Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Artikel Utama

Hindari Mengatur Pengemis Sebatas Bibir

14 Mei 2019   08:20 Diperbarui: 14 Mei 2019   12:40 0 40 13 Mohon Tunggu...
Hindari Mengatur Pengemis Sebatas Bibir
Pengemis di pintu gerbang Masjid Luar Batang, Jakarta. Foto | Dokpri

Setiap hari Nabi menyuapi mulut sang pengemis buta dengan lembut. Padahal pengemis Yahudi buta yang berada di sudut pasar Madinah Al-Munawarah itu selalu menghina Rasulullah.

 "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya," kata si penemis di setiap ada orang yang mendekatinya. 

 Pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW, yang mendatanginya setiap pagi, tidak membalas segala hal yang dilakukannya, melainkan membawakan makanan dan menyuapi penuh kasih sayang.  

Kebiasaan Rasul ini berlangsung hingga menjelang Beliau SAW wafat. Hingga tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu karena Rasulullah telah wafat.

"Pengemis hadir di tempat-tempat tersebut meminta demi mendapat perhatian dan kelangsungan hidup dari orang-orang yang beruntung."

Suatu saat Abu Bakar mengganti menyuapi si pengemis buta. Terjadi dialog ketika Abu Bakar menyuapinya.  

Si pengemis itu marah dan berteriak, "Siapakah kamu?" Abu Bakar pun menjawab, "Aku orang yang biasa," pengemis buta itu kembali berteriak mengatakan:

"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri."

Seketika, air mata Abu Bakar tidak dapat terbendung dan kemudian menangis seraya mengatakan "aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW."

Pengemis itu pun ikut menangis setelah mendengar cerita Abu Bakar r.a dan mengatakan: "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2