Mohon tunggu...
Dwi Klarasari
Dwi Klarasari Mohon Tunggu...

Membaca mengantarku mengenal dunia serta kehidupan. Menulis membebaskan aku berbagi rasa dan inspirasi pada dunia.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Aku dan Kompasiana

30 November 2018   23:03 Diperbarui: 30 November 2018   23:21 0 19 4 Mohon Tunggu...
Aku dan Kompasiana
Kenangan Kompasianival 2014 (dokpri)

Belajar Kerendahan Hati dari Arena Debat adalah artikel "beraroma politik" pertama yang kutulis sekaligus artikel pertamaku di Kompasiana. Artikel ini kutulis dua hari setelah "kelahiranku" sebagai Kompasianer di tengah masa kampanye Pemilihan Gubernur DKI tahun 2012 ketika pasangan Jokowi-Ahok digadang-gadang bakal jadi pemenang.

Menurut yang tercatat pada profilku, aku lahir sebagai Kompasianer pada 16 September 2012. Jadi, tahun ini "aku" genap berusia enam tahun, selisih empat tahun dengan "ibu kandungku" Kompasiana yang tahun ini genap sepuluh tahun.

Perjumpaan dengan Kompasiana

Kapan dan bagaimana mengenal Kompasiana tidak dapat kuingat dengan pasti. Jika dirunut, mungkin karena dahulu aku rajin baca Harian Kompas (milik kantor), yang memiliki rubrik "Kompasiana"; mungkin juga karena aku mengakses Kompas.com. Boleh jadi ada woro-woro yang menarikku mulai mengakses www.kompasiana.com.

Sebenarnya, sejak 2007 aku sudah punya blog pribadi "persinggahanku" sebagai tempat relaksasi. Berbeda dengan berbagai kemudahan sekarang, dahulu dengan bermodal otodidak aku sering merasa kesulitan mengelola blog tersebut. Menggunggah tulisan sering kali masih berantakan. Belum lagi kesulitan menambah fitur-fitur menarik juga berpromosi dan/atau mengundang pembaca.

Tak heran bila tawaran Kompasiana menjadi sangat menarik. Blog "keroyokan" yang kala itu digawangi Kang Pepih Nugraha mempersilakan para pembacanya dan semua orang awam untuk turut menulis. Sekejap terpikir bahwa apa yang kutulis nantinya bakal berpotensi memiliki pembaca atau setidaknya akan ada yang "ngepoin".

Kang Pepih Bikin Pede 

Awalnya sih kurang pede. Bagaimana tidak? Kompasianer generasi pertama adalah para jurnalis (Kompas) yang hebat; lalu generasi berikut adalah orang-orang tersohor yang dikenal sangat mumpuni dalam bidangnya. Namun, karena situs yang ditawarkan ini konon berbasis metode produksi konten ala "warga biasa" (User Generated Content/UGC) ketidak-pede-an itu pun perlahan luruh.

Benar adanya jika Kompasiana menghasilkan konten ala "warga biasa" karena sejauh tidak melanggar etika jurnalisme semua tulisan akan ditayangkan. Kompasianer yang bergabung pun datang dari beragam profesi. Jurnalis, penulis, pejabat, karyawan swasta, PNS, wirausahawan/wati, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan banyak lagi.

Benarlah pendapat Kang Pepih dalam bukunya "Kompasiana Etalase Warga Biasa" (GPU, 2013) bahwa Menulis itu Dunia Warga Biasa. Ya, menulis itu bukan kegiatan eksklusif para jurnalis dan orang-orang yang berprofesi sebagai penulis. Pada dasarnya semua orang bisa menulis. Persoalannya hanya mau atau tidak. Akhirnya, alih-alih tetap menjadi silent reader, aku pun merasa cukup nyaman untuk turut menulis dan berkomentar.

Ternyata Kurang Produktif

Di kehidupan nyata, usia enam tahun tergolong masih imut dan unyu-unyu. Berbeda halnya dalam dunia digital yang berjalan dengan sangat cepat. Menurutku, enam tahun tergolong usia yang sudah sepuh. Namun, setelah ditelisik ternyata hasil karyaku tidak sepadan dengan "sepuh-nya" usiaku sebagai Kompasianer.

Menurut tayangan dalam profil, per hari ini aku hanya memiliki koleksi 62 artikel (tidak termasuk artikel ini). OMG! Malu juga kalau dipikir-pikir, sedangkan Kompasianer yang baru berusia 1-2 tahun saja sudah memilki ratusan bahkan ribuan artikel. Kesimpulannya, aku sangat tidak produktif!

Selain kurang produktif, yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa sepanjang 2015-2017 aku bahkan sempat vakum sama sekali dan tidak mengikuti perkembangan dunia Kompasiana. Sepanjang periode tersebut hanya ada satu liputan berjudul Dongeng GePPuk Ajak Waspadai Kebakaran yang kutulis sebagai kontribusi relawan Gerakan Para Pendongeng untuk Kemanusiaan (GePPuk).

Ketika kembali aktif menulis pada April 2018, aku sempat tidak paham dengan status Junior serta angka poin (1.405,490) yang tercantum pada profilku. Bagaimanapun, hal tersebut tak terlalu merisaukan karena niatan awal bergabung di Kompasiana lebih untuk berbagi dan belajar.

Namun, saat menulis artikel ini sembari memeriksa kembali apa yang pernah kutulis, diam-diam aku iseng menguraikan statistik yang tertulis dalam profilku (62 artikel; 72.888 dibaca; 277 komen; nilai 395; 9 headline; 45 pilihan). Ibarat kata semacam evaluasi, mumpung jumlah artikelku cuma 62, kalau sudah ratusan atau ribuan pasti juga malas.

Dari 62 artikel tersebut yang paling sedikit dilihat adalah artikel di bulan Bahasa 2012 berjudul Menyikapi Nasib Bahasa Indonesia yang Memprihatinkan dengan 38 view. Sementara yang meraih viewer terbanyak (26.039 view)adalah artikel Tata Krama Berpamitan.

Di Kompasiana aku menulis untuk kategori apa saja, fiksi maupun nonfiksi--ekonomi, cerpen, puisi, kuliner, hobi, humor, bahasa, edukasi, lingkungan, travel, dll.--pokoknya yang pada saat itu ingin kubagikan. Kebanyakan tulisan bertolak dari sebuah pengalaman, keresahan, keprihatinan, atau sekadar ekspresi perasaan serta berbagai hal yang kuketahui dan/atau baru kuketahui dan menganggap orang lain pun perlu tahu.

Namun, jika ditelusuri, ternyata cukup banyak tulisan bertema "ibu" yang pernah kutulis, terutama sejak aku kehilangan ibuku. Mulai dari puisi, seperti Merindu Ibu; pengalaman bersama Ibu, seperti Terima Kasih Bu Tutik; cerpen, seperti Di Batas Waktu; resep warisan ibu, seperti artikel Rujak Cingur dan Kenangan akan Ibu atau Oblok-Oblok Boros, Masakan Nusantara yang Unik; sekadar pengalaman lucu seperti artikel Ibu, Aku, dan Selimut.

Melalui tulisan di Kompasiana, meskipun sedikit dan secara tak langsung, sejujurnya aku juga ingin memberikan pengaruh baik bagi pembaca. Misalnya lewat artikel Papeda di Hari Kesaktian Pancasila atau artikel Mencintai Indonesia Lewat Recehan agaknya ingin kukobarkan semangat nasionalisme. Keinginan turut membangun rasa cinta dan peduli pada bahasa nasional dan daerah sempat kutuangkan antara lain lewat artikel Apakah Aku Seorang Xenoglosofia? dan Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah? Ajakan untuk peduli pada lingkungan, antara lain melalui artikel Go Green X'mas --Pohon Natal dari Barang Bekas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2