

Dalam diri manusia, ada juga rasa superior. Itu tidak dapat dipungkiri. Baik antara manusia dengan manusia lain. Apalagi dengan mahluk lainnya! Tidak mengherankan kisah-kisah sejarah banyak diwarnai penaklukan lalu diikuti dengan perbudakan. Karena saya lebih kuat dari kamu, saya bisa menaklukanmu atau saya berkuasa atasmu. Rasanya saya yang terkuat! Itu memang ada dalam diri manusia.

Manusia itu, utamanya kita yang kecil ini, maunya hidup damai saja. Namun hidup bermasyarakat itu menyeret kita ke dalam pusaran konflik dan damai. Apa yang ada di Jakarta, sering berefek ke nelayan yang sehari-hari menebar jala di Danau Toba. Hal itu didorong juga massifnya perkembangan media sosial. Kita dasarnya satu, berjalan dalam satu benang yang melintang. Maka setiap getaran yang ditimbulkan satu orang, sadar atau tidak turut menggoyang yang lain.

Saat ini kita (bumi) diguncang bencana Covid 2019. Ribuan orang sudah meninggal dunia. Awalnya memang hanya China, namun rentetannya, hampir semua belahan dunia merasakan. Selain korban jiwa, korban ekonomi tidak kalah banyak. Indonesia saja rugi triliunan rupiah. China adalah negara besar yang berkontribusi besar pada perekonomian dunia.

Fakta lainnya, masih banyak yang merendahkan China. Banyak dari kita yang menganggap mereka sedang dikutuk. Hoaks beredar dimana-mana, merendahkan dan melecehkan! Meskipun pengendar hoaks menggunakan HP China. Rasanya cukuplah China menderita sendiri, "dikucilkan" bangsa-bangsa dunia, kita tidak perlu ikut-ikutan menyebar hoaks.

Ada pelajaran penting dari wabah Covid-2019 ini. Manusia saat ini, terbukti banyak yang sudah kehilangan rasa kemanusiaannya. Angka seribuan orang meninggal dianggap sebagai statistik belaka. Namun ada yang tidak melihat ada penderitaan dan duka di dalamnya. Rasa empati dan simpati sudah semakin luntur. Lupa bahwa dirinya manusia juga yang besok lusa, dia pun bisa merasakan hal yang sama (penderitaan). Kalau kita rinci lagi soal penderitaan kemanusiaan, ada Palestina, Rohingya, Irak, Suriah, Afrika.. dan lain-lain.

Indonesia bukan tanpa luka. Mulai dari perusak alam sampai perusak toleransi juga ada. Semuanya berujung luka, memisahkan yang satu dengan yang lain. Sederhana saja, di kampung saya, ada perusahaan yang menambang gunung sampai kemudian menimbulkan luapan lumpur ketika turun hujan lalu merusak jalan dan rumah. Tapi yang lebih dari itu juga banyak di tempat lain. Soal toleransi, ada aja orang-orang yang eksklusif melarang atau merusak rumah ibadah orang lain. Soal semua itu, ada aja alasan pembenaran. Meskipun sebagai manusia kita tidak bisa menerimanya. Kembali soal simpati dan empati, ya, sudah hilang.

Membalut Luka dan Menjalin Silaturahmi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN