Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru suka menulis

Berjuang Dengan kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Membaca Novel Sang Penjaga Bahasa

11 Juni 2019   21:12 Diperbarui: 11 Juni 2019   21:15 0 10 2 Mohon Tunggu...
Membaca Novel Sang Penjaga Bahasa
Dokumen pribadi (foto oleh Joko Dwi)

Pelajaran bahasa Indonesia itu sebetulnya membuat kangen sekaligus membosankan. Kangen ketika guru mampu mendedah cerita dari buku- buku sastra lama yang sebetulnya sarat pesan dan tuntunan. Membosankan ketika harus belajar teknik berbahasa, ketika harus menyimak subjek ,predikat, objek dan keterangan.

Keterampilan berbahasa Indonesia itu sesungguhnya pelajaran rumit dan saya kurang telaten mempelajarinya. Banyak bacaan dan kata- kata yang harus secara teliti diperhatikan. Saya lebih menyukai sastra dengan segala pernik sejarah dan tokoh- tokohnya.

Untuk mempelajari teori berbahasa maaf dulu saya begitu menghindarinya. Awal menyukai dunia tulis menulis saya hanya mempunyai gambaran yaitu membaca. Dengan membaca maka saya berusaha menulis meskipun susahnya minta ampun. Untuk mengawali paragraf pertama saja butuh perjuangan berat. Saya terkikik ketika pertama membaca ulang tulisan yang tertuang di sesobek kertas lusuh.

Tentang Menulis
Untuk bisa menulis seseorang tidak harus mempelajari teori bahasa. Lama- lama setiap orang akan terbiasa menuangkan gagasan dengan menulis. Kuncinya adalah menulis, menulis dan menulis. Tetapi kegiatan menulis juga harus diikuti dengan kesukaan pada bacaan- bacaan, jika tidak tulisan serasa kering kerontang. Mengapa kini saya suka menulis karena kegemaran saya membaca dan akhirnya ketagihan untuk menulis.

Setelah membaca banyak buku saya tersadar bahwa mempelajari teknik penulisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu penting. Penulisan di ke dari serta istilah- istilah rancu yang sering dipakai dalam adab penulisan membutuhkan konsentrasi dan bagi saya sebetulnya capek mempelajari bahasa dari buku- buku teks ilmiah yang membuat kegiatan membaca menjadi kegiatan mengerikan.

Teori Bahasa Berbalut Novel
Buku Kita, Kata, dan Cinta ternyata mengasikkan sebagai usaha mempelajari kaidah Bahasa Indonesia. Saya merasa tersentak, tersentil dan tersadar bahwa banyak tulisan- tulisan saya sering menabrak aturan. Seringkali saya hanya menulis berdasarkan kata hati, berdasarkan ungkapan perasaan tanpa memperhitungkan kelayakan berbahasa dan memperhatikan bagaimana penggunaan istilah sesuai dengan konsep berbahasa yang baik dan benar.

Salah satu kendala dalam penulisan adalah karena saya memang tidak suka teori. Saya mempelajari dan menyenangi dunia tulis menulis sambil membaca karya sastra. Dari karya sastra dan artikel entah di koran, majalah, tabloid saya bisa membedakan di kata kerja dan di untuk menunjukkan tempat. Saya bisa menulis kata Khotbah berdasarkan tulisan- tulisan yang sering muncul di karya sastra.

Membaca Novel Khrisna Pabichara secara tidak sadar belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ternyata banyak hal bisa dipelajari dari dialog sepasang kekasih Sabda dan Kana tokoh sentral dari novel karangan penulis asal Borongtammatea,Jeneponto, Sulawesi Selatan. Khrisna Pabichara saya kenal lewat tulisan- tulisannya di Kompasiana. Sejak membaca tulisannya saya yakin Khrisna Pabichara adalah salah satu penulis top yang bisa merangkai bahasa begitu indah dan mempesona.

Ia seperti begitu detail memperhatikan rangkaian bahasa sehingga bahasa Indonesia menjadi menarik untuk dipelajari. Dokter bahasa begitu yang disebut Rahmat teman Sabda  yang sehari hari kerja di sebuah instansi pemerintah dalam sebuah dialog (Si Bahwa dan Si Kalau, halaman 70 -- 76). Jika belajar bahasa di kampus pasti saya akan terkantuk- kantuk mendengarnya tetapi karena gaya tutur Khrisna Pabichara enak dan renyah maka saya paksa menyimak sedetail mungkin. Ivan Lanin benar jika belum kuat iman bahasanya jangan coba- coba membaca novel ini. Setiap dialog, setiap percakapan selalu terselip petunjuk berbahasa Indonesia yang benar.

