Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kartini Oh Kartini

21 April 2021   09:27 Diperbarui: 21 April 2021   09:37 126 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kartini Oh Kartini
putus asa kesedihan (gambar.pro /pixabay)

Tidak ada hubungannya dengan Kartini yang sering di pajang di dinding sebagai pahlawan emansipasi. Kartini di Jawa adalah nama yang bisa menjadi milik siapa saja. Tetanggaku di kampung nama lengkapnya Kartini, di panggil Karti, Sedangkan saudara jauhku juga bernama Kartini, selalu dipanggil mbak Tini atau sebutan Bude Tini yang melekat ketika ponakan - ponakanku menyebutnya lebih akrab.

Kartini berserak, banyak. Mereka adalah perempuan dengan karakter masing - masing. Tapi yang kuceritakan adalah Kartini masa kecilku, masa ketika seorang pembantu rumah tangga  bernama Kartini berada dalam lingkaran hidup keluargaku.

Mengapa ibuku dan ayahku mempekerjakan pembantu, karena mereka repot sekali tanpa pembantu. Kedua orang tuaku bekerja dan baru pulang ketika siang menjelang sore. Sedangkan kakak , aku dan adik perlu mendapat perhatian. Apalagi adikku yang masih belum sekolah, baru berumur dua tahun, aku sendiri dulu pernah dipelihara pembantu meskipun tidak lama hanya sekitar  1 tahun meskipun aku tidak ingat bagaimana tampangnya.

Kartini itu sangat galak, suka mencubit dan melotot bila aku iseng menggoda adikku. Maka adikku seperti tidak tersentuh. Ada penjaga yang akan segera menyentil bila ada yang iseng dan menyakiti adik saya. Ya ia setia menjaga amanah orang tuaku.Aku maklum, tapi seorang kakak perlu bercanda, dan satu - satunya teman yang bisa kuajak bergurau hanya adikku, sedangkan kakakku susah diajak bercanda karena ia cacat mental, pernah jatuh dan mengalami mal fungsi otak sehingga perkembangan intelektualnya terhambat. Sepanjang hari ia berada di kamar, rapat terkunci dan baru dibuka kamarnya ketika ayah pulang siang menjelang senja. Ia menjadi milik ayah yang sabar memandikan dan mengganti bajunya dan menemani di luar kamar.

Kamarnya bau pesing bau kotoran, sepanjang hari ayah harus membersihkannya dengan tekun dan sabar. Anak perempuan terkasih, sedangkan aku lebih dekat ke ibu, amat dekat malah. Maka sebenarnya sudah merata kasih sayang yang dirasakan oleh kedua saudaraku.

Kartini, suka tersenyum sendiri aku nggak tahu mengapa ia sering senyum - senyum sendiri saat sedang mencuci baju, apakah sedang agak terganggu mentalnya atau sedang mengingat masa lalu. Hal itu sering saya temui  ketika dia sedang sibuk entah mencuci entah menyapu lantai rumah.

Bayanganku ia sebagai anak kecil terbatas maka aku tidak tahu bahwa ia sedang jatuh cinta dengan seorang pria bernama Paijo. Paijo itu buruh pemanjat kelapa. Badannya kekar, dengan otot - otot yang tampak di lengan. Tonjolan ototnya serta kulitnya yang coklat karena seringnya terkena sengatan matahari membuatnya jatuh hati.

Sering kulihat diam - diam mereka bertemu, gaya pacarannya kaku, hanya saling berpandangan mata,

Mata Paijo memandang Kartini, tersenyum lalu menunduk. Itu yang kulihat entah ketika aku tidak sempat melihatnya. Makanya Kartini sering tersenyum sendiri, mungkin ia ingat pandangan mata mas Paijonya yang baginya amat romantis. Tapi bagiku itu bukan pacaran romantis, apalagi aku sering membaca tulisan - tulisan Kho Ping Hoo, gaya pacarannya kuno, tapi bagi Kartini mungkin itu sebuah memori mendalam tidak terlupakan.

Rupanya Sang pengasuh adikku sedang jatuh hati. Wajahnya selalu berbinar- binar, mata memancarkan suka cita dan sambil mencolek sabun ia kadang lupa sabunnya ia balurkan di mukanya hingga cemong dan ia kaget busanya masuk matanya hingga perih matanya dan ia menjerit.

"Aduh....."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x