Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ustad Adi Hidayat, Bicara tentang Katolik Tanpa Data Itu Konyol

8 Mei 2021   15:01 Diperbarui: 8 Mei 2021   15:01 3224
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sejarah katolik dalam lukisan (apostolik.org)

Bicara tentang agama katolik, adalah bicara tentang sebuah organisasi, sebuah struktur, dan tentunya data. Para Pastur mereka belajar filsafat, belajar ilmu pengetahuan, belajar bidang- bidang umum untuk memperjelas bahwa agama bukan hanya masalah surga dan neraka.

Katolik Sebagai Agama Dengan Tradisi Literasi dan Basis Data

Katolik yang berarti umum, mempunyai sejarah riset, data yang akurat dari tingkat kepausan sampai tingkat lingkungan (komunitas terkecil dalam agama Katolik). Jika ada pemuka agama lain mencoba mengupas agama katolik tanpa data dan hanya praduga dan katanya...dipastikan ia akan malu, sebab kelihatan bahwa ternyata ia tidak cerdas dalam menarasikan kebenaran. Banyak referensi tentang katolik, baik di buku - buku yang telah ditulis oleh para pastur dari abad ke abad. Peradaban literasi yang sudah maju sejak dulu akan mudah menemukan data tentang agama katolik. Jadi kalau ada orang yang bicara tentang katolik dengan hanya berdasarkan data katanya, utak atik gatuk, dan lucu- lucuan pasti malah akan berbalik, menandakan bahwa omongannya hanyalah berdasarkan asumsi, tidak mau tahu dan hanya berdasarkan dugaan tanpa riset dan data valid. Berarti berbohong padahal berbohong itu sangat dihindari dalam pengajaran agama apapun. 

sejarah katolik dalam lukisan (apostolik.org)
sejarah katolik dalam lukisan (apostolik.org)
Kalau sekedar mengajari  tanpa data akurat, hanya utak - atik gatuk, tukang obat yang berjualan di pasar dan di lapangan juga bisa. Toh tidak perlu logika yang penting bisa menjelekkan produk lain dan mengatakan bahwa obatnyalah yang nomor satu. Kalau pemuka agama seperti tukang obat lalu bagaimana para pengikutnya bisa diajak ke jalan yang benar. Padahal ajaran agama khan bicara masalah kebenaran, kejujuran, bukan kebohongan, bukan bicara hanya dengan praduga tanpa cek dan ricek.

Katolik bagaimanapun tidak akan bergeming. Apa yang dikupas oleh Ustad Adi pasti akan ditanggapi santai. Terhina, ah untuk apa merasa terhina, toh, jika bicara salah dan bohong, nanti akan keweleh, atau akan kena batunya sendiri. Tugas penceramah(pemuka agama) tentunya bukan untuk jualan obat, ia mewartakan kebenaran, memberi pencerahan, bukan membuat bodoh umatnya dengan cerita - cerita yang dikarang sendiri.

Kalau tidak mampu menampilkan fakta ya tidak perlu mengupas keyakinan lain, kalau sebetulnya tidak tahu ya tidak usah sok tahu, toh, jika memaksakan diri biar terlihat pintar dihadapan orang banyak dan pengikutnya nanti malah kena karma atas kebohongan - kebohongan yang diceramahkan. Kalau berilmu dan menguasai pengetahuan agamanya sendiri, lebih bagus jika mengajak untuk introspeksi diri, mengajak pengikutnya untuk memahami agama mulai dari diri sendiri.

Sekarang terlihat aneh jika pemuka agama sekaligus berperan sebagai politikus. Agama di jalur putih, politik di jalur abu - abu bahkan kadang malah bermain di wilayah hitam karena politik yang cenderung menghalalkan segala cara. Entah, barangkali tulisan ini tampak emosional, takut juga karena otomatis mengulik dan menggugat seorang ulama, pemuka agama, penceramah.

Diskusi Tentang Agama Harusnya menentramkan bukan Menyeramkan

Kalau mengupas agama, rasanya menakutkan, berdiskusi dan berdebat seperti berada dalam ancaman, padahal jika bicara lewat kemurnian nurani, dengan emosi yang terkontrol manusia tidak berhak sewot jika mendapat kritikan dan masukan. Sekarang bicara agama orang seperti saya yang amat dangkal pengetahuan agamanya tentu susah berdebat dengan orang yang tiap harinya berdoa, mengkaji ayat demi ayat, menghapal letak dan tahu persis baris demi baris isi kitab suci.

Saya hanyalah debu yang bisanya merenung dan mencoba mencerna agama lewat bahasa hati, mungkin kadangkala mempertanyakan kenapa agama - agama di dunia datang bukannya memberi ketentraman malah membuat kebencian meruak, kebohongan nyata, kekejian tampak nyata, semua karena kekerdilan manusia dalam memahami dalil dan ayat kitab suci. Memahami ajaran bukan pada intisari, tetapi lebih pada tataran hapalan dan bukan pelaksanaan. Sampai saat ini sebagai manusia kedengkian lebih menguasai diri sampai - sampai tidak percaya akan kebenaran diri tapi malah mengupas kelemahan yang lain. Diri sendiri masih amburadul namun malah giat mempersoalkan orang lain. Bahasa agama lemah yang melengking dan bergema justru hasrat diri seperti politikus yang selalu bersaing untuk menjadi yang terbesar, berjuang untuk menjadi yang terbaik. Dalam dunia pendidikan tentunya positif, tapi dalam agama semakin menguasai ilmu agama seharusnya semakin rendah hati dan semakin merasa kecil dihadapan Tuhan yang Maha segala- galanya.

Manusia dan Narasi Kebencian

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun