Mohon tunggu...
Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan Mohon Tunggu... Pemerhati Pendidikan -

Selanjutnya

Tutup

Politik

Setahun Bersama Pemimpin di Negeri Abu Nawas Jilid 2

20 Oktober 2015   18:40 Diperbarui: 20 Oktober 2015   18:40 639
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oktober tahun lalu tepatnya 20 oktober pemimpin bangsa telah terpilih oleh suara rakyat akhirnya "dibulatkan" untuk mendaulat pasangan Jokowi-JK mengawal bahtera Indonesia. Hampir serupa dengan terpilihnya Obama dari amerika Serikat, Jokowi disambut tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar. Entah mengapa mereka menyambut begitu gembira terpilihnya Presiden Republik atau mungkin perasaan was-was sudah terhindarkan dari salah satu kandidat yang kala itu kalah bersaing dengan pamor "Blusukan".

Sebelum melanjutkan kebagian cerita tentang Negeri ini, ada beberapa kisah yang beredar tentang seorang kandidat hakim di Masa Harun Al Rasyd, dia adalah sosok yang dianggap sebagai filsuf yang terkenal, Abu Nawas. Tidak semua orang percaya tentang cerita Abu Nawas, Ada sebagaian diantara mereka yang menganggap abu Nawas hanya karangan cerita lucu Belaka, beberapa orang diantaranya juga menganggap Abu Nawas adalah sosok idola yang memiliki kemampuan berfikir yang bersifat visioner, Namun menurut hemat saya Abu nawas tidak lebih dari seseorang yang ingin menunjukkan nilai di balik kata ingin terbang.

Abu Nawas ingin Terbang.

Suatu ketika ketika abu nawas hendak di hukum gantung oleh baginda raja Harun Al Rasyid karena kritikannya yang pedas terhadap raja. Sebelum Abu Nawas dihukum gantung dengan cekatan seperti Kelinci berlari,  ia mengumumkan dirinya ingin terbang, mendengar cerita tersebut sontak sang raja, Harun Al Rasyid penasaran. Mungkin saja ketika itu diucapkan oleh orang biasa tanpa citra filsuf dibelakang namanya, maka langsung saja dianggap sebagai kelakar belaka, namun karen apernytaan ingin keluar seorang tentu saja membuat orang ingin mengetahui cara orang pintar ini terbang.

Singkat cerita sang raja memamnggil Abu Nawas untuk hadir mempertanggungjawabkan perkataannya dengan iming-iming bebas dari hukuman kalau ia berhasil membuktikan kata-katanya. Namun jika tidak berhasil maka Abu Nawas Akan segera di Gantung.

Kejadian yang terjadi puluhan abad silam ini seperti yang kita ketahui bersama, Abu Nawas bahkan tidka bisa terbang sedikitpun, hanya saja lolos dari permainan kata Abu Nawas "ingin" terbang. 

Kala itu Abu Nawas naik ke Menara Masjid dan menggoyankan tangannya naik turun seolah-olah burung yang hendak terbang kemudian turun dan menanyakan apa yang ia lakukan kepada masyarakat. Secara tata Bahasa Abu Nawas memang sudah benar kalau dirinya "Ingin" terbang, namun bukan berarti Abu Nawas bisa terbang. Kalimat sederhana ternyata mampu menyita seluruh pelosok kerajaan bahkan sampai sekarang cerita ini masih berhasil dipertahankan.

Siapa yang Bodoh atau Siapa yang Pintar.

Cerita ini menjadi menarik ketika sebuah kalimat yang bahkan otak sebodoh apapun pada zaman itu tidak akan membenarkan manusia bisa terbang terbukti berhasil menarik perhatian. Ada tiga hal yang membuat cerita ini menjada legenda

  1. Kalimat ingin terbang diucapkan oleh orang yang sudah memiliki Nama besar, Yakni filsuf. Seketika kalimat itu diucapkan oleh rakyat biasa mungkin tidak akan ada menariknya.
  2. Rakyat terlalu bodoh karena terpesona oleh nama Besar yang mengucapkan kalimat tersebut sehingga tidak ada yang menimbang akal sehatnya sendiri.
  3. Setelah mengetahui Abu Nawas terbukti tidak bisa terbang, orang-orang malah memberikan penghargaan kepadana karena berhasil mengingatkan Raja.

Setahun Bersama Pemimpin di negeri Abu Nawas.

Sebenarnya setahun bukanlah waktu yang cukup untuk cerita ini karena kita sudah di Jadikan Raja oleh parah politikus sejak jaman Reformasi di Tabuh. Saya sama sekali tidak mendukung orde baru yang menyimpan lebih banyak pertanyaan dibandingkan dengan kabar gembira, namun kita seolah-oleh dibodohi kata "ingin" yang disampaikan oleh para pemimpin bangsa ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun