Mohon tunggu...
edo murtadha
edo murtadha Mohon Tunggu... Foto/Videografer - I love traveling, making video

The best idea is the one that you're doing!

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Desa Aru: Desa Para Bajubi Morotai

8 April 2020   10:47 Diperbarui: 8 April 2020   11:00 332
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman dan cerita saya saat saya mengunjungi satu desa kecil di kepulauan Morotai, Maluku Utara di mana saya belajar banyak hal dan mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa selama saya Travelling.

Tidak banyak yang mengetahui nama desa Aru di kepulauan Morotai ini, jaraknya juga tidak bisa dibilang dekat. Sekitar empat jam berkendara sepeda motor dari Pelabuhan Daruba yang ada di Morotai, Maluku Utara.

Desa harus sendiri bukanlah satu desa yang besar, tapi mereka memiliki keindahan alam dibelakang desa mereka yang betul betul menakjubkan sampai sampai saya berfikir bahwa saya sedang ada di dalam film saking terpesonanya saya saat melihat pantai tepat di belakang desa mereka.

70% laki laki di desa ini bekerja sebagai Bajubi, atau lebih tepatnya nelayan yang menangkap ikan menggunakan panah kenapa dibilang bajubii karena panah atau Busur dalam bahasa mereka adalah Jubi atau Jubi-jubi.

Dokpri
Dokpri
Berbekal alat seadanya yang mereka buat sendiri seperti misalnya kaki katak yang terbuat dari drum plastik dan kaca mata atau mas serta panah yang mereka buat sendiri dari kayu dan juga besi lakilaki yang ada di desa Aru hampir setiap hari menyelam dan menangkap kan menggunakan Jubi tersebut.

Karena keterbatasan infrastruktur terutama rumah akhirnya mereka membuat kan kami tenda sementara yang terbuat dari terpal dan bambu serta kayu kayu yang mereka dapat di sekitar pantai. Mereka juga menjamu kami dengan ikan segar yang baru mereka tangkap di pagi hari tidak ketinggalan juga lobster segar menjadi Santapan kami pada hari itu.

Malah menurut salah satu teman saya dari desa Aru tersebut salah satu anggota keluarganya bisa menahan nafas di dalam air atau di dalam laut selama kurang lebih empat sampai 5 menit. Tanpa bantuan apapun lho.

Tidak ada bumbu kompleks yang mereka pakai saat menyajikan ikan ikan segar tersebut. Mereka hanya membersikan ikan, Meureundam sebentar ikan di dalam air laut, memberikan sedikit jeruk nipis dan kemudian dibakar. Bukan nasi ataupun lontong yang kami makan bersama dengan ikan tersebut melainkan ubi rebus ataupun ubi bakar di atas Pelepah daun pisang.

Dokpri
Dokpri
Rasanya benar benar seperti makan di restoran otentik Indonesia yang mahal, tapi bedanya makan di restoran mahal kami tidak mendapatkan pemandangan yang betul betul Indah dan masih sangat alami seperti yang kami temukan di desa Aru, Morotai, Maluku Utara ini.

Untuk kalian yang membaca tulisan saya ini dan ingin pergi ke desa Aru, silahkan message saya di bawah dan saya akan membantu kalian untuk mendapatkan kontak kontak yang bisa kalian gunakan untuk bertanya tentang desa ini. Karena memang desa ini tidak Sembarang orang bisa pergi ke sana dan mengetahui desa desa ini.

Penduduk Desa Aru sangat sangat ramah kepada kami saat kami pergi mengunjungi mereka, jadi jika kalian ingin mengunjungi mereka dan bertukar pengalaman dengan mereka saran saya kalau bisa kalian bawa beberapa snack atau jajanan untuk anak anak di sana dan mungkin juga makanan makanan lainnya yang bisa kalian berikan kepada teman teman saya yang ada di desa aru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun