Mohon tunggu...
Hiburan Pilihan

Wayang Kancil, Siapa Penerus Ki Ledjar?

25 Oktober 2017   06:12 Diperbarui: 25 Oktober 2017   06:27 820 0 0 Mohon Tunggu...

Ki Ledjar Subroto telah meninggal dunia. Pembuat sekaligus dhalang wayang kancil dari Yogyakarta ini, meninggal dunia pada Minggu 23 September 2017 siang di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Penerima Anugerah Kebudayaan Kategori Pelestari 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, meninggal dunia pada usia 79 tahun. Ki Ledjar Subroto atau yang akrab dengan nama Mbah Ledjar, dikenal sebagai pelestari wayang kancil.

Wayang kancil adalah sejenis wayang kulit, yang terdiri atas binatang-binatang buruan, binatang berkaki empat, binatang melata dan merayap, serta binatang yang terbang yang sering terlibat dalam dongeng binatang kancil. Wayang yang wujudnya orang dalam wayang kancil hanya sedikit.  Total jumlah wayang kancil hanya sekitar 100 wayang.

Pencipta wayang kancil adalah Sunan Giri. Kemudian dipopulerkan orang Tionghoa bernama Bo Liem pada 1925. Perangkat pendukung pergelaran wayang kancil berupa kelir atau geber, yaitu bentangan kain putih. Di sisi kanan dan kiri kelir ada gambar hutan. Di tengah ada bundaran tanpa gambar, untuk paseban saat wayang keluar. Musik pengiringnya gamelan.

Mbah Ledjar semasa hidupnya ingin mempopulerkan kesenian wayang kancil ke masyarakat luas. Berkat keuletan dan ketekunannya dalam melestarikan wayang kancil, ia pernah memperoleh penghargaan dari Majalah GATRA pada 1995.

Kancil dalam dongeng untuk anak-anak, sering memperoleh predikat sebagai binatang yang licik, kerap mengecoh binatang lainnya, terutama binatang buas yang akan memangsanya. Tapi kancil digambarkan sebagai binatang yang cerdas. Banyak akal.

Melalui tangan dan keterampilan kreatif Mbah Ledjar, kancil tampil menjadi sosok pahlawan. Binatang cerdas yang menginspirasi siapa pun yang mengikuti kisahnya. Ledjar mampu menampilkan sosok kancil yang licik menjadi kancil yang menginspirasi melalui media pewayangan.

Kesenian wayang kancil , oleh Mbah Ledjar digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan luhur mengenai kehidupan. Mulai dari persahabatan, masalah lingkungan, perilaku manusia dan budi pekerti, serta hal-hal lainnya yang positif.

Ki Ledjar Subroto memiliki nama kecil Djariman, lahir di Wonosobo (Jawa Tengah) pada 20 Mei 1938. Ayahnya, Budiman berasal dari Kampung Terban, Kota Yogyakarta. Budiman adalah penabuh gamelan, bahkan mengajar kesenian karawitan.

Ledjar kecil atau Djariman saat berusia 6 tahun pernah diajak ayahnya berkeliling mengikuti rombongan pemain ketoprak tobong (ketoprak keliling) ke mana pun menggelar pertunjukan.

Ringkas cerita, ketika Djariman berusia 17 tahun, ia diperkenalkan kepada Ki Nartosabdo oleh ayahnya pada saat menonton pergelaran wayang kulit di Magelang. Dari perkenalan dengan Ki Nartosabdo (pengendang yang kemudian dikenal sebagai maestro dhalang Indonesia) itu, tampaknya menginspirasi perjalanan hidup Djariman. Ia memang tidak diizinkan keluarganya ketika diajak Ki Nartosabdo untuk ikut ke Semarang, tetapi  jiwa seninya terus tumbuh dan berkembang bersama bertambahnya usia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x