Mohon tunggu...
Dr Abidinsyah Siregar
Dr Abidinsyah Siregar Mohon Tunggu... Ahli Utama

Saat ini menjadi Ahli Utama pada BKKBN dengan status dpk Kemenkes RI Pangkat Pembina Utama IV/E. Terakhir menjabat Deputi BKKBN (2013-2017), Komisioner KPHI (2013-2019), Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisonal Alternatif dan Komplementer Kemenkes (2011-2013), Sekretaris Itjen Depkes (2010-2011), Kepala Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI (2008-2010)< Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) (2005-2008), Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara di Medan (2002-2005). Mengawali karis sebagai Dokter Puskesmas di Kabupaten Dairi (1984). Alumnus FK USU ke 1771 Tahun 1984.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Antisipasi Dampak Covid19; RI Siap Memasuki Era New Normal?

7 Juni 2020   14:57 Diperbarui: 7 Juni 2020   15:06 19 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antisipasi Dampak Covid19; RI Siap Memasuki Era New Normal?
dokumentasi kolase olahan pribadi

ANTISIPASI DAMPAK COVID-19 (5)
RI SIAP MEMASUKI ERA NEW NORMAL?
#We are not all in the same boat, we are all in the same storm.

#Kluge; Yoga; Ganjar; Japri; Doli Kurnia; Aman Pulungan; Daniel Johan; Ottawa Charter
Penulis : Dr.Abidinsyah Siregar *)


Pertanyaan diatas diucapkan Presenter Ellen dari CNBC Indonesia, sungguh menggelitik. Presenter Ellen memaparkan agenda New Normal Indonesia yang diurai dalam 5 fase, mulai Juni hingga Juli 2020.

Praktik #Dirumahsaja (untuk cegah Covid-19), yang tidak diketahui persis sampai kapan, dinilai tidak bisa dipertahankan.

Ada faktor strategis lainnya yang berkorelasi langsung dengan Ketahanan Kesehatan Keluarga Indonesia yakni Ketahanan Perekonomian.

Dua hal ini, Ketahanan bidang Kesehatan dan Ketahanan bidang Ekonomi perlu dijaga keseimbangannya.

Sudah sama diketahui, keunikan Covid-19 tidak hanya mengancam Kesehatan, tetapi juga menghilangkan hari produktif/kerja manusia, bahkan memiskinkan.

NEW NORMAL akan diimplementasikan melalui pelonggaran PSBB untuk memberi ruang pemulihan ekonomi/ dunia bisnis barang dan jasa termasuk transportasi, dan diujungnya, mempersyaratkan Protokol Kesehatan yang ketat..

Bapak Presiden Jokowi, pada 15 Mei 2020 mengatakan, "Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini, itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau Tatanan Kehidupan Baru".

KENISCAYAAN atau inevitability maknanya sesuatu yang secara logis dan otomatis akan terjadi sebagai reaksi dari aksi yang mendahului.

Masalahnya bagaimana kita mengelola agar The New Normal berjalan dan terhindar dari ABNORMALITAS.

SEPERTI APA THE NEW NORMAL

Dunia memang mengalami dilema dalam mengelola Virus Covid-19. Tampak setiap harinya pertambahan kasus positif yang masih progressif dan kini sudah menginfeksi lebih 5,5 juta orang pada 213 Negara. 

Jumlah kematian sudah mendekati 350.000 orang (angka kematian 6,4 %). Kesembuhan semakin meningkat, terakhir sudah lebih 2,3 juta orang (kesembuhan 42 %).

Tren TERKENDALI dan penanganan medis yang baik, mulai menginspirasi sejumlah Negara Eropa menghentikan Lockdown, melonggarkan pembatasan dan mengagendakan ruang pertumbuhan ekonomi yang sudah terpuruk.

Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P.Kluge memberikan PANDUAN untuk Negara-negara yang akan menerapkan agenda New Normal.

Panduan yang diberikan Mr.Kluge jika hendak menjalankan kebijakan New Normal dengan MERINGANKAN PEMBATASAN dan TRANSISI, harus terlebih dahulu memastikan :

(1).Transmissi Covid-19 sudah terkendali. (2).Kapasitas sistem Kesehatan sudah mampu identifikasi dan melakukan Test, Trace dan Treat. (3).Mengurangi risiko wabah dengan pengaturan yang ketat pada tempat rentan dan komunitas rentan seperti lansia, kesehatan mental dan pemukiman padat. (4).Pencegahan di tempat kerja.
(5).Risiko imported case sudah dapat dikendalikan. Dan (6).MASYARAKAT ikut berperan dan terlibat dalam Transisi.
Yang terakhir paling krusial.

Kemajuan fantastis dalam bulan Mei ini sangat signifikan dialami beberapa Negara Eropah yang semula sedemikian babak belur.

Spanyol dengan jumlah kasus kumulatif 280 ribuan, terakhir pertambahan kasus perhari sekitar 500 orang atau 0,17%. Italia 0,13 %. Italia sempat menjadi Negara dengan angka kematian tertinggi di dunia. Belgia 0,50 %. Belanda 0,38 %. Jerman 0,19 %. Austria 0,10 %. Prancis 0,06 %. Dan Swiss 0,04 %.

Mungkin yang masih bermasalah adalah Rusia 2,5 %, Polandia 1,9 % dan Inggris 0,9 %. Khusus Rusia sepertinya mengalami second wave Covid-19.

BAGAIMANA DENGAN INDONESIA.

Inilah yang banyak dipertanyakan diberbagai percakapan formal dan informal diberbagai media.

"Warga Bekasi antusias sambut New Normal", demikian ditulis pewarta Ayobekasi.net. Japri pengemudi ojek online berkomentar "Enggak ada pilihan lain, kita memang harus move on". Baginya ini harapan baru.

Sementara itu Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkomentar dikutip Kompas.com,  "Meskipun ketentuaan Menkes sudah diterima, namun penerapan New Normal di Jawa Tengah bisa dilakukann jika grafik kasus positif Covid-19 di Provinbsi Jawa Tengah turun signifikan". Turun signifikan yang dimaksud Ganjar adalah turun ekstrem sampai hampir menyentuh batas bawah. Sekarang kita Latihan dulu, kata Ganjar.

Kita perlu hati-hati, cermat dan matang dalam mempersiapkan agenda The New Normal. Kita sepaham bahwa dalam urusan wabah (Pandemik Covid-19), Komando penanggulangan dalam SUPERVISI World Health Organization (WHO) yang berkantor pusat di Genewa, Swiss. Sedangkan Negara anggota menjadi kontributor dan implementator dari kebijakan WHO.

Jika menggunakan kriteria WHO Regional Eropa, mengacu kepada pengendalian pertambahan kasus dan 5 faktor lainnya, terutama PEMAHAMAN masyarakat dalam memasuki era New Normal.

Untuk mendapat pandangan WHO Regional South East Asia (SEARO) di New Delhi, India, karena Indonesia bersama 9 Negara lainnya berada dalam SEARO, maka penulis minta konfirmasi kepada rekan Prof Chandra Yoga (mantan Dirjen P2PL Depkes), katanya "Kebijakan WHO sama, HQ hanya menegaskan tehnis".

SIAPKAH INDONESIA SEKARANG?
Tren pertambahan kasus Indonesia hampir sama dengan tren rerata Global. Terakhir pertambahan sekitar 500 orang (pernah tercacat menembus angka 900 kasus), sehingga kumulatif kasus positif saat ini 22.750 kasus, jumlah kematian kumulatif 1.391 (pertambahan 19 orang) dengan angka kematian 6,1 % dan jumlah kesembuhan 5.642 orang atau 24,8 %.

TEKANAN wabah Covid-19 di Indonesia ada pada Pertambahan kasus baru positif yang masih progressif 2,20 % dibandingkan dengan pertambahan Global 0,9 %, artinya angka pertambahan kasus di Indonesia hampir 2,5 X dunia.

Semakin jauh bedanya jika membandingkan dengan beberapa Negara Eropah yang sudah siap mengagendakan New Normal.
Demikian pula angka kesembuhan kasus yang masih berjalan lambat dibanding rerata global.

Kedua kondisi ini menggambarkan betapa rentannya imunitas masyarakat kita. Dan ada hal yang perlu di waspadai, sebagaimana diingatkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahwa lebih 800 orang kasus adalah anak-anak. Ini adalah suatu "KEJUTAN" dari apa yang dipahami dunia bahwa kasus pada anak seharusnya 0,0 -- 0,2 %.

DR.Aman Pulungan, Ketua Umum PP IDAI/Presiden Asia Pasific Pediatric Association (APPA), mencemaskan tingginya jumlah anak terinfeksi Covid-19. Aman mengatakan mortality rate anak Indonesia karena Covid-19 merupakan yang tertinggi di Asia.

Menarik apa yang ditekankan oleh Daniel Johan seorang Politisi/Ketua DPP PKB yang minta penerapan New Normal dengan perhitungan WAKTU YANG TEPAT. 

Beliau mengingatkan "jangan New Normal diterapkan saat puncak penularan berlangsung, dampaknya sangat mengkhawatirkan, bisa terjadi bencana kemanusiaan akibat tidak siapnya Rumah Sakit dan Dokter, dan Indonesia bisa diisolasi dunia. Nanti tujuan untuk selamatkan ekonomi Indonesia malah terbalik memperparah" (DetikNews, 25 Mei 2020).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x