Jika mengecek tulisan- tulisan sebelum membaca novel ini saya jamin ahli bahasa atau editor dari tulisan -- tulisan saya harus bekerja keras menyesuaikan dengan gaya tutur spontan saya. Saya pernah membuat judul tentang Jomblo dan direvisi oleh redaksi dan saya ganti lagi (Tabel 28 tentang penambahan huruf yang keliru). Ternyata dalam tabel daftar perubahan yang benar itu jomlo sesuai dengan aturan KBBI yang disempurnakan.

Membaca buku dengan kaver dominan warna oranye ini saya kadang terkikik dengan bahasa yang saya tulis sebelumnya. Tetapi apakah saya menjadi takut menulis?Tentu saja tidak, hanya harus berhati- hati menggunakan kata baku dan tidak baku, menampilkan kata- kata serapan yang pas terutama yang sudah mengalami perubahan agar tidak ditertawakan dokter bahasa.

Penulis Sepatu Dahlan itu rupanya jeli mengubah teori bahasa Indonesia menjadi sebuah karya fiksi ilmiah yang mengasyikkan. Disesuaikan dengan dialog menarik  layaknya karya fiksi  dan tidak disangka selalu menghadirkan kritik pada penggunaan bahasa sebagian penulis (termasuk saya tentunya).

Saat membaca lampiran mulai halaman 328 sampai 435, banyak perubahan terjadi dalam menyusun kata, kalimat, paragraf saat menulis. Dari penambahan dan pengurangan huruf /h/. contohnya penulisan kharisma. Ternyata kharisma cukup ditulis karisma setelah ada perubahan penulisan sesuai aturan KBBI. Dari ingar bingar ke hingar-bingar, risi menjadi risih, rapi menjadi rapih. Tabel dari perubahan dan pengurangan huruf, kemudian melangkah ke varian bahasa penambahan huruf atau pengurangan huruf yang salah.

Majunya Bahasa Maju Pula Budayanya
Terimakasih. Meskipun begitu saya tidak boleh takut menulis sebab jika terus mengulik tabel bahasa bagaimana saya bisa bertahan untuk terus menulis, menulis dan menulis. Sambil sekilas melirik tabel dalam buku ini saat tahap mengedit tulisan, secara tidak sadar menaikkan kadar budaya saya sebab secara tidak sadar seperti disentil oleh Seno Gumira Ajidarma : ... Apa boleh buat, kekacauan bahasa memang berbanding dengan kekacauan budaya, sehingga perbaikan bahasa akan berdampak lebih jauh daripada sekadar rehabilitasi linguistik.(hal 327).

Membaca Kita, Kata dan Cinta saya teringat akan beberapa penulis yang serius membahas tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Anton  Moeliono yang sering muncul di layar TVRI, J.S Badudu, Gorys Keraf, penyusun Kamus Poerwadarminta, Gustav Koesno dan penulis lain yang sering muncul di kolom koran atau majalah yang membahas tentang kesalahkaprahan berbahasa. Di novel itu saya seperti menyelam minum air, sambil beromantika membaca novel bonusnya adalah petuah bahasa dari seorang munsyi seperti Khrisna Pabichara.

DIVA Press jeli membuat novel ini. Penulis memulai petualangan sebagai pengarang dengan menulis 12 Rahasia Pembelajar Cemerlang sukses besar ketika menulis novel Sepatu Dahlan kemudian disusul lagi dengan kumpulan puisi Pohon Duka di Matamu (2014), Natisha, Cinta yang Diacuhkan (2017), Jenderal Kambing (2017), dan Barichalla (2017)

Kiranya buku dengan tebal  440 halaman ini sangat layak menjadi buku pegangan bagi para penulis yang tulisannya bukan hanya sekedar mengungkapkan pendapat atau sekedar membagi ilmu, tetapi lebih- lebih lagi mampu menulis dengan aturan baku bahasa Indonesia yang kaya istilah dan serapan bahasa. Indonesia sangat kaya istilah harusnya kebanggaan itu bukan hanya saat mampu menghadirkan istilah asing dalam artikel kita tetapi juga menampilkan kekayaan bahasa Indonesia. Salam literasi.