Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Kompasiana Tabungan Tulisanku Selama 11 Tahun

7 Juli 2021   07:53 Diperbarui: 7 Juli 2021   07:58 93 14 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasiana Tabungan Tulisanku Selama 11 Tahun
kompasiana.com

Bagaimanapun aku perlu bertepuk tangan atas kesetiaanku untuk tetap menulis di Kompasiana. Sejak 27 Januari 2010 tercatat di memori Kompasiana sampai Juli di tahun 2021. Cukup mencengangkan masih setia menulis di platform Kompasiana. Apa yang sudah aku petik ? ataukah sama sekali tidak membanggakan mengingat selama itu aku masih bukan siapa - siapa.

Aku masih saja pengelana yang bersetia menulis kalau sedang suka dan akan berhenti kalau lagi malas menebar kata. Sudah seberapa kata kutulis ? tidak pernah kuhitung, seberapa artikel yang sudah di publish ada sekitar 1166. Cukup banyak atau sedikit? Bagi ukuran penulis produktif  biasa saja, tidak terlalu buruk tetapi juga tidaklah mentereng, karena seharusnya bisa saja kutulis artikel lebih dari 3000 kalau konsisten menulis setiap hari.

Sampai hari ini aku masihlah penjelajah yang empot - empotan mengejar jatah fanatik, betapa lambannya mirip seperti perjalanan siput, serasa tidak sabar kapan bisa mencapai tataran fanatik kalau pembacanya saja hampir selalu dipastikan tidak lebih seratus dengan komentator yang bisa dihitung dengan jari.

Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah kesetiaan itu. Kecewa, terlecut dengan agresifnya para penulis yang datang belakangan atau mengalir saja selayaknya air yang datang dari mata air pegunungan. Ya, kalau ingin bersaing rasanya sudah susah, selalu tersengal melihat kemampuan para jagoan menulis.  Apalagi para raja yang sedemikian konsisten bisa mengambil keuntungan dari kegiatan menulis di Kompasiana.

Tapi bila kadang merasa kecewa dengan perjalanan lambat memperoleh keuntungan dari Kompasiana mengapa masih bertahan? Saya merasa apapun perjalanan yang aku lalui ini adalah sebuah ujian. Dan ujian yang diterima setiap manusia berbeda- beda. Ada yang dengan cepat melewati jalan sunyi, ada yang sedemikian lama berjalan masih saja belum menemukan jalan terang bagaimana lepas dari jalan sunyi tersebut. Mungkin tergantung kapasitas intelektual ataupun keberuntungan seseorang.

Ada yang mengambil langkah berdarah- darah duluan bersorak sorai kemudian. Ada yang slow, mengalir, tidak pernah memikirkan apakah dengan menulis akan bisa melompat menjadi seorang motivator, mendadak seleb ketika novel yang ditulisnya meledak dan akhirnya sibuk ke sana ke mari mengenalkan novel terbarunya yang merupakan batu loncatan untuk menahbiskan diri dari penulis blog  menjadi penulis novel yang setiap cetak selalu habis ludes.

Selama menulis, sebetulnya setiap penulis pasti ada kerinduan, kapan tulisan- tulisan yang ia tabung di platform semacam Kompasiana menjadi pondasi untuk mengukuhkan diri sebagai penulis profesional. Dari serenceng tulisan yang ditulis bertahun - tahun apakah tidak terpikir untuk dijadikan monumen pemikiran dengan menjadikannya sebuah buku, atau berentetan buku seri?

Aku sudah melakukannya dengan menerbitkan buku solo meskipun terus terang aku bingung bagaimana memasarkannya sehingga buku itu mampu memberiku sebuah lompatan kasta bukan lagi penulis platform blog tetapi penulis buku. Nah untuk itu aku belajar dari kegagalan, belajar dari ketidakmengertianku tentang publikasi dan pemasaran dan berjanji akan mengenalkan tulisanku setelah keadaan normal tidak lagi ada pandemic. Kapan? Itu yang tidak aku tahu?

Waktu terus berjalan sedangkan aku kadang masih terkesima oleh mereka yang demikian cepat berani berspekulasi untuk menerabas. Harus ada keberanian untuk berpikir jauh ke depan, berpikir di luar kebiasaan, atau berani menerobos zona nyaman untuk berkembang dengan jalur di luar pakem.

Dan aku mencatat mereka (para penulis) yang berjalan di luar pakemlah yang sering memanen hasil nyata. Sedangkan aku masih saja seperti siput asal berjalan, asal masih menulis dan tetap bersetia dengan pola pemikiran linier, sesuai garis sesuai pola.

Maka ketika Kompasiana sudah melompat tinggi dengan tulisan - tulisan para milenial yang jauh lebih populer, aku masih menulis semampu bisa menjangkau ranah berita yang sebelumnya sudah diviralkan penulis lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN