Edi Santoso
Edi Santoso

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Tentang Makna yang Tak Pernah Sama

7 Juni 2018   06:37 Diperbarui: 7 Juni 2018   11:21 2726 10 2
Tentang Makna yang Tak Pernah Sama
portal-islam.id

Salam "metal" Bupati Purbalingga mendadak populer. Kebetulan, acungan tiga jari Tasdi yang baru saja ditangkap KPK itu dilakukannya beberapa kali, seperti menegaskan sebuah pesan tertentu. Berbagai komentar pun meramaikan media sosial, "Ada apa dengan salam metal Pak Bupati?" Berbagai pihak mencoba menafsirkan pesan Tasdi itu, termasuk salah seorang mahasiswa saya yang tiba-tiba kirim pesan, "Pak, menarik kayaknya, ya kalau salam metal Tasdi dianalisis dengan semiotika."

Saya jadi tertarik juga berkomentar, tetapi lebih untuk mengaitkan dan menegaskan salah satu poin materi yang dibahas dalam materi filsafat bahasa pekan lalu, khususnya menyangkut pemikiran Hermeneutika Hans-Georg Gadamer, pada Program Magister Ilmu Komunikasi Unsoed. Untuk tinjauan dari aspek "tanda", biarlah mahasiswa tadi yang membahas dengan semiotika.

Kembali pada salam metal Pak Bupati, ternyata banyak sekali penafsiran. Ada yang menafsirkan dari aspek psikologis, misalnya, bahwa acungan jari yang seolah menunjukkan keberanian itu sejatinya merupakan ekspresi kekalutan dan kepanikan. Ada lagi yang mengaitannya dengan afiliasi ideologis Tasdi, yakni PDIP, yang kebetulan bernomor urut tiga. Ada pula yang menafsirkannya sebagai kode "SOS", dan masih banyak penafsiran yang lain.

Bupati Purbalingga Tasdi (tengah) mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (5/6/2018). KPK resmi menahan Tasdi setelah terjaring operasi tangkap tangan terkait kasus dugaan suap proyek Purbalingga Islamic Center tahun 2018.(ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY)
Bupati Purbalingga Tasdi (tengah) mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (5/6/2018). KPK resmi menahan Tasdi setelah terjaring operasi tangkap tangan terkait kasus dugaan suap proyek Purbalingga Islamic Center tahun 2018.(ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY)
Di antara yang khas dari pemikiran Gadamer (jika dibandingkan dengan pemikiran pendahulunya, seperti Schleiermacher atau Dilthey), adalah pentingnya melibatkan faktor pembaca dalam proses interpretasi teks, di luar pembuat dan teks itu sendiri. Makna teks tak akan bisa diobjektivikasi, karena akan sangat bergantung pada siapa yang membaca. Filsuf Jerman ini menyebut faktor pra-pemahaman (pre-understanding) yang menjadi pangkal beragamnya penafsiran.

Maksudnya, orang tak pernah dalam ruang kosong dalam proses interpretasi sebuah teks. Orang sudah memiliki pemahaman tertentu sebelum memahami hal lainnya. Proyeksi, kata Gademer, tak pernah bisa dihindari dalam proses interpretasi. Kalaupun ada penafsir yang mencoba membersihkan proyeksinya, sebetulnya dia berada dalam proyeksi yang lain.

Dari asumsi inilah, kita bisa melihat beragamnya tafsir "salam metal" itu tak terlepas dari proyeksi masing-masing orang. Bagi yang punya intensi politik, tanda tersebut mungkin segera ditafsirkan dalam konteks politik, misalnya dihubung-hubungkan dengan kontestasi politik lokal. Bagi yang senang atau punya latar belakang psikologi, bisa jadi menafsirkannya dalam konteks kejiwaan. Latar belakang personal, prasangka, kondisi lingkungan, atau hal lainnya, akan memberikan pengaruh terhadap proses interpretasi seseorang.

Contoh lain, kita sering melihat judul berita dari dua media yang berbeda, yang seolah bertentangan, padahal keduanya meliput acara serupa, dengan narasumber yang sama pula. Seorang wartawan yang menyimak penuturan narasumber pada dasarnya melakukan proses penafsiran, dan kemudian mengemasnya dalam bentuk berita untuk disampaikan kepada khalayak. Peran ini serupa dengan mitologi Hermes, yang menjadi akar istilah Hermeneutika. Dewa Hermes berperan sebagai penghubung antara dewa dan manusia. Hermes menafsirkan pesan-pesan dari dewa untuk kemudian disampaikan pana manusia.

Beragamnya penafsiran itu, menurut Gadamer, juga dipengaruhi aspek kesejarahan. Manusia, sering disebut sebagai makhluk yang 'mensejarah'. Pemahaman orang, baik sadar atau tidak, dipengaruhi oleh kesadaran sejarah. Karenanya, pemahaman orang tak terlepas dari konteks waktu yang bersangkutan. Pemahaman orang pada suatu teks di masa Orde Baru misalnya, akan berbeda dengan pemahaman orang di masa Reformasi. Beda generasi, beda sudut pandang.

Memang, pembaca tak bisa sepenuhnya subyektif atau semena-mena dalam menafsirkan, karena horison pembaca akan bertemu dengan horisan pengarang. Jadi, makna itu terbentuk melalui proses asimilasi antara horison pembaca dan pengarang. 

Horison pembaca bersifat dinamis, berkembang sesuai dengan pengalamannya. Maka, teks yang sama, bisa kita baca secara berbeda, misalnya pada saat kita duduk di bangku SMA dan ketika kita sudah kuliah di perguruan tinggi. Ini terjadi, karena kita mengalami pembauran horison yang makin beragam. Gadamer menyebutnya sebagai "Bildung", yang secara mudah bisa kita artikan sebagai sikap terpelajar (keterbukaan).

Pengalaman berbaur dengan berbagai horison akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem. Kita akan menyadari bahwa makna sebuah pesan itu selalu beragam (polisemik). Tak heran, jika ada orang yang cepat bereaksi atau gampang baper ketika merespon sebuah kabar, maka muncul ungkapan, 'orang itu kurang piknik'.

Andai saja para pengguna media sosial selalu berpikir terbuka, terus melibatkan diri dalam berbagai bauran horison hermeneutika, rasanya tak perlu gontok-gontokan ketika membincangkan sebuah isu. Karena, makna tak pernah sama.... ***