Mohon tunggu...
I Ketut Suweca
I Ketut Suweca Mohon Tunggu... Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Menulis (Ternyata) Melahirkan Banyak Keajaiban, Benarkah?

23 Mei 2020   19:27 Diperbarui: 25 Mei 2020   19:34 565 40 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis (Ternyata) Melahirkan Banyak Keajaiban, Benarkah?
Ilustrasi menulis. (sumber: 9to5Mac via kompas.com)

Hari ini adalah hari libur, Sabtu. Saya, istri, dan anak-anak berada di rumah. Masing-masing dari kami  memiliki aktivitas. Saya pun mencoba membuka laptop, hendak menulis. Tapi, menulis tentang apa? Masih berpikir. Masih mencari inspirasi!

Sementara saya tinggalkan laptop, lalu pergi ke beranda rumah. Saya ikuti anak yang sedang olah raga yoga di situ. Ikut bergerak pelan dengan seluruh perasaan, seperti yang anak saya lakukan.

Setelah melakukan beberapa gerakan ternyata perasaan menjadi lebih fresh, lebih segar. Bergerak perlahan sambil menghirup udara yang sejuk di bawah sinar lembut matahari pagi alangkah menyenangkannya.

Menulis Catatan Harian

Usai ikuti anak berlatih senam di beranda rumah, saya mengambil buku. Sebuah buku tentang menulis dari Iqbal Dawami, terbitan Leutika, tahun 2010. 

Buku bagus yang saya beli tahun 2011 ini banyak bertutur tentang keajaiban menulis sehingga diberi judul The Miracle of Writing. Dari buku ber-cover merah kecoklatan ini, penulisnya memaparkan tentang keajaiban menulis, termasuk kegunaan menulis diary.

Ketika mulai membaca buku ini secara sekilas, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan Bapak Rustian Al Ansori dengan judul Gara-gara "Gatal" Menulis Jadi Hobi Baru Menulis di Buku Harian yang belum lama saya baca di blog bersama, kompasiana.

Pak Rustian, kompasianer yang selalu aktif menulis ini bertutur tentang keaktifan beliau kembali menulis di buku harian. Salah satu tujuan beliau adalah untuk membiasakan diri kembali menulis dengan tulisan tangan.

Seperti dikatakan, kita lebih sering menulis dengan perangkat berteknologi seperti smartphone, laptop, komputer, dan sejenisnya. Gagasan Pak Rustian bagus sekali, mengajak kita semua untuk tidak lupa menulis tangan.

Menulis tangan dengan indah sudah saya pelajari di SD, di kelas satu dan dua. Bapak atau ibu guru -- dua diantaranya bernama Pak Munggah dan Pak Buntik,  melatih kami bagaimana teknik menulis dengan indah, menulis tebal-tipis-halus. Mana huruf yang lebih tinggi daripada yang lain.

Biasanya kami berlatih dengan menggunakan buku bergaris yang di antara garis itu terdapat garis tipis di tengahnya sebagai pemandu. Dikenal dengan sebutan Buku Garis Tiga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN