Mohon tunggu...
Ega Wiguna
Ega Wiguna Mohon Tunggu... Freelancer - Penikmat Sastra || @sastra.wiguna_

Memberikan kebermanfaatan untuk masyarakat banyak

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Menggali Potensi, Menuju Terwujudnya Wisata Budaya Terpadu di Kabupaten Sumedang

17 Februari 2020   00:27 Diperbarui: 20 Februari 2020   17:02 1789
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Koleksi Ikonik Museum

Diantara semua koleksi museum, yang paling ikonik adalah Mahkota Binokasih dan Kereta Kencana Naga Paksi. Itulah yang paling mudah diingat dan membekas di ingatan penulis ketika berkunjung kesana.

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake (dok.pri)
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake (dok.pri)
Mahkota Binokasih merupakan lambang eksistensi kekuasaan Pajajaran di Tatar Sunda, yang dibuat oleh Batara Guru di Jampang pada masa Raja Pajajaran Prabu Bunisora Suradipati (1357-1371). Tiga raja Pajajaran yang menggunakan Mahkota Binokasih, antara lain: Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475), Prabu Susuktunggal (1382-1482), Prabu Sri Baduga Maharaja (1482-1521).

Pada masa Prabu Ragamulya Suryakancana (1567-1579), beberapa wilayah kekuasaan Pajajaran diserang dan berhasil diduduki oleh pasukan Surasowan Banten. Melihat kondisi yang sudah tak menentu, akhirnya Prabu Ragamulya pun memerintahkan empat Senapati Pajajaran untuk menyelamatkan pusaka berupa Mahkota Binokasih ke Sumedanglarang. Mereka menyamar sebagai Kandaga Lante dan berangkat bersama rakyat Pajajaran yang mengungsi.

Pada hari Jum'at legi tanggal 22 April 1578 (bertepatan dengan Idul Fitri), empat Kandaga Lante yang membawa pusaka akhirnya sampai di Keraton Kutamaya. Kemudian menyerahkan pusaka dan alas parabon kepada penguasa Sumedanglarang (Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri).

Pada masa itu pula, putra Ratu Pucuk dan Pangeran Santri yaitu Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai raja Sumedanglarang ke IX dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578-1601) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran.

Sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kerthabumi I/2 (h. 69) yang berbunyi:

"Geusan Ulun nyakrawarti mandala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng Kutamayan ri Sumedangmandala."

(Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang).

Bahkan Mahkota Binokasih ini dijadikan monumen juga lho. Itu bisa kita temui di bundaran Polres Sumedang. Dijadikannya Mahkota Binokasih sebagai penghias monumen, bukan tanpa alasan. Para Budayawan dan Pemerintah, sebelumnya memang telah mendiskusikan terlebih dahulu, ikon apa yang pantas untuk dipasang di puncak monumen. Sebuah ikon yang memberikan kesan kuat sebagai identitas Sumedang.

Pemasangan Replika Mahkota (ig @eq_mendayun)
Pemasangan Replika Mahkota (ig @eq_mendayun)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun