I Ketut Suweca
I Ketut Suweca pegawai negeri

Membaca dan menulis adalah minatnya yang terbesar. Kelak, ingin dikenang sebagai seorang penulis.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Bekerja dengan Penuh Sukacita

12 Januari 2019   15:31 Diperbarui: 12 Januari 2019   15:35 445 13 3

Mengapa bekerja? Untuk apa bekerja? Sebuah pertanyaan yang filosofis dan sangat substantif.  Terdapat beragam jawaban yang mungkin muncul. Ada yang mengatakan, bekerja itu perlu untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, karena hanya dengan bekerja orang mendapatkan penghasilan. Ada pula yang menyatakan bahwa tanpa bekerja orang tidak akan dapat bertahan hidup. 

Menurutnya, untuk bisa hidup normal, siapapun perlu menggerakkan tubuh, pikiran, hati, dan karsa-nya dengan bekerja. Orang spiritualis berkeyakinan bahwa bekerja itu adalah perintah Tuhan. Manusia yang dilahirkan ke dunia ini memang sudah seharusnya bekerja. Jika tidak, berarti dia mengingkari fitrah-nya sebagai manusia.

Lantas, bagaimana kita bisa menyenangi pekerjaan dan dengan sukacita melakukannya,  mengurangi kebiasaan mengeluh? Bagaimana kita bisa berdisiplin dan dengan tulus-ikhlas melaksanakan pekerjaan sehari-hari?

Bentuk Ibadah dan Keikhlasan

Pertama, cintai pekerjaan itu. Untuk bisa menikmati pekerjaan dan memperoleh kegembiraan, maka cintai pekerjaan tersebut. Sebisanya, ambil pekerjaan yang sesuai dengan passion atau minat. 

Dengan mengerjakan pekerjaan yang kita sukai, maka kita akan mendapatkan sukacita darinya. Bagaimanakah kalau pekerjaan yang kita lakoni tak sesuai passion? Hanya ada dua pilihan, berusaha dengan sungguh-sungguh mencintai pekerjaan itu dengan mendalaminya, atau resign dan temukan pekerjaan yang selaras dengan minat.

Kedua, pandanglah bekerja itu sebagai wujud bakti kepada Tuhan. Kalau bisa bersikap seperti ini, maka kita akan bekerja dengan sungguh-sungguh, karena di dalamnya ada misi suci besar yang sedang kita perjuangkan, yakni bekerja sebagai wujud bakti atau ibadah kepada pemilik kehidupan ini. Setiap kerja yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, setiap hasil yang kita peroleh adalah karunia Tuhan. Kegembiraan, bahkan kebahagiaan, niscaya akan hadir karena kita merasa yakin sudah bekerja di jalan Tuhan.

Ketiga, bekerjalah dengan ikhlas. Inilah bagian yang paling sulit. Ada adagium yang berbunyi: quid pro quo (sesuatu untuk sesuatu). Jadi, bekerja pun ada pamrihnya. Untuk dapatkan penghasilan, misalnya. 

Tidaklah masalah dengan hal ini. Yang terpenting, tugas kita adalah bekerja dan bekerja dengan sebaik kita bisa, hasilnya ditentukan oleh Tuhan. Jika kita bekerja dengan baik, maka hasilnya pun akan baik, demikian pula sebaliknya.  Di sini berlaku hukum sebab-akibat. Maka, tugas kita adalah bekerja dengan baik dan ikhlas, tanpa menggerutu. Bukankah hasil tak pernah mengingkari usaha?

Tetapkan Target dan Jadilah Profesional 

Keempat, bekerjalah dengan target. Di dalamnya termasuk target kuantitas, standar kualitas, dan target waktu. Tanpa target, orang cenderung bekerja dengan mengikuti mood saja. Saat muncul mood, baru bekerja. 

Sebaliknya, jika suasana hati sedang jelek, maka memilih berleha-leha. Ini kesalahan manajemen diri yang berdampak negatif terhadap hasil kerja sekaligus menjadi lahan yang baik bagi tumbuh suburnya kebiasaan menunda dan kemalasan yang akut. Target atau goal sangat dibutuhkan untuk melecut gairah kerja.

Kelima, bekerjalah secara profesional. Kita bekerja tidak sekadar untuk membunuh waktu,  bukan?  Di samping itu, kita tak bisa lagi bekerja sekadar mengandalkan akal sehat (common sense), melainkan seharusnya berdasarkan keterampilan atau keahlian di bidang yang kita tekuni. Profesionalisme kian menjadi tuntutan. Jika kita bekerja masih mengandalkan pengetahuan umum saja, tanpa keterampilan/keahlian spesifik, maka sudah saatnya kita berbenah diri dengan segera memperkuat kompetensi dengan belajar tiada henti. 

Belajar dari buku, belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari bangku kuliah/kursus, belajar dari praktik langsung di lapangan, dan lainnya. Hendaknya kita jangan pernah merasa puas dengan kemampuan saat ini. Untuk menjadi profesional, pilihannya adalah dengan terus=menerus belajar.

Mari kita bekerja sebagai wujud bakti kita kepada Tuhan dan bekerja untuk bisa menghidupi diri sendiri dan orang lain. Mari kita bekerja untuk membuat hidup ini bermanfaat dan bekerja secara profesional dengan selalu berusaha meningkatkan kompetensi. Kita ekspresikan rasa syukur dengan melakoni pekerjaan dengan baik, ikhlas, dan penuh sukacita.

( I Ketut Suweca, 12 Januari 2019).