Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Buruh - Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Ketika Orangtua Terlalu Membandingkan Prestasi Akademik Antar-anak

13 April 2021   21:08 Diperbarui: 14 April 2021   21:15 1557
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi bermain dan belajar bersama anak-anak di dapur. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Barangkali kita pernah mendengar bagaimana para orangtua membuat perbandingan di antara anak-anak mereka.  Terlebih khusus, perbandingan kecerdasan akademik anak-anak mereka di sekolah.

Saat ada seorang anak yang mendapat nilai bagus dan rangking tinggi, anak itu diagung-agungkan. Dipuji di hadapan anak-anak yang lain.

Intensinya mungkin sangat mulia. Anak yang kurang tampil baik secara akademik bisa belajar dari yang tampil baik. Begitu pula, yang tampil baik di sekolah bisa menjadi saudara yang bisa membantu saudara-saudaranya tidak tampil dengan baik.

Persoalannya, ketika perbandingan ini malah terjebak pada sikap yang pilih kasih. Yang tampil secara akademik lebih diperhatikan dan dipedulikan daripada yang tidak tampil baik. 

Perlakuan seperti ini kadang kala menghadirkan efek samping yang membentuk tingkah laku salah di dalam diri seorang anak.

Hemat saya, ada dua dampak dari perbandingan prestasi antara anak di sekolah. Terutama untuk anak-anak yang kurang berprestasi secara akademik dan tidak terlalu diperhatikan di keluarga karena minimnya prestasi.

Pertama, Anak bisa menjadi pribadi yang rendah diri terlebih di hadapan orang yang lebih pandai secara akademik. 

Rasa rendah diri itu bisa nampak saat merasa diri tidak mampu untuk mengekspresikan diri. Padahal ada kemampuan, namun merasa tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Juga, merasa canggung untuk mengungkapkan pendapat walaupun pendapatnya itu benar.

Kecanggungan ini terjadi karena pola didik yang menfokuskan diri pada kemampuan akademik. Barangkali di keluarga kerap disepelehkan karena kemampuan akademik lemah. 

Orangtua ebih menonjolkan dan peduli anak yang lebih pintar dan tidak peduli dengan anak yang mempunyai kemampuan rata-rata.

Hal ini juga terjadi ketika orangtua lebih menghargai pendapat dari anak yang lebih pintar. Pendapatnya lebih diterima karena faktor kemampuan akademik yang dimilikinya. Sementara, pendapat dari anak-anak lain yang tidak berprestasi tidak terlalu dipedulikan.

Pola didik seperti ini membentuk kepribadian seorang anak. Menjadi rendah diri. Tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri hingga di konteks sosial yang lebih luas. Pada saat mau menyampaikan pendapat, selalu muncul pikiran apakah pendapat itu benar ataukah salah.

Sumber foto: Pexels.com
Sumber foto: Pexels.com

Kedua, anak merasa diri sebagai pribadi yang tidak berguna di keluarga.

Karena terlalu memfokuskan diri pada kemampuan akademik seorang anak, anak yang merasa tidak tampil baik secara akademik bisa menjadi tertekan. Yang lebih pintar lebih ditonjolkan di keluarga. Mereka juga lebih diperhatikan.

Bahkan dalam soal pendidikan lanjut mereka mendapat tempat karena orangtua merasa yakin dengan kemampuan yang mereka miliki. Sementara yang lain diberikan kesempatan, tetapi orangtua kurang terlalu antusias. 

Perlakuan seperti ini bisa menimbulkan pikiran negatif. Seorang anak merasa diri tidak berguna dan bernilai di dalam keluarga. Tidak berguna dan bernilai karena kemampuan akademik yang berada di bawah kemampuan saudara dan saudari yang lebih baik dari dirinya. .

Seorang teman bercerita bagaimana ibunya membandingkan dirinya dengan kakaknya sejak masih kecil. Menurutnya, kakaknya lebih diperhatikan oleh ibunya karena kakaknya itu selalu juara kelas. 

Sementara teman saya itu, performa akademik tidak terlalu bagus. Karena ini, dia kurang diperhatikan, kendati dia sudah berupaya lolos di setiap ujian sekolah. Gara-gara perhatian seperti ini, dia pun merasa tidak berharga di mata ibunya.

Pandangan seperti itu terlahir karena perlakuan yang salah. Pandangan ini terus mendiami pikiran seseorang anak hingga dia bertumbuh besar. Bahkan melihat kondisi itu sebagai masa yang kelam di dalam keluarga.   

Prestasi anak di sekolah memang penting. Namun, prestasi di sekolah bukan menjadi tolok ukur bagi orangtua dalam memperhatikan dan mendidik anak-anak mereka.

Setiap anak mempunyai kemampuan akademik yang berbeda. Perbandingan akademik di antara anak tidak akan pernah menciptakan kesamaan dan menyelesaikan perbedaan itu.

Malahan, perbandingan itu menimbulkan pikiran-pikiran negatif di dalam diri anak yang merasa kurang diperhatiakan.

Mereka bisa cenderung menjadi pribadi yang rendah diri dan merasa diri tidak berharga. Agar pola pikir seperti ini tidak terjadi, perbandingan dan perlakuan yang berbeda karena prestasi akademik seyogianya dihindarkan.

Setiap anak diperlakukan sama. Perbedaan kemampuan akadamik bisa menjadi bahan pelajaran dan inspirasi di antara anggota keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun