Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Catatan Harian Ayah

18 Mei 2020   07:01 Diperbarui: 18 Mei 2020   07:21 185
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dokumen foto Ayah saya (foto by Budi Hartanto IG)

Nah tahun 2001 awal itulah muncul pergolakan saya. Status saya memang tidak punya pekerjaan tetapi saya aktif menulis dan menulis bagi ayah dan ibu saya adalah pekerjaan pengangguran. Akhirnya saya menerima tawaran ketika ada sekolah Di Jakarta memanggil saya untuk mengajar.

Ada banyak konflik sebenarnya dalam diri saya dan ingin memberontak tapi lebih baik mendengar nasehat ayah sebagai orang tua.Saya merasa sampai saat ini kepuasan orang tua adalah ketika saya menurut perkataan mereka. 

Sebagai orang tua yang cukup mapan (pegawai negeri) ayah dan ibu saya tidak menuntut macam- macam. Yang penting bisa bekerja mapan, dan selanjutnya berkeluarga.

Masalah kedua adalah ketika orang tua menunggu saya mendapat pasangan hidup. Sebab adik saya yang bontot sudah mendahului nikah di usianya yang keduapuluh lima. 

Sedangkan saya umur hampir tigapuluh belum mendapat jodoh yang cocok. Kontradiksi pun berlangsung karena saya merasa kisah percintaan saya tidaklah seberuntung adik saya. Ibu dan ayah mencoba mencari perempuan yang cocok untuk dijodohkan ke saya. 

Dalam hati saya apakah ada wanita yang mau setia saya, orang yang sering berkhayal dan masih berharap menjadi penulis suatu saat nanti. Dunia saya pikir adalah kebebasan dan tidak mau terikat perkawinan karena pasti banyak masalahnya. 

Namun akhirnya jodoh memang datang saat usia saya sudah 36 tahun saya menikah dalam usia sangat matang 37. Dalam Jangka 7 tahun saya sudah mempunyai 3 anak.

bahagianya ayah ketika bisa berwisata di Kota Tua, Juli 2019 (dokumen pribadi)
bahagianya ayah ketika bisa berwisata di Kota Tua, Juli 2019 (dokumen pribadi)
Nilai Kebahagiaan Seorang Ayah

Kebahagiaan ayah membuncah ketika mendapat cucu laki - laki sebagai  tambahan cucu dari adik saya yang mempunyai anak yang cukup besar. Saya mengenang ayah saya yang di hari ulang tahunnya selalu rajin mengunjungi Gua Maria untuk berdoa mohon perlindungan, keselamatan dan kesuksesan hidup anak- anaknya. 

Mengenang ayah saya, saya sebetulnya masih menyesal karena ternyata saya belum sempat membahagiakan ayah seutuhnya. Masih merasa berhutang terhadap upaya maksimal orang tua untuk selalu membantu kesulitan saya ketika beliau masih hidup.

Tenanglah di surga ayah, hari ini ayah ulang tahun, semoga ada pesta kecil kecilan di surga ataukah berdampingan dengan Maria Ibu Yesus yang selalu kau kagumi. Meskipun banyak diam kau selalu terharu dan kangen pada saya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun