Humaniora Artikel Utama

Janji Manis dari Pembenahan Trotoar Ibu Kota

4 Mei 2018   21:41 Diperbarui: 5 Mei 2018   19:18 2128 20 11
Janji Manis dari Pembenahan Trotoar Ibu Kota
Pekerja trotoar di Lapangan Banteng. Foto | Dokpri

Pembenahan trotoar yang tengah dilakukan di sejumlah ruas jalan di Jakarta dimaksudkan untuk memberi rasa nyaman bagi para pejalan kaki. Realitasnya, bagi warga Ibu Kota, itu hanya janji manis. Malahan, pembangunan trotoar di beberapa titik wilayah Jakarta membuat rasa kesal.

Selain membikin macet pengguna kendaraan, terjadi tingkat polusi tinggi akibat sisa pembakaran dari kendaraan di tengah kota. Selain itu, juga mempersempit ruang gerak pejalan kaki.

Seberapa tinggi tingkat polusi yang terjadi akibat kemacetan di wilayah itu. Tentu dinas lingkungan hidup setempat yang tahu. Tapi yang jelas angkanya berfluktuasi dan menimbulkan rasa sesak di dada.

Jalan Pejambon, Lapangan Banteng dan sekitarnya, contohnya. Pekerjaan pembangunan trotoar  sudah lebih dari tiga bulan tak kunjung selesai pekerjaannya. Pada areal lahan yang tengah dikerjakan itu dipasang spanduk ukuran besar yang berisi pesan bahwa proyek tersebut diawasi (dikawal) pihak kejaksan setempat.

Minim tenaga kerja bangunan. Foto | Dokpri
Minim tenaga kerja bangunan. Foto | Dokpri
Trotoar belum rapi, bahu jalan digali. Foto | Dokpri
Trotoar belum rapi, bahu jalan digali. Foto | Dokpri

Keren deh,  diawasi!

Meski ditegaskan bahwa proyek pengerjaan tersebut diawasi, tak pernah terdengar kapan batas akhir pekerjaan harus rampung. Pihak kejaksaan yang memasang spanduk ukuran besar tentu dimaksudkan agar semua progress pekerjaan dinyatakan patut diketahui publik. Tegasnya, semua pekerjaan harus diketahui publik. Kerennya, transparan.

Dari pengamatan di lapangan, tampak pekerjaan tidak dikroyok pekerja. Kalau pun ada kuli bangunan di situ, kerjanya lebih mengesankan lelet, sementara mandor bangunan tak kelihatan batang hidungnya.

Kemacetan dirasakan tiap hari. Saat begini, tidak tampak petugas atau aparat untuk memperlancar arus lalu lintas. Keadaan makin parah di sekitar itu lantaran dekat Hotel Borobudur, bahu jalan dimanfaatkan sebagai lahan parkir hingga Jalan Lapangan Banteng Timur.

Dan, saat hari besar, seperti Hari Pendidikan Nasional, kemacetan juga makin parah lantaran Jalan Pejambon dipadati mobil. Karyawan yang berkantor di situ ikut apel atau upacara, sedang mobil diparkir di luar kantor.

Pejalan kaki tak nyaman. Foto | Dokpri
Pejalan kaki tak nyaman. Foto | Dokpri
Seperti juga di Jakarta, pemasangan spanduk kawal proyek dari kejaksaan di pasang. Foto | Tribun
Seperti juga di Jakarta, pemasangan spanduk kawal proyek dari kejaksaan di pasang. Foto | Tribun

Ya, tambah macet lah!

Kini, jika dicermati ruas jalan di sekitar Lapangan Banteng dan Pejambon terasa semakin tidak nyaman. Belum lagi kerja di trotoar belum usai dan berantakan, kini menyusul pembongkaran trotoar untuk pekerjaan pemasangan kabel PLN.

Pekerjaan trotoar di kawasan Lapangan Banteng pernah dikerjakan setahun lalu. Kini, belum dinikmati pejalan di kawasan itu, trotoar kembali dibongkar bersamaan dengan pembenahan Lapangan Banteg, yang meliputi: lapangan sepak bola, taman, areal rekreasi, dan pagar.

Harapannya sih, pembenahan areal trotoar itu dimaksudkan untuk memberi rasa nyaman pejalan kaki bagi warga kota. Namun nampaknya itu hanya berupa janji surga Pemda DKI Jakarta. Loh, mengapa?

Pedagang di trotoar. Foto | Dokpri
Pedagang di trotoar. Foto | Dokpri
Trotoar juga bisa untuk tempat tidur. Foto | Dokpri
Trotoar juga bisa untuk tempat tidur. Foto | Dokpri
Coba jika anda sering berkeliling kota. Perhatikan areal trotoar yang sudah dirampungkan. Tak jauh dari Jalan Salemba, tepatnya dekat kawasan RS Thamrin, trotoar telah berubah menjadi lahan bagi pedagang kaki lima dan parkir liar.

Di Jalan Rawamangun, dekat rumah sakit bersalin dan masjid setempat pernah dilakukan penderekan mobil parkir liar. Hasilnya, sekarang, nihil. Sebab, tidak berefek apa pun.

Trotoar sangat penting bagi keselamatan pejalan kaki. Di negara mana pun hal ini menjadi bagian penting untuk meningkatkan layanan publik. Demikian pula bagi warga Jakarta. Apalagi pada Agustus mendatang, di Ibukota digelar hajatan besar berupa Asian Games.

Sayang, acak kadulnya pembangunan proyek trotoar itu belum mendapat perhatian serius Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswadan. Sangat dikhawatirkan menjelang pesta olahraga se-Asia itu pekerjaan trotoar tidak kelar. Patut kita bertanya, adakah Anies turun ke lokasi penataan trotoar.

Coba perhatikan Jalan Kramat Raya. Di sini instansi terkait dan Petugas Dinas Perhubungan juga tak pernah menata parkir dan trotoar. Kawasan itu, biasanya pagi hari dari arah Senen-Salemba, arus lalu lintas lancar. Sekarang, maceeet.  Penulis jamin petugas tak punya nyali menderek mobil terparkir liar di sini. Apa lagi yang parkir kendaraan polisi yang berkantor di situ. Hehehe itulah romantikanya kehidupan Jakarta.