Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bom Bunuh Diri dan Perjuangan yang Sia-sia?

29 Maret 2021   09:44 Diperbarui: 29 Maret 2021   17:37 349
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: tribunnews.com

Apakah yang terpikir oleh para pengebom itu? Sebuah perjuangan untuk keyakinan agama, mati syahid karena agama atau hanya mati konyol terbelah- belah badannya namun ternyata tidak sesuai target. Yang tercacah mereka targetnya hanya lecet - lecet saja. Ketika berangkat sudah membayangkan akan bertemu bidadari dan berpesta di surga.

Ah, kalau membayangkan pikiran seperti halu saja. Tidak tahu jalan pikiran mereka yang dipenuhi dendam karena ajaran  dan doktrin radikal yang masuk berjejalan diotaknya. Yang di bom sasarannya tempat ibadah, dan dalam acara sakral Minggu Palma. Ini adalah sebuah warning untuk waspada bahwa sikap - sikap intoleran masih bebas berkeliaran dalam otak dan pikiran manusia yang sudah dipenuhi narasi - narasi jahat yang masuk dalam otak mereka. 

YouTube, ceramah pemuka agama yang provokatif, ceramah yang selalu menyudutkan keyakinan agama lain, mereka dengan entengnya memilih kata - kata keras untuk mendesak jemaahnya percaya bahwa orang lain atau keyakinan lain itu harus disingkirkan, harus pinggirkan. 

Penceramah yang  entah sudah mengantongi sertifikat sebagai penceramah atau tumbuh dan belajar dari tik tok, atau  latihan pidato sendiri atau dari para pendatang baru setelah membelot dari agamanya dan mencoba cepat populer dengan mentahbiskan diri sendiri lewat ceramah. Ceramahnya cenderung menjelek -- jelekkan agama sebelumnya. Karena manusia saat ini lebih suka dan gemar jika mengetahui kejelekan dan kelemahan orang lain.

Semakin maju peradaban, ternyata tidak menjamin bahwa nurani, budi pekerti lebih maju. Kadang mereka terlalu tendensius, percaya saja pada ceramah instan yang muncul di layar kaca dan internet. 

Mereka telan mentah - mentah sehingga sudah bisa diduga akan terjadi sikap - sikap fanatik dan intoleran. Sayangnya sifat intoleran itu sudah masuk dalam birokrasi, kebijakan yang membatasi gerak agama, susahnya perijinan mendirikan tempat ibadah, dan munculnya ormas- ormas dengan sikap garang dan selalu ingin menghambat apapun pergerakan agama - agama selain kelompoknya.

Bom bunuh diri itu sudah sering dilakukan. Yang terjadi hanyalah kepiluan, duka mendalam dan hujan hujatan, mengapa masih selalu diulang- ulang ? Manusia selalu punya dalih untuk memberi tempat lebih bagi ego diri sendiri, ia jarang introspeksi, jarang mencoba berempati terhadap penderitaan orang lain. 

Para pengebom pasti tidak pernah berpikir; bagaimana bila korban patah kaki, patah tangan, cacat permanen dan bahkan harus koma hingga akhirnya meninggal. Yang terpikirkan adalah bagaimana ia sukses meluluhlantakkan bangunan dan manusia yang tengah beribadah. Lalu kemudian dengan mudahnya ia bisa masuk surga bertemu puluhan bidadari.

Sudahlah, sudahi kekonyolan ini? Tapi kuasa apa penulis hanya bisa menghantarkan pembaca untuk menghela nafas. Saya yakin para pembaca kompasiana adalah pembaca dewasa yang berpikir jauh ke depan bukan hanya pembaca judul. Para pembaca pasti tahu esensi bacaan, visi dibalik tulisan. 

Tulisan ini hanya bersifat permenungan, penulis tidak sedang ceramah, cenderung sedang berpikir masuk dalam alam pikiran hening. Penulis yakin semua agama tidak akan pernah mengajarkan membunuh dalam ajarannya, kalau ada manusia yang menafsirkan salah satu ayat sebagai landasan untuk melegalkan pembunuhan dan pembantaian pasti ada yang eror dengan otak dan isi pikirannya.

Kalau muncul ajaran radikal yang berasal dari agama tentu karena ada sekte atau sempalan keyakinan agama itu yang berusaha mencuci otak pengikutnya untuk mempercayai dengan doktrin yang dipaksakan.

Semua agama selalu mengajarkan kebajikan bahkan kepercayaan dan agama alam selalu mengajarkan keseimbangan dan menghindari perbuatan terkutuk seperti membunuh. Hanya manusia dengan ruang lingkup pemikiran yang pendek, gamang, linglung yang mau diperintahkan melukai diri sendiri, menghancurkan diri sendiri untuk menteror manusia lain.

Peristiwa di Katedral Makassar (Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus, jalan Kajaolalido no 14, Makassar Makassar Sulawesi Selatan)  semoga menjadi bahan pemikiran kepada pemerintah mendesak segera dibersihkannya paham- paham yang ingin memecah belah bangsa melalui agama. Indonesia itu hidup berdasarkan Pancasila, bukan negara agama meskipun mayoritas agamanya Islam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun