Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Love Artikel Utama

Alasannya Tidak Anggap Enteng Luka Batin dari Pasangan Hidup

3 Maret 2021   19:22 Diperbarui: 10 Maret 2021   03:31 836 35 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alasannya Tidak Anggap Enteng Luka Batin dari Pasangan Hidup
ilustrasi terlalu anggap enteng masalah. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Luka batin bisa disebabkan oleh pelbagai faktor. Untuk konteks hidup berkeluarga dalam hal ini relasi suami dan istri, luka batin itu bisa terjadi karena relasi di antara kedua belah pihak. Misalnya, salah satu pasangan mempunyai hubungan tersembunyi dengan pihak ketiga. 

Hal itu diketahui ketika dari relasi terlarang itu terlahir seorang buah hati. Karena tidak siap dengan situasi ini, pasangan yang dikhianati merasa terluka. 

Tak sedikit pasangan yang berupaya berdamai. Namun, upaya damai itu tidaklah gampang. Terlebih khusus kepada pasangan yang dilukai. Luka itu harus disembuhkan dengan selalu menjaga dan membangun relasi yang baik di antara kedua belah pihak.

Akan tetapi, kalau pihak yang bersalah membawa pasangannya kembali pada pengalaman dan situasi yang serupa, luka batin itu bisa berujung pada protes dan pemberontakan.

Ini kisah tentang seorang ibu, ibu dari tiga anak. Ketiganya laki-laki. Yang tertua baru berada di kelas 6 Sekolah Dasar, sementara yang bungsu duduk di kelas 1.

Juga, ini kisah tentang seorang istri, seorang istri yang bersuamikan seorang pria dari pulau berbeda, pria dari budaya yang sangat berbeda dengan dirinya, dan dari seorang pria yang lebih muda dari dirinya.

Enam bulan yang lalu suaminya ini pamit pulang ke kampung halamannya karena ada urusan adat. Di pulau yang jaraknya sejam penerbangan dari pulaunya. 

Ketika urusan adat menjadi alasan, sang istri pun tak bertanya banyak. Selain situasi adat suaminya sama dengan tempat tinggalnya, juga urusan adat sulit didiskusikan. Rencanannya kepulangan itu hanya sepekan.

Sang istri mengiakannya, namun sepekan telah berubah menjadi sebulan. Ketidakpulangannya itu karena adanya pembatasan perjalanan yang mengharuskan mengikuti protokol kesehatan. 

Sebulan berlalu hingga tak terasa enam bulan suaminya itu pergi, jarang kirim pesan singkat, jarang sekali memberi kabar. Kalau dia mengirimkan pesan atau menelpon, suaminya tidak menjawab. Pesan terbaca tetapi tidak dijawab. Hingga, suaminya menyampaikan undangan bagi dirinya dan anak-anak untuk menyusul. Dan undangan itu terlalu berat.

Pasalnya, dia pernah tinggal di tempat asal suaminya. Bukannya hidup damai dan tenteram, dia malah berhadapan dengan situasi yang cukup pelik. Suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Perselingkuhan itu melahirkan buah hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN