Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Memberdayakan Masyarakat untuk Melindungi Tinggalan Arkeologi

15 Februari 2021   09:00 Diperbarui: 15 Februari 2021   12:08 553
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Siswa SD belajar mencari fosil yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi DI Yogyakarta di Situs Patiayam (Foto: jateng.tribunnews.com)

Di antara sejumlah subdisiplin arkeologi, sebenarnya Arkeologi Publik relatif mudah penerapannya. Hal ini karena Arkeologi Publik tidak membutuhkan peralatan canggih, seperti GPS, laboratorium, atau komputer. Tidak pula memerlukan teori-teori rumit untuk menganalisisnya. Satu hal penting untuk mengembangkan Arkeologi Publik hanyalah peran serta masyarakat secara aktif dan positif.

Arkeologi Publik diperkenalkan di dunia Barat pada 1970-an. Konsep dasarnya adalah masa lalu itu milik siapa saja. Karena kita tidak bisa mengingkari masa lalu, maka kita selalu berkepentingan dengan masa lalu. 

Namun hal ini tentunya bukan berarti siapa saja boleh mencemarkan warisan-warisan masa lalu. Termasuk ke dalam istilah mencemarkan antara lain mencuri, menyelundupkan, serta merusakkan artefak, bangunan, dan situs kuno.

Di dunia Barat keberadaan Arkeologi Publik berhasil baik berkat partisipasi masyarakat. Tidak dimungkiri hal ini karena wawasan, tingkat pendidikan, dan pola pikir mereka sudah terbentuk sejak dini. Institusi pendidikan berperan besar. Begitu pun lembaga-lembaga nirlaba, macam Heritage Society atau Heritage Foundation.

Dua siswa sedang belajar cara merekonstruksi gerabah (Foto: bali.tribunnews.com)
Dua siswa sedang belajar cara merekonstruksi gerabah (Foto: bali.tribunnews.com)
Pada dasarnya Arkeologi Publik ditulangpunggungi oleh arkeolog-arkeolog profesional. Namun yang lebih berperan justru adalah arkeolog-arkeolog amatir. 

Arkeolog amatir adalah masyarakat awam yang tidak berlatar pendidikan arkeologi, namun diberi pengarahan tentang arkeologi oleh para arkeolog profesional.

Banyak artefak dan situs purbakala terselamatkan berkat pemantauan yang terus-menerus oleh masyarakat. Pemantauan lebih mudah dilakukan karena masyarakat memang mudah diberi pengertian dan memiliki kesadaran sendiri akan masa lalu mereka.

Selama sepuluh tahun sejak awal pengenalannya, Arkeologi Publik berhasil menyelamatkan sejumlah situs dari proyek-proyek pembangunan fisik. Hal ini karena proyek pembangunan selalu mengalah demi kelestarian situs-situs arkeologi.

Di AS, misalnya, banyak jalan raya terpaksa dibelokkan arahnya agar tidak menerjang situs-situs arkeologi. Meskipun harus mengubah master plan, adanya Arkeologi Publik tetap ditaati. 

Begitu pun pembangunan gedung di Inggris, terowongan bawah tanah di Italia, dan sarana umum di Mesir, semuanya tunduk dan mengacu pada Arkeologi Publik.

Para siswa kelas VI SD Victory Plus menyimak penjelasan tentang apa itu arkeologi dari Kak Berty Sinaulan (Foto: Victory Plus/Kompasiana)
Para siswa kelas VI SD Victory Plus menyimak penjelasan tentang apa itu arkeologi dari Kak Berty Sinaulan (Foto: Victory Plus/Kompasiana)
Di Indonesia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun