Mohon tunggu...
Ekky AbiWibowo
Ekky AbiWibowo Mohon Tunggu... Mahasiswa - Sociology, Coffee, and Movie

Hai, saya Ekky! Saya seorang yang perhatian dengan berbagai bentuk fenomena sosial, melihat keunikannya, dan memperhatikan detil-detil kecil untuk menjadi bahan analisis.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Goyang Biar Cuan: TikTok dan Tragedi Kebudayaan Perspektif Simmel

28 Desember 2022   13:00 Diperbarui: 28 Desember 2022   13:04 383
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Kehadiran media sosial online di Indonesia memunculkan fenomena sosial yang beragam. Mulai dari interaksi yang serba instan, terbentuknya komunitas digital, platform jual beli online, propaganda politik, hingga yang paling umum terjadi saat ini adalah fenomena viralitas dalam rangka menunjukkan identitas diri untuk menghasilkan uang dari media sosial. Khusunya media sosial TikTok, platform ini sangat digandrungi oleh kalangan muda untuk menunjukkan citra diri mereka.

TikTok merupakan media sosial yang muncul belakangan setelah Facebook, Twitter maupun Instagram. Melalui karakteristik algoritma yang lebih “cair” yang didasarkan pada performa setiap postingan tanpa melihat jumlah followers membuatnya lebih menarik karena penggunanya dapat mengejar viralitas dengan lebih mudah. Di sisi lain, TikTok memberikan fitur seperti program afiliasi, promosi atau endors, dan dari share konten itu sendiri sehingga membuat orang-orang sangat tertarik untuk menghasilkan uang di TikTok.

Di awal kemunculannya, TikTok layaknya media sosial lain digunakan untuk berinteraksi dengan khalayak global. Kemudian platform yang fokusnya pada postingan video dengan durasi kurang dari 60 detik ini digunakan untuk membagikan hasil kreativitas dari para penggunanya. 

Video yang paling diminati pada waktu itu dan bertahan sampai sekarang yaitu tentang dance cover, di mana video tersebut berisi gerakan dance yang dilakukan oleh satu grup di ruang publik atau tempat terbuka dengan diikuti musik di bagian latarnya. Sampai saat ini tagar dari #dancecover sendiri memiliki tayangan yang berjumlah hingga 4,4 miliar. Angka tersebut menjadikan tagar #dancecover sebagai tagar dengan tayangan terbanyak di TikTok.

Fenomena tersebut juga diikuti oleh pengguna TikTok di Indonesia, di mana banyak dari kalangan muda membuat konten dance cover ini kemudian disederhanakan menjadi video joget yang tidak hanya dilakukan di tempat terbuka, namun mereka dapat melakukannya hanya dengan duduk di meja makan restoran, di dalam kendaraan, atau bahkan di tempat tidur.

Lalu kebanyakan, konten video joget ini lebih menampilkan sisi subjektivitas yang ada pada dirinya semisal kecantikannya atau bentuk tubuhnya. Hal ini ternyata memiliki banyak peminat tersendiri. Terbukti bermunculan tagar dengan bahasa Indonesia semisal #jogettiktokviral dengan 12 juta tayangan dan #jogetviral dengan 81 ribu tayangan yang berisi video dengan sesuatu yang hanya terfokus pada sisi subjektivitas pengunggahnya.

Segala yang dilakukan tersebut merupakan usaha dari mengejar apa yang disebut sebagai viralitas dan dari viral akan menghasilkan uang. Viralitas sendiri muncul ketika terjadi interaksi yang dilakukan oleh pengunggah video dengan viewers, di mana interaksi tersebut tercermin dalam bentuk view, like, comment, share, & follow.

Simmel sendiri memandang interaksi sebagai suatu pertukaran yang didasarkan pada pengorbanan antara kedua orang yang berinteraksi tersebut. Dalam konteks pengunggah video, pengorbanan yang dilakukan adalah usaha untuk membuat konten itu sendiri, semisal waktu, tenaga dan modal. 

Sedangkan bagi viewers, pengorbanan yang dilakukan terlihat tidak nyata, karena viewers merasa ketika dia melakukan view, like, comment, share, & follow, terlihat tidak ada yang berkurang dari sisinya. Namun, bila melihatnya dari aspek ekonomi, apa yang dilakukan tersebut merupakan pengorbanan terhadap uang yang dikeluarkan oleh viewers untuk membayar jaringan internet dalam melakukan aktivitas online. 

Maka dalam aktivitas interaksi tersebut sarat dengan aspek ekonomi di mana terdapat apa yang disebut sebagai kuantifikasi dari traffic yaitu jumlah view, like, comment, share, & follow sehingga membentuk suatu nilai pada konten video joget. Pada akhirnya, seperti yang diungkapkan Simmel bahwa dalam dunia ekonomi uang terjadi suatu yang disebut sebagai reifikasi, di mana segala sesuatunya termasuk yang non materil dapat dihitung, memiliki nilai dan diberikan harga, termasuk jumlah view, like, comment, share, & follow.

Selanjutnya melalui jumlah view, like, comment, share, & follow tersebut, dapat mendorong cara pandang orang dalam memilih sesuatu, katakanlah sebuah profesi. Inilah yang dikatakan oleh Simmel sebagai bentuk dari tragedi budaya. Pada dasarnya manusialah yang menghasilkan budaya dalam hal ini media sosial TikTok, tetapi karena kemampuan mereka untuk mereifikasi realitas sosialnya, kebudayaan objektif tersebut akhirnya mendominasi atau mengatur cara pandang dari peran-peran individu. 

Di TikTok, orang-orang atau penggunanya seperti memiliki standarisasi dan normalisasi yang dalam hal ini bila ingin mendapat banyak interaksi dan cepat viral, maka orang-orang, paling tidak, harus bisa membuat video joget. Joget menjadi salah satu standar dari kreatifnya seseorang di TikTok dan hal yang normal bila aktivitas joget tersebut terlihat di realitas nyata sebagai aktualisasi konten yang akan diposting di TikTok.

Contoh kasus di atas juga mencerminkan pemikiran Simmel yang dialektis, yaitu antara interaksi individu dan konteks yang lebih luas terjadi proses timbal balik. Dalam hal ini, interaksi yang terlihat di dalam media sosial, tidak terkecuali TikTok, ternyata berdampak pada standarisasi dan normalisasi dalam menghasilkan uang di internet. Di sisi lain, munculnya standar dan norma di media sosial dalam bentuk dan aspek lainnya akan mempengaruhi interaksi antar penggunanya.

Misalnya, saat ini yang terjadi adalah bila seseorang dengan sengaja mencari attention dengan konten-konten yang provokatif (melecehkan agama, video menyiksa hewan, dan lainnya) maka khalayak juga akan memberikan bentuk interaksi yang berbeda terhadapnya. Jadi dalam persepsi khalayak di realitas maya, terdapat standar dan norma yang mengatur atau mendorong seseorang itu akan viral secara positif atau justru malah “menghukumnya” karena telah melakukan penyimpangan.

Selanjutnya media sosial atau realitas maya saat ini juga mempengaruhi realita yang ada pada dunia fisik. Dalam konteks masyarakat modern yang oleh Simmel diaktualisasikan dalam pembagian pekerjaan yang terspesialisasi, media sosial mengambil peran penting dalam mengisi fenomena tersebut. Saat ini banyak perkantoran, khususnya di bidang bisnis, yang berminat pada orang-orang yang aktif di media sosial atau orang-orang yang memiliki banyak followers.

Hal tersebut didasarkan pada nilai yang ada pada status pengguna di media sosial tersebut berdampak pada “pemberian harga” terhadap identitasnya. Jadi seseorang dapat lebih berharga bila dia aktif di media sosial atau memiliki jumlah followers yang banyak, di mana hal tersebut dapat mengisi salah satu job di perusaahan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